Artikel

Pesisir Utara Jawa dalam Catatan sebagai Simpul Jalur Rempah Nusantara

Muhammad Rizky Pradana| 3 Maret 2023

Wassaf dan Ibnu Battuta—penjelajah muslim tersohor—menyebutkan cengkeh berasal dari Jawa (Mul Jawa). Kemungkinan hal tersebut didasarkan atas perdagangan lintas pulau antara Jawa dan Maluku. Demak, Jepara, Tuban, dan Gresik mendapatkan julukan Permata Jawa di pelabuhan perdagangan. Hal tersebut karena letaknya yang cukup berdekatan dan menangani perdagangan rempah. Ibnu Battuta dalam catatan musafirnya menggambarkan Jawa sebagai pulau hijau dan berbunga. Penduduknya lalu lalang dengan membawa logam timah dan emas yang tidak dilebur, melainkan dipipihkan (mirip koin).

Marco Polo yang datang ke Nusantara sempat menyinggahi Sumatra dan Jawa. Entah karena salah informasi atau faktor lainnya, Sumatra yang ia kunjungi disebutnya sebagai Java Minor, sedangkan Jawa disebut sebagai Java Major. Polo menggambarkan Jawa didominasi oleh satu raja dan penduduknya tidak membayar upeti kepada kekuatan lain. Mereka juga menyembah berhala. Hal yang cukup mengejutkan adalah keterangannya bahwa Jawa juga menghasilkan lada, pala, lengkuas, cengkeh, rempah, dan obat-obatan yang bernilai lainnya. Keterangan dari Polo cukup mengherankan karena beberapa komoditas rempah, seperti pala dan cengkeh hanya berasal dari Maluku.

Sementara itu, Antonio Pigafetta menyaksikan masih kuatnya pengaruh Majapahit saat berkunjung ke Jawa. Ia berujar bahwa di Pulau Jawa saat itu dikuasai oleh kerajaan yang besar bernama Magepaher (Majapahit). Magepaher itu punya banyak kota besar, seperti Dahadama, Gagiamada (kemungkinan Gajah Mada), Minutarangam, Ciparafidain (Jepara?), Tuban, Cressi (Gresik), dan Cirubaya (Surabaya). Sumber-sumber lokal seperti Negarakertagama, Pararaton, Kidung Harsawijaya, dan Kidung Ranggalawe menyebutkan Majapahit yang berpusat di Trowulan itu punya beberapa kota pelabuhan, antara lain Tuban, Sedayu, Jaratan, Gresik, dan Canggu

Kerajaan Sunda menguasai cukup banyak pelabuhan, baik yang kecil maupun yang besar, seperti Pontang, Tangerang, Cigede, Sunda Kelapa, Banten, dan lain sebagainya. Banten menjadi pelabuhan yang sibuk pasca Malaka didominasi oleh Portugis pada 1511. Tomé Pires yang menyebut Banten sebagai Bantam, disebut pula memiliki lanskap kota yang baik dan bagus. Dari keterangan Pires yang mengatakan bahwa kapal jung berlabuh di sini, maka dapat dibayangkan bahwa Banten adalah pelabuhan yang besar

Sunda Kelapa telah eksis sejak masa Pajajaran dan berstatus sebagai pelabuhan utama, jaraknya menurut Pires sejauh dua hari perjalanan dari pusat kerajaannya. Pires menggambarkan pelabuhan ini adalah pelabuhan megah yang dapat menampung banyak jung sebab pelabuhan ini dikelola dengan baik dan terdapat pejabat yang menangani bidang tertentu, seperti hakim dan juru tulis.

Cirebon adalah pelabuhan yang cukup layak dan besar untuk menampung sekitar tiga hingga empat jung. Letaknya sekitar tiga léguas (setara dengan 4,82 km) sehingga jung bisa masuk ke sana. Uka Tjandrasasmita mengatakan bahwa Cirebon muncul pada abad ke-XVI.

