Artikel

Gong Nekara Selayar, Jejak Jalur Rempah di Masa Lampau

admin | 11 Oktober 2020

Kepulauan Selayar yang kini adalah salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan merupakan salah satu titik penting dalam lalu lintas pelayaran di nusantara. Namanya tercantum dalam kitab kuno Nagarakretagama 1365 yang disebut sebagai Salaya. Tidak hanya Salaya, tetapi beberapa daerah di Sulawesi juga disebutkan dalam kitab tersebut, seperti Luwuk, Makassar, dan Butun. 

Menurut Dr. ABD. Rahman Hamid, M.Si, dosen sekaligus peneliti di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, dalam webinar Dari Selayar ke Makassar, Jejak Rempah Mendunia, disebutkannya Selayar dalam kitab Kerajaan Majapahit bisa memiliki dua arti, pertama, sebagai pelabuhan yang pernah disinggahi oleh para pedagang dari Jawa. Kedua, hadirnya pelaut-pelaut dari Selayar yang pernah beraktivitas di pelabuhan-pelabuhan di Jawa. 

Dalam sejarahnya, kehadiran Selayar menjadi titik collecting centre berperan dalam mengumpulkan komoditas yang kemudian akan dikirimkan ke pelabuhan internasional, yang dalam hal ini adalah Makassar. Tidak hanya sebagai collecting centre, Selayar juga menjadi tempat singgah bagi kapal-kapal kayu saat itu untuk mendapatkan perbaikan sebelum melanjutkan perjalanan ke barat maupun ke timur. Lokasi Selayar yang strategis menjadi incaran bagi kerajaan-kerajaan besar karena dapat menentukan aktivitas pelayaran.

Beberapa bukti yang semakin memperkuat posisi Selayar dalam jalur pelayaran nusantara, salah satunya adalah dengan ditemukannya Nekara Perunggu / gong nekara Selayar yang kini berada di Gong Nekara Perunggu, Kepulauan Selayar. Nekara Perunggu ditemukan oleh salah seorang warga di Kampung Rea-Rea pada tahun 1686 dan dijadikan sebagai benda pusaka Kerajaan Putabangun. Karena terjadinya integrasi antara Kerajaan Putabangun dan Kerajaan Bontobangun sebagai pusat kerajaan, maka Nekara Perunggu dipindahkan ke Bontobangun.

Nekara Perunggu dibuat di Xianji, Cina pada zaman prasejarah sekitar 300 tahun SM. Sumber lainnya menyebutkan bahwa nekara ini diproduksi 600 tahun SM dari kebudayaan Dong Son di Vietnam dan menjadi nekara terbesar di Asia Tenggara, bahkan di dunia. Persebaran nekara di wilayah Asia Tenggara sangat banyak, sedangkan di Indonesia sendiri terdapat 40 buah nekara yang tersebar dari Sumatera hingga Papua. 

Persebaran nekara diperkirakan karena terjadinya jalur perdagangan ataupun adanya hubungan bilateral kerajaan pada masa lampau. Adanya hubungan antarkerajaan ini semakin diperkuat dengan adanya simbol perpaduan unsur budaya dari Indonesia, Cina, dan Vietnam di tubuh Nekara Perunggu, seperti pohon kelapa, kenari, burung, gajah (Indonesia), bulu burung yang disematkan mahkota kepala suku (Cina), serta beberapa simbol sisanya dari Vietnam. 

Terdapat dua legenda dari dua sumber berbeda mengenai keberadaan gong nekara Selayar. Legenda pertama berasal dari Sawerigading pada periode La Galigo yang diperkirakan berlangsung pada abad ke-7 sampai ke-10. Legenda ini menceritakan mengenai Sawerigading sebagai tokoh utama dalam perwujudan tata tertib dan penataan pertama masyarakat Bugis-Makassar di Sulawesi Selatan. Sedangkan legenda kedua berasal dari naskah Hukum Pelayaran dan Perdagangan Ammana Gappa pada abad ke-17 yang menyebutkan Pulau Selayar sebagai salah satu daerah tujuan perdagangan karena letaknya yang strategis untuk lalu lintas pelayaran dari timur ke barat dan sebaliknya. 

Dari kedua legenda tersebut memberikan gambaran mengenai peran dan hubungan Selayar dengan daerah-daerah lain di nusantara dan Asia Tenggara. Menurut legenda yang berkaitan dengan nekara perunggu, diceritakan saat Sawerigading bersama istrinya, We Cuddai dan ketiga anaknya, La Galigo, We Tenri Dio dan We Tenri Balobo melakukan perjalanan dari Cina ke Luwuk dan singgah di Selayar, tepatnya di Putabangun dan membawa nekara perunggu besar. 

Apabila dilihat lebih seksama, gong nekara Selayar memiliki detail yang tersusun dari kaki berbentuk lingkaran dan melebar keluar, badan melingkar seperti silinder dengan bahu yang berbentuk cembung. Berbagai hiasan pada badan nekara terdiri dari garis-garis geometris, tumpal, spiral, kotak persegi, dan hiasan berbentuk huruf L. Terdapat juga gambar hewan dan tumbuhan, seperti 16 ekor gajah, 54 ekor burung, 11 buah pohon sirih, dan 18 ekor ikan. Di bagian lain nekara, terdapat empat arca daun telinga yang berfungsi sebagai pegangan. Nekara perunggu disebut juga sebagai nekara hujan karena memiliki bidang pukul yang menyerupai bentuk matahari dan arca kodok di bagian atas (permukaan) nekara yang dimaknai sebagai simbol air.

Terdapat kepercayaan di masyarakat bahwa nekara yang terdapat di Selayar dan Vietnam merupakan pasangan “suami-istri”. Gong nekara Selayar sebagai “suami” karena memiliki hiasan katak dan berukuran lebih besar. Sementara itu, nekara di Vietnam disebut sebagai istri karena tidak memiliki hiasan katak di bagian atasnya dan berukuran lebih kecil. Nekara sendiri berfungsi dalam ritual keagamaan, simbol status sosial, isyarat perang, dan penunjuk arah mata angin. 

 

Sumber:


Budaya Saya, 2020, Webinar Dari Selayar ke Makassar, Jejak Rempah Mendunia, 25 September 2020, https://www.youtube.com/watch?v=vKnXKhV1Irg&t=1345s 

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kepulauan Selayar Sulawesi Selatan, 2013, Obyek-Obyek Wisata Budaya Kepulauan Selayar, Selayar.

UPT Museum Nekara Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kepulauan Selayar, Museum Nekara Kabupaten Kepulauan Selayar.


Naskah: Putri A. Fitriah
Editor: Tiya Septiawati

Bagikan:

Konten Populer

Revitalisasi Ekonomi Politik Jalur Rempah Maritim

7 Februari 2022

Pelajaran Toleransi dari Batik Tiga Negeri

28 Februari 2022

Pesona dan Kisah Rempah-rempah di Negeri Laskar Pelangi

22 Desember 2020

Konten Terbaru

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

26 Januari 2023

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

19 Januari 2023

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

12 Januari 2023

Konten Terkait

...

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

merry kurnia

12 Januari 2023

...

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

Royas Aulia Subagja

26 Januari 2023

...

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

Achmad Khalik Ali

19 Januari 2023