Artikel

“Negeri di Bawah Angin”: Nusantara dan Pengaruh Angin dalam Jalur Perdagangan Rempah

Jeane Prisilia Pombaela| 1 November 2022

Nusantara kerap dijuluki sebagai “Negeri di Bawah Angin”, meskipun sampai saat ini penulis belum menemukan alasan pasti mengapa Nusantara mendapat julukan tersebut. Satu yang pasti, narasi “Negeri di Bawah Angin” ini berkaitan erat dengan jalur pelayaran perdagangan dan pencarian rempah-rempah ke Nusantara. Hal ini terbukti dari relief pada Candi Borobudur yang mengukir jalur perdagangan laut kuno ini  (tulis J.C. van Leur dalam Indonesia Trade and Society (1983). Alasan ini juga dikuatkan dengan fakta-fakta mengenai perdagangan dan perburuan rempah, di mana pengaruh angin sebagai navigasi kapal.

Pada masa lampau, angin barat daya membawa kapal dari India ke Nusantara. Namun, untuk kembali lagi ke daerah asal, mereka harus menunggu angin balasan, yaitu angin timur laut untuk membawa kapal mereka pulang. Pemahaman dan pengetahuan mengenai pengaruh angin ini merupakan kunci dari sebuah pelayaran. Karakteristik angin yang bisa membawa datang dan pulang kapal pedagang asing di Nusantara pada masa itu sudah pakem dipahami oleh para pelaut.

Pola angin di Nusantara memiliki pola unik yang membuatnya sedikit berbeda dengan daerah tropis lainnya. Mengutip (Lapian, 2021: 2), Nusantara merupakan daerah khatulistiwa yang merupakan wilayah kekuasaan angin pasat: di sebelah selatan angin pasat tenggara dan di sebelah utara dari garis ekuator angin pasat timur laut yang bertiup sepanjang tahun. Pertemuan dua angin ini disebut intertropical front dan merupakan daerah angin mati. 

Ada dua faktor yang menyebabkan pola angin Nusantara berbeda. Pertama, peredaran bumi mengitari matahari yang menyebabkan “daerah angin mati” itu berpindah-pindah dari Lintang Mengkara (Tropic of Cancer) ke Lintang Jadayat (Tropic of Capricorn) sehingga angin pasat tenggara pada waktu melintasi garis khatulistiwa akan berubah menjadi barat daya, sedangkan apabila angin pasat timur laut melintasi khatulistiwa dalam perjalanan ke selatan, ia akan berubah menjadi angin barat laut. Kedua, lokasi Indonesia yang berada di antara dua kontinen, Asia dan Australia. Iklim panas di salah satu benua ini akan mengakibatkan suatu tekanan rendah yang cukup memengaruhi daerah angin mati bergeser lebih jauh ke selatan atau utara menurut musimnya sehingga mengubah arah angin yang bersangkutan (Lapian, 2021: 2–3). 

Dengan pemahaman pengaruh angin ini, pelaut bisa melakukan perjalanan ke timur Indonesia untuk mencari rempah-rempah pada bulan Maret dengan memanfaatkan angin barat. Sebaliknya, bulan Oktober, para pelaut bisa lepas jangkar berangkat dari Maluku menuju pusat-pusat perdagangan dan pertukaran rempah di Makasar, Gresik, Demak, Banten sampai ke Malaka dan kota-kota lain di sebelah barat (Lapian, 2021: 2–3). 

Pengaruh angin ini juga menjadi salah satu alasan wilayah barat Indonesia memiliki perkembangan yang lebih maju dari wilayah timur Indonesia. Hal ini disebabkan karena posisi strategis maritim yang dipengaruhi arah angin yang berada di selat Malaka (kawasan barat) dan di sinilah kapal-kapal dari segala penjuru bertemu (Zuhdi, 2020: 21).


_________

Sumber:

Lapian, A.B. (2021). Pelayaran dan perniagaan Nusantara abad ke-16 dan 17. Komunitas Bambu.

National Geographic Indonesia. 2016. “Saksi Bisu yang Mengungkap Jalur Dagang "Negeri di Bawah Angin". National Geographic Indonesia, dilihat September 30 2022, https://nationalgeographic.grid.id/read/13306448/saksi-bisu-yang-mengungkap-jalur-dagang-negeri-di-bawah-angin.

Zuhdi, S. (2020). Rempah Nusantara Merajut Dunia. Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

_________

Ditulis oleh Jeane Prisilia Pombaela, Laskar Rempah Sulawesi Tengah.

Editor: Tiya S.

Sumber gambar: Carte Des-Isles de la Sonde, et des Isles Moluques oleh Rigobert Bonne (1780) / Wikimedia Commons.

Konten ini dibuat oleh kontributor website Jalur Rempah.
Laman Kontributor merupakan platform dari website Jalur Rempah yang digagas khusus untuk masyarakat luas untuk mengirimkan konten (berupa tulisan, foto, dan video) dan membagikan pengalamannya tentang Jalur Rempah. Setiap konten dari kontributor adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.

Bagikan:

Artikel Populer

Muhibah Budaya Jalur Rempah Resmi Berlayar pada Hari Lahir Pancasila

1 Juni 2022

Pulau Ternate, Kota Dagang & Titik Temu Pedagang Nusantara dan Asing

21 Oktober 2020

Pameran Kolaborasi Rempah Nusantara Resmi Dibuka pada Simposium Internasional UNUSIA 2021

31 Agustus 2021

Artikel Terbaru

Muhibah Budaya Jalur Rempah di Sabang, Nostalgia KRI Dewaruci Menyambangi Perairan Aceh 70 Tahun Lalu

23 Juni 2024

Kemendikbudristek Lepas Pelayaran Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024

8 Juni 2024

Jelang Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024, Kemendikbudristek Siapkan Pembekalan Materi Kepada Laskar Rempah

6 Juni 2024

Artikel Terkait

...

Pameran Kolaborasi Rempah Nusantara Resmi Dibuka pada Simposium Internasional UNUSIA 2021

admin

31 Agustus 2021

...

Gigi Balang: Jejak Budaya Melayu di Tanah Betawi

Mohammad Resyad G. M.

28 September 2022

...

Seminar Internasional Dunia Melayu dalam Jaringan Perdagangan Rempah Dunia: Jalur Rempah, Perannya dalam Dunia Kesehatan, dan Peluang di Masa Depan

admin

21 September 2022