Artikel

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

Merry Kurnia| 12 Januari 2023

Rempah yang umumnya dikenal masyarakat hanya sebagai bumbu, ternyata mempunyai cerita panjang yang mewakili perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Negara kaya yang bergelar zamrud khatulistiwa ini menjadi magnet bagi para pengelana belahan dunia lainnya untuk datang dan menikmati rempah yang tumbuh subur di tanahnya. Dalam perjalanannya, rempah menjadi simbol kekuasaan dan melahirkan identitas bangsa Indonesia. 

Sebelum rempah muncul sebagai komoditas primadona, menurut catatan kuno Mesir, Tiongkok, Mesopotamia, India, Yunani, Romawi, dan Jazirah Arab, rempah-rempah pada mulanya hanya dipercaya sebagai panacea (obat penyembuh) daripada pemberi rasa makanan (Rahman, 2019: 349). Seiring perkembangan dan kebutuhan, dilakukan eksplorasi secara masif terhadap rempah. Rempah kemudian terus berkembang menjadi kebutuhan penting masyarakat, baik sebagai pengawet makanan, maupun penambah cita rasa masakan, minuman, obat-obatan, dan sebagainya. Wangi rempah yang semerbak menjadikan nilai rempah sejajar dengan emas. Hal itu melahirkan kompetisi bangsa-bangsa dari seluruh penjuru dunia untuk berburu rempah. 

Salah satunya adalah wilayah pantai barat Sumatra. Sebelum hadirnya bangsa Barat, di wilayah ini pernah terjalin hubungan niaga antara bangsa Timur dengan masyarakat pesisir pantai. Hal tersebut nampak dari kapal-kapal pedagang Cina, India, dan Arab yang bersandar meramaikan pelabuhan-pelabuhan di area pantai barat Sumatra. Selain itu, disebutkan pula bahwa Barus[1] merupakan salah satu daerah di pantai barat Sumatra yang menjadi penghubung pedagang antarpulau dan antarnegara. Hal itu sesuai dengan informasi dalam Dunia Maritim Pantai Barat Sumatra, yang menerangkan Barus sebagai negeri penghasil kapur barus (dupa) terbesar di dunia (Asnan, 2007: 207). 

Berdasarkan peta wilayahnya, kawasan pantai barat Sumatra tidak hanya memiliki akses yang baik dengan dunia luar, tetapi juga memiliki hubungan kuat dengan wilayah pedalaman dan menjadi arena perdagangan bagi tiga simpul masyarakat antara pedalaman, pesisir, dan asing. Pantai barat Sumatra memiliki banyak jalan yang menghubungkan pusat-pusat pemukiman penduduk. Beberapa ruas jalan yang digunakan sejak lama adalah antara Singkel–daerah PakPak, Sibolga–Sipirok–Angkola, Natal–Mandailing, Air Bangis–Pasaman–Rao, Tiku-Agam, Pariaman–Padang–Tanah Datar–Solok, Bandar Sepuluh–Sungai Pagu (Solok Selatan), Indrapura–Kerinci, Bengkulu–Pasemah, serta Kroe–Pedalaman Lampung. Kawasan-kawasan tersebut memiliki jumlah penduduk yang lebih banyak dari masyarakat pantai dan mempunyai komoditas yang dibutuhkan dunia luar, yaitu rempah. 

Selain itu, masyarakat di pedalaman merupakan konsumen berbagai barang dari pantai dan yang didatangkan dari dunia luar (Asnan, 2002: 735). Kontak dagang itu mempertautkan masyarakat pesisir, pedalaman, dan masyarakat asing. Pantai barat Sumatra dikunjungi para pedagang dari berbagai belahan dunia, baik dari timur, hingga ke barat. Wilayah pesisir pantai juga terhubung ke pedalaman dengan jumlah penduduk yang relatif lebih banyak dari pada pesisir pantai. Wilayah pedalaman berperan sebagai produsen yang membawa hasil tanaman (berbagai tanaman rempah dan kebutuhan hidup) yang kemudian dapat dibarter dengan produk-produk dari pesisir, seperti garam, ikan kering, kain, dan lain-lain. Sebagai ruang niaga, lokasi ini memberi dampak terbukanya jalan-jalan setapak di pedalaman pantai barat Sumatra. Saat itu, jalan-jalan tersebut digunakan sebagai fasilitas untuk mengakses wilayah pesisir. Menurut Tambo (historiografi tradisional Minangkabau), disebutkan bahwa sampai pertengahan abad XIX terdapat lima kelompok jalan setapak yang menghubungkan pantai dengan pedalaman. Hadirnya beberapa pelabuhan dagang di tepi laut adalah bukti ketergantungan terhadap hasil pedalaman[2] sehingga menjadi representatif hubungan ekonomi baru dalam mempertegas fungsi jalan setapak sebagai jalan dagang (Asnan, 2002: 737–739). 

