Artikel

Cerita Seribu Kantong Lada di Balik Prasasti Padrão

Muhamad Satok Yusuf| 11 April 2023

Pernah mendengar cerita tentang Prasasti Padrão? Prasasti ini merupakan satu-satunya monumen bukti hubungan Kerajaan Sunda dengan Kerajaan Portugal pada awal abad XVI. Prasasti ditemukan pada tahun 1918 di dekat persimpangan Prinsenstraat (sekarang Jalan Cengkih) dengan Groenestraat (sekarang Jalan Kali Besar Timur I) Jakarta Barat.

Batu prasasti setinggi 165 cm ini memang menarik. Isinya hanya berupa gambar bola dunia, salib, tulisan DSPOR, ESFERЯa/Mo. Ternyata, simbol-simbol tersebut memiliki makna khusus. Bola dunia (armillarium) merupakan lencana Raja Manuel I dan João dari Kerajaan Portugal. Tulisan DSPOR (Do Senhario de Portugal) berarti Penguasa Portugal. Tulisan ESFERЯa/Mo merupakan singkatan dari bola dunia (Esfera do Mundo) dan harapan dunia (Espera do Mundo). Lantas, apa maksud tulisan-tulisan tersebut?

Kalau kita merunut pada naskah perjanjian antara Kerajaan Sunda dan Portugal yang ditandatangani pada 21 Agustus 1522, maka kita akan mendapatkan informasi terkait alasan keberadaan batu prasasti Padrão. Menurut transkripsi yang tertuang dalam Archivo Nacional da Torre do Tombo ácerca das Navegações e Conquistas Portuguezas tahun 1892, diberitakan bahwa Raja Samio (Surawisesa) pada 1521 mengundang pihak Portugis yang baru saja menduduki Malaka tahun 1511. Tujuannya untuk meminta bantuan Portugis dalam menangkis serangan Demak dan Cirebon terhadap Sunda.  

Enrique Leme sebagai pimpinan Portugis di Malaka menerima undangan tersebut, bahkan membuat dua eksemplar surat perjanjian hasil pertemuan mereka. Prasasti Padrão tersebut merupakan titik penanda rencana Portugis untuk membangun benteng di muara Sungai Ciliwung di Kalapa (sekarang Jakarta), sebagai garda keamanan terdepan Kerajaan Sunda. Selanjutnya, Raja Samio (Surawisesa) harus memberikan seribu kantong lada kepada Portugis sebagai tanda kesepakatan atas perjanjian tersebut. Mengapa harus lada? Rempah dari Sunda memiliki kualitas bagus yang dapat menyaingi lada India, serta harganya mengalahkan emas di pasar Eropa

Lada sudah diberi, nyatanya Sunda tetap mati. Nahas, belum juga Portugis membangun benteng di Kalapa karena sedang mengurusi masalah daerah jajahan di Goa (India), Sunda kalah tatkala Fatahillah yang memimpin pasukan Demak dan Cirebon menguasai Kalapa, 22 Juni 1527. Ia kemudian mengganti nama wilayah itu menjadi Jayakarta sebagai simbol pencapaian keberhasilan. 

Serangan tersebut bukan tanpa alasan sebab Portugis yang mulai menjamah Kalapa dapat menjadi ancaman terbesar bagi Jawa, terlebih ia telah berhasil menguasai bandar di Malaka. Peristiwa serangan Fatahillah dalam rangka mengusir Portugis dari tanah Kalapa itulah yang kemudian dijadikan hari jadi berdirinya Jakarta, 22 Juni 1527.

Cerita tentang Prasasti Padrão menarik, bukan? Dari politik relasi lada internasional, kemudian berbuah pada perang memperebutkan tanah. Banyak hikmah yang dapat kita petik dari cerita lada Sunda dan Padrão ini.

 

_________

Ditulis oleh Muhammad Satok Yusuf, denjatayu2@gmail.com

Editor: Dian Andika Windah & Tiya S.

Sumber gambar: Museum Nasional

Konten ini dibuat oleh kontributor website Jalur Rempah.
Laman Kontributor merupakan platform dari website Jalur Rempah yang digagas khusus untuk masyarakat luas untuk mengirimkan konten (berupa tulisan, foto, dan video) dan membagikan pengalamannya tentang Jalur Rempah. Setiap konten dari kontributor adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.

Bagikan:

Artikel Populer

Malam Bakupas, Ruang Keterikatan Masyarakat Minahasa dengan Rempah

21 Februari 2023

Untold Story: Burung Cenderawasih dalam Perdagangan Rempah Masa Silam

25 Oktober 2022

Malam Puncak Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia

30 Oktober 2021

Artikel Terbaru

Muhibah Budaya Jalur Rempah di Sabang, Nostalgia KRI Dewaruci Menyambangi Perairan Aceh 70 Tahun Lalu

23 Juni 2024

Kemendikbudristek Lepas Pelayaran Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024

8 Juni 2024

Jelang Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024, Kemendikbudristek Siapkan Pembekalan Materi Kepada Laskar Rempah

6 Juni 2024

Artikel Terkait

...

Malam Puncak Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia

admin

30 Oktober 2021

...

Jukut Harsyan (Sup Bebek Rempah): Kajian Historis dan Perkembangannya pada Masa Jawa Kuno hingga Masa Kini

admin

15 Maret 2022

...

Antusias Laskar Rempah dan Masyarakat Banda Naira Saksikan Lomba Belang Adat dalam Muhibah Budaya Jalur Rempah

admin

21 Juni 2022