Artikel

Luwu dan Luwuk Banggai, Pengekspor Besi Tersohor di Masa Lampau

admin | 16 Oktober 2020

Luwu dan Banggai merupakan dua wilayah yang berperan penting dalam jejaring perdagangan rempah di masa lampau. Terletak di posisi yang strategis, yaitu di timur Pulau Sulawesi dan berhadapan dengan Laut Maluku yang menghubungkan Ternate dan Makassar, menjadikan Banggai dan Luwu sebagai destinasi banyak pedagang lokal maupun asing.

Letak geografis yang cukup strategis tersebut memberi keuntungan bagi Banggai sebagai daerah transit pelayaran. Jaringan pelayaran dan perdagangannya telah ramai bahkan pada abad ke-14, faktor ini juga didorong bahwa Banggai sebagai penghasil bijih besi yang merupakan salah satu komoditas perdagangan utama. Bahkan abad ke-16, perdagangan ekspor besi telah dikuasai Banggai.

Beberapa sumber menjelaskan bahwa Banggai telah dikenal pada abad ke-14. Sumber utama terdapat dalam naskah Nagarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapañca pada tahun 1287 Saka (1365 M). Dalam naskah tersebut, pupuh 14 bait 5, disebutkan Banggawi—merujuk kepada Banggai—dikategorikan sebagai saka sanusa nusa atau daerah pulau-pulau. 

Salah satu hasil produksi yang membuat Banggai dan Luwu tersohor adalah produksi alat-alat pertaniannya. Wilayah ini dikenal sebagai daerah pengekspor besi dan menjadi komoditas penting di masa itu. Peralatan pertanian yang dibuat oleh pandai besi di Banggai dan Luwu, di pesisir Sulawesi bagian timur, yaitu kapak besi, pedang, dan pisau. Kepandaian orang Banggai dan Luwu dalam memproduksi alat pertanian sangat dikenal oleh pedagang-pedagang dari kepulauan lainnya.

Bahkan, orang-orang Banda pada paruh pertama abad ke-15 dengan proa (kapal kecil) bermuatan 16 hingga 24 ton datang ke Kepulauan Banggai untuk mendapatkan budak, pisau, dan pedang besi. Barang dagangan itu ditukarkan oleh orang-orang Banda dengan kain Gujarat, tenun kasar, dan manik-manik. 

Tak berhenti sampai di situ, besi yang berasal dari Banggai dan Luwu juga digunakan sebagai bahan pembuatan keris. Pada pertengahan abad ke-17, “besi Luwu” merupakan salah satu ekspor utama dari Makassar ke Jawa bagian timur. Besi yang lebih murah pada waktu itu sudah mulai hadir dari Cina dan Eropa, namun para pembuat keris di Jawa tampaknya lebih menyukai besi Sulawesi yang banyak mengandung kandungan nikel untuk membuat keris yang berpamor. Bahkan, keris Majapahit konon berasal dari Sulawesi bagian tengah. 

Bijih besi laterit yang kandungan besinya mencapai 50 persen dengan lapisan nikel, banyak ditemukan dekat permukaan di tepi Danau Matano dan di bagian hulu Sungai Kalaena. Besi dari Sulawesi bisa diekspor melalui Teluk Bone, yang dikuasai oleh Kerajaan Luwu, atau melalui pantai timur Sulawesi yang pada abad ke-16 dikuasai oleh Kerajaan Banggai. 

Banggai dan Luwu disebutkan dalam Nagarakretagama sebagai pembayar upeti kepada Majapahit. Hal ini menunjukkan bahwa ekspor besi dan persenjataannya berasal dari sumber yang sama. “Besi dalam jumlah besar berasal dari luar, dari Kepulauan Banggai, kapak besi, parang, pedang dan pisau.” 

Pelayaran dan perdagangan Banggai yang telah berlangsung dalam masa sebelum abad ke-19 ini, merupakan faktor penting dalam menggerakkan jalur-jalur yang menghubungkan sejumlah pelabuhan dan membentuk dinamika di kawasan timur Sulawesi. 

Para pedagang dan pendatang dari Bugis, Buton, Gorontalo, Mandar, Bajo, Cina, dan Arab, berperan besar dalam pengembangan jaringan pelayaran dan perdagangan Banggai. Dalam jaringan itu pula, berlangsung komunikasi para pedagang yang berasal dari berbagai suku bangsa yang menetap dan mendirikan perkampungan di Banggai.

Kondisi ini melahirkan situasi baru melalui perjumpaan intensif antara pendatang baru dan penduduk setempat sehingga menghasilkan proses kultural yang dinamis dan majemuk. Beberapa situs peninggalan masa lalu di Banggai pun masih bisa kita lihat hingga kini, salah satunya Kompleks Makam Raja Banggae. 

 

Sumber:


Razif & M. Fauzi. 2017. Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Adat Abad X-XVI: Kepulauan Banda, Jambi dan Pantai Utara Jawa. Direktorat Sejarah.


Naskah: Tiya Septiawati

Editor: Doni Ahmadi

Bagikan:

Konten Populer

Memaknai Kembali Rumah Indonesia dari Rumah di Tanah Rempah

7 Maret 2021

Gong Nekara Selayar, Jejak Jalur Rempah di Masa Lampau

11 Oktober 2020

Dari Banda Neira, Arka Kinari Bertolak ke Kabupaten Kepulauan Selayar

30 September 2020

Konten Terbaru

Malam Puncak Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia

30 Oktober 2021

Bukti Linguistik Muasal Pala dan Cengkih

29 September 2021

Pameran Kolaborasi Rempah Nusantara Resmi Dibuka pada Simposium Internasional UNUSIA 2021

31 Agustus 2021

Konten Terkait

...

Pameran Kolaborasi Rempah Nusantara Resmi Dibuka pada Simposium Internasional UNUSIA 2021

admin

31 Agustus 2021

...

Bukti Linguistik Muasal Pala dan Cengkih

Gufran A. Ibrahim

29 September 2021

...

Malam Puncak Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia

admin

30 Oktober 2021