Artikel

Peran Dokter dalam Penjelajahan Bangsa Eropa di Jalur Rempah

admin | 4 Februari 2021

Keterlibatan para dokter kerap dilupakan dalam praktik penjelajahan yang dilakukan oleh bangsa Eropa sejak abad ke-16. Padahal dalam setiap kapal yang berlayar, kehadiran seorang dokter merupakan sebuah keniscayaan. Mereka bertugas memastikan kesehatan para awak kapal selama di perjalanan hingga sampai di tempat tujuan dan kembali. 

Lebih dari itu, para dokter ini juga melakukan penelitian tentang sejarah alam (natural history), misalnya untuk mengetahui tumbuhan apa saja yang memiliki khasiat pengobatan atau hal-hal lain yang menarik perhatian mereka ketika menginjakan kakinya di lingkungan baru dan sangat asing.

Dalam penjelajahan bangsa Eropa ke Timur sampai ke Nusantara, termasuk penjelajahan yang dilakukan VOC, keberadaan para dokter bisa ditemui dalam setiap kapal yang milik perusahaan dagang ini. Lebih dari itu, perusahaan dagang ini bahkan memberi tugas tambahan khusus kepada para dokter dan apoteker yang ikut serta berada di kapal, yakni, ”agar mereka membawa serta ranting dengan daunnya, diletakan di antara kertas… Terutama rempah-rempah yang dicari: lada, pala, bunga pala, cengkeh dan kayu manis, tetapi juga dari tanaman menarik lainnya. Agar mereka juga membuat ilustrasi, dan mencatat nama dan kegunaan lokal, dan bagaimana dan di mana ia tumbuh”. Draf yang menjadi pegangan para pegawai VOC ini disusun oleh Carolus Clusius (1526-1609), seorang prefek di Leiden Botanical Garden dan Profesor Kehormatan di Universitas Leiden (Baas dan Veldkamp, 2013, p. 10).

Jacobus Bontius adalah salah satu dokter sekaligus pegawai VOC yang paling dikenal karena kegigihannya memadukan antara hasrat untuk meneliti sejarah alam dan merawat mereka yang sakit. Karya monumentalnya, De Medicina Indorum, memberi gambaran tentang pengamatan terkait penyakit yang menyebar di Batavia, perawatan terhadap si sakit yang ia lakukan, sampai dengan penggambaran alam, terutama berkaitan dengan tumbuh-tumbuhan yang dianggap memiliki khasiat pengobatan. Dalam ulasannya tentang rerumputan di Jawa, misalnya, ia menulis bahwa tumbuhan yang kerap tidak dianggap penting itu sebetulnya memiliki kemampuan mengobati ginjal dan sakit pada kandung kemih. Jenis rerumputan yang ia sebut sebagai gramen cruciatum merupakan jenis yang paling banyak menyebar di Jawa dan juga di Mesir. 

Apa yang dilakukan oleh Bontius sebetulnya biasa saja, mengingat dirinya juga mendapat pendidikan sebagai seorang dokter sebelum ikut berlayar ke Nusantara. Perlu disampaikan bahwa pendidikan dokter pada masa itu merupakan kombinasi dari kerja praktis (ars)–seperti cara mengobati si sakit yang karenanya mengharuskan mereka memiliki pengetahuan terkait kegunaan tumbuhan, hewan, dan mineral untuk itu–dan teoritis (scientia)–pengetahuan tentang sehat dan penyakit itu sendiri yang diperoleh melalui spekulasi filosofis melainkan penyelidikan alam. Ini terkandung, misalnya, dari kata physicians yang berasal dari bahasa Yunani, physics, yang berarti pengetahuan tentang alam. Oleh karena itu, seorang dokter akan menjadikan aktivitas sehari-harinya untuk menyelidiki alam dengan tujuan memberi kesembuhan bagi orang sakit.

Meskipun demikian, tentu saja bukan hanya mereka yang memiliki pendidikan di bidang kedokteran yang kemudian melakukan penelitian itu. Rumphius, yang bergabung dengan VOC sebagai pedagang, kemudian malah menjadi seorang naturalis terkenal. Ketabahannya sebagai seorang peneliti yang memiliki rasa penasaran tinggi membuat ia bisa mengumpulkan banyak material, mulai dari flora, fauna, dan mineral yang ia temui sepanjang pelayaran dan perjalanannya. Meski perhatian utamanya lebih ditujukan ke jenis tanaman yang ada di Hindia, mulai dari mengumpulkannya, membuat klasifikasi, sampai dengan kegunaannya oleh penduduk lokal, menjadi fokus utama karya monumentalnya Herbarium Amboinense. Naskahnya yang selesai ditulis pada 1690 ini pada akhirnya sampai ke Belanda enam tahun kemudian, dan baru dipublikasikan empat puluh lima tahun kemudian, pada 1741. Rumphius yang meninggal tahun 1702 tidak pernah melihat karyanya diterbitkan. 

jalur rempah, penjelajahan bangsa eropa, spice routes, age of discovery, age of exploration

Source: Shutterstock

Apa yang dilakukan oleh VOC pada masa lampau itu merupakan perwujudan dari pentingnya pengetahuan tentang alam yang berarti juga pengetahuan tentang sumber-sumber ekonomi dari wilayah tersebut. Pada masa itu, pengetahuan mengenai rahasia alam merupakan komoditas yang cukup berharga. Itulah mengapa, karya yang memuat keragaman dan kekayaan botani di Nusantara ditunda penerbitannya, karena perusahaan dagang ini tidak ingin rahasianya diketahui oleh para pesaingnya. 