Selaras dengan informasi itu, disebutkan bahwa orang pedalaman Minangkabau silih berganti mengirimkan gambir, kamper, rotan, dan lada yang didapatkan dari dalam hutan ke bandar-bandar di sepanjang pesisir barat. Meskipun berada di pedalaman, mereka mempunyai tradisi maritim yang berhubungan erat dengan bandar-bandar di pesisir pantai. Tradisi maritim tersebut dikisahkan dalam dendang-dendang pengelana, pedagang, pelaut-pelaut dan orang-orang yang jauh dari rumah (Headler, 2010: 6).

Rempah menjadi komoditas berharga dan menjelma menjadi ratu komoditas yang dicari orang-orang dari berbagai belahan dunia. Rempah yang membuat pelayaran ramai, pelabuhan dipadati kapal, dan terikatnya simpul-simpul kuat dari pedagang luar, pesisir pantai, hingga pedalaman. Banyak yang lahir dari rempah, bukan hanya perdagangan, tetapi juga budaya, agama, kuliner, hingga eksploitasi. Pantai barat Sumatra pada masanya mempunyai peran penting dalam sejarah rempah, hingga kini tinggalan materinya masih bisa kita lihat dan jejak-jejak sejarahnya banyak yang masih tenggelam dalam lautan, menunggu untuk ditemukan dan dirangkai menjadi sejarah. Dengan menyibak kembali Jalur Rempah, berarti membangkitkan kisah lampau yang berperan menanamkan kesadaran masyarakat untuk senantiasa bersyukur terhadap potensi alam dan berguru ke masa lalu sehingga dapat mempertahankan identitas kebangsaan di masa kini.   

 

_________

Sumber Referensi:

Asnan, Gusti. 2007. Dunia Maritim Pantai Barat Sumatera. Yogyakarta: Ombak.

Hadler, Jeffrey. 2010. Sengketa Tiada Putus: Matriarkat, Reformisme Agama, dan Kolonialisme di Minangkabau, Jakarta: Freedom Institute.

Rahman, Fadly. 2019. “Negeri Rempah-Rempah dari Masa Bersemi hingga Gugurnya Kejayaan Rempah-Rempah”. Jurnal Patanjala.

 

_________

Ditulis oleh Merry Kurnia, merrykurnia86@gmail.com

Editor: Wardani Pradnya Dewi & Tiya S.

Sumber gambar: digitalcollections.universiteitleiden.

Konten ini dibuat oleh kontributor website Jalur Rempah.
Laman Kontributor merupakan platform dari website Jalur Rempah yang digagas khusus untuk masyarakat luas untuk mengirimkan konten (berupa tulisan, foto, dan video) dan membagikan pengalamannya tentang Jalur Rempah. Setiap konten dari kontributor adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.

Bagikan:

Artikel Populer

Gerak Sigap Pemerintah Aceh untuk Program Jalur Rempah

13 Desember 2020

Online Marketplace Masa Lalu: Kisah Bandar di Sunda Kelapa dan Banten

7 Januari 2021

Base Genep: Mencecap Sepiring Filosofi Rempah di Bali

29 Juli 2021

Artikel Terbaru

Muhibah Budaya Jalur Rempah di Sabang, Nostalgia KRI Dewaruci Menyambangi Perairan Aceh 70 Tahun Lalu

23 Juni 2024

Kemendikbudristek Lepas Pelayaran Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024

8 Juni 2024

Jelang Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024, Kemendikbudristek Siapkan Pembekalan Materi Kepada Laskar Rempah

6 Juni 2024

Artikel Terkait

...

Base Genep: Mencecap Sepiring Filosofi Rempah di Bali

admin

29 Juli 2021

...

Kejayaan Komoditas Gula pada Masa Perdagangan Rempah

EKO SETYO NURKHAMDANI

11 Januari 2023

...

Budaya Cina dan Minangkabau Berkelindan di Kampung Cina Padang

Merry Kurnia

17 Maret 2023