Pengetahuan tentang potensi tumbuhan yang bisa dijadikan obat termasuk yang cukup penting menjadi perhatian. Dan hasil penelitian yang dilakukan Bontius dan Rumphius menunjukkan itu. Begitu pula dengan dokter naturalis setelahnya. Ini bisa dijelaskan, karena, pertama, ia bisa menjadi pengganti obat yang hanya dibawa sekadarnya dari Eropa. Kedua, konsekuensi dari itu, ancaman terhadap serangan penyakit bisa dihadapi. Apalagi terdapat kepercayaan bahwa pada dasarnya setiap penyakit itu hanya bisa diobati oleh material yang ada di tempat penyakit itu menyebar. Demikian, dalam kerangka ini, penyakit tropis hanya bisa diobati oleh material yang terdapat di tempat tropis juga.

Penyelidikan tentang tumbuhan yang mengandung obat ini mengandaikan suatu anggapan adanya pengakuan akan pengetahuan yang dimiliki oleh penduduk lokal. Itulah mengapa para dokter mencoba menjalin hubungan dengan penduduk lokal, terutama mereka yang dituakan, untuk mendapat rahasia pengobatan lokal. Selain itu, orang-orang Eropa ini menjadikan penduduk lokal sebagai pemandu sekaligus narasumber dalam penyelidikan mereka. Dengan demikian, sekalipun nama-nama penduduk lokal itu tidak pernah disebut, pengetahuan yang diproduksi oleh orang Eropa tidak akan bisa terbentuk tanpa bantuan mereka. 

Ketika bangsa Eropa semakin banyak yang melakukan penjelajahan dan datang, kebutuhan akan kepastian kesehatan juga meningkat. Penelitian mengenai obat-obatan lokal juga menjadi banyak dilakukan. Leschenault de La Tour yang ikut rombongan Nicholas Boudin dalam ekspedisi mencari Australia, menyempatkan untuk menjelajah ke Jawa ketika kapalnya sempat berlabuh di Ambon. Ia sangat tertarik mengetahui rahasia pohon upas yang sejak abad ke-18 banyak dibicarakan di Eropa. Sang dokter naturalis ini pun sempat tinggal di sana beberapa tahun. 

Thomas Horsfield, seorang dokter berkebangsaan Amerika, yang tiba di Jawa pada tahun 1802 kemudian menjadikan tulisan sang naturalis Prancis ini sebagai rujukan ketika ia menulis dengan tema yang sama. Lebih dari itu, ia bahkan membuat pemetaan yang lebih lengkap dalam sebuah artikel yang secara khusus ditulis terkait tumbuhan obat di Jawa. Horsfield melakukan itu karena ia melakukan penelitian selama bertahun-tahun di Jawa.

Demikian, pada saat penjelajahan bangsa Eropa untuk mencari rempah dilakukan, keberadaan para dokter ini memiliki peranan yang begitu krusial. Pertama, penelitian yang mereka lakukan terkait tanaman yang memiliki khasiat medis memperkaya kajian dunia kedokteran itu sendiri, selain juga memberi keuntungan praktis untuk menyelesaikan persoalan penyebaran penyakit tanpa harus mendatangkan obat-obatan dari Eropa. Kedua, penelitian yang mereka lakukan, pengetahuan yang mereka bentuk juga memberi kontribusi dalam mendefinisikan tumbuhan-tumbuhan yang memiliki nilai ekonomis. Dan, poin terakhir inilah menjadi bukti kuat bahwa peranan para dokter sangat penting dalam kajian jalur rempah. Sebab, melalui penelitian merekalah, potensi tanaman yang memiliki nilai ekonomis untuk pasaran dunia bisa terungkap, didokumentasikan dan memberi bukti lain betapa jalur rempah tidak hanya bicara soal rempah-rempah sebagai komoditi. 

Gani Ahmad Jaelani adalah pengajar pada Departemen Sejarah dan Filologi Universitas Padjadjaran. Ia menyelesaikan pendidikan doktor sejarah di Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS), Paris dengan disertasi tentang persoalan higienitas di Hindia Belanda

 

Penulis: Gani Ahmad Jaelani

Editor: Doni Ahmadi

Bagikan:

Konten Populer

Demak: Salah Satu Kota Terkaya di Pesisir Utara Jawa

5 Desember 2020

Kembalinya Rempah-Rempah Tradisional pada Kehidupan Masyarakat di Masa Pandemi

5 April 2022

Molabot Tumpe: Berawal dari Takhta Kerajaan hingga Lalu Lintas Pelayaran

8 Maret 2022

Konten Terbaru

Gigi Balang: Jejak Budaya Melayu di Tanah Betawi

28 September 2022

Seminar Internasional Dunia Melayu dalam Jaringan Perdagangan Rempah Dunia: Jalur Rempah, Perannya dalam Dunia Kesehatan, dan Peluang di Masa Depan

21 September 2022

Gali Kejayaan Peradaban Melayu, Kemendikbudristek Gelar Seminar Internasional Dunia Melayu dalam Jaringan Perdagangan Rempah Dunia

15 September 2022

Konten Terkait

...

Gigi Balang: Jejak Budaya Melayu di Tanah Betawi

Mohammad Resyad G. M.

28 September 2022

...

Seminar Internasional Dunia Melayu dalam Jaringan Perdagangan Rempah Dunia: Jalur Rempah, Perannya dalam Dunia Kesehatan, dan Peluang di Masa Depan

admin

21 September 2022

...

Gali Kejayaan Peradaban Melayu, Kemendikbudristek Gelar Seminar Internasional Dunia Melayu dalam Jaringan Perdagangan Rempah Dunia

admin

15 September 2022