Japura (Tanjung Losari) menurut Pires memiliki dua jung dan lancaran hingga lima buah, sedangkan Tegal hanya memiliki satu jung atau kadang tidak sama sekali. Semarang memang terkenal sebagai kota pelabuhan yang bagus dan penting di masa kolonial Hindia Belanda. Namun, pada masa perdagangan seperti yang dikatakan Pires. Semarang bukanlah pelabuhan yang layak untuk perdagangan besar. Meskipun terdapat sekitar tiga jung dan empat atau lima lancaran.

Demak pernah menjadi salah satu tonggak kekuasaan Islam di Jawa pasca runtuhnya dominasi Majapahit dan sebelum berpindah tempat ke pedalaman. Pelabuhan Demak mengalami penurunan pamor pada abad ke-XVI karena kalah dari Jepara. Demak punya sungai yang luas, tetapi hanya dapat menampung jung ketika air pasang. Pires mengatakan bahwa Demak dipimpin oleh Pate Rodim. Pelabuhannya pun kalah dengan pelabuhan lain di Jawa, hanya memiliki 5 atau 6 perahu kecil dan tidak memiliki jung sama sekali. Sangat jauh berbeda dengan ayahnya yang mampu mengumpulkan hingga 40 jung. 

Jepara menjadi salah satu pelabuhan yang berada di bawah kekuasaan Demak. Letaknya berada di teluk sehingga menarik perhatian pedagang yang lalu lalang dari Jawa dan Maluku. Terlebih, teluknya bisa dilalui kapal dengan ukuran yang besar. Pires menjelaskan bahwa Jepara berada di bawah kaki Gunung Muria dengan teluk dan memiliki pelabuhan yang indah. Jepara dulunya punya banyak jung. Lebih lanjut,, Pires menjelaskan bahwa jung itu agaknya berkurang karena gagalnya penyerangan yang dipimpin Pati Unus ke Malaka. Lalu, Jepara hanya punya tiga jung serta dua atau tiga perahu saja.

Lasem salah satu tempat pembuatan kapal karena berada dekat hutan jati terbaik di Jawa. Hutan jati yang dimaksud adalah Rembang. Hal ini menjadikan Lasem sebagai pusat pembuatan kapal. Data arkeologi berupa tinggalan situs ditemukan di Rembang (Punjulharjo) yang menunjukkan sisa teknologi pembuatan kapal. Juwana adalah salah satu penghasil beras di Jawa bersama dengan Demak.

Tuban adalah kota pelabuhan dengan tembok benteng tebal yang sulit ditembus. Ekspedisi Tiongkok pada abad ke-XIII untuk merebut tempat ini berakhir sia-sia. Namun, Tuban berhasil dikuasai oleh Mataram pada 1619. Pelaut muslim dari Gujarat menghindari sarang perompak yang terletak di antara Banten dan Gresik (kemungkinan Tuban). Hal ini sesuai dengan sumber dari Tiongkok dari abad XIV yang mengatakan bahwa Tuban menjadi tempat yang tidak aman sehingga banyak kapal Tiongkok memilih Gresik dan Surabaya. Sumber lain dari Tiongkok juga menyebutkan bahwa pelabuhan ini adalah sarang perompak sehingga menjadi tempat yang dihindari kapal-kapal Tiongkok.  

Sedayu tidak semegah pelabuhan lain di pesisir Utara Jawa. Pires menyebutkan bahwa pesisirnya berbatu sehingga buruk untuk berlabuh. Juga tidak punya jung dan prau.

Jaratan dan Gresik adalah pelabuhan yang cukup berdekatan dan merupakan faktor utama bertahannya ekonomi Giri Kedaton. Gresik adalah bandar dagang karena tidak banyak komoditas asal gresik yang diperdagangkan di sana. Kebanyakan adalah komoditas yang berasal dari luar Gresik. Pires pun terkesima dengan Gresik. Dikatakannya sebagai yang terbaik diantara semua pelabuhan di Jawa.

Pires mendeskripsikan Surabaya sebagai tempat yang dibatasi oleh Gresik dan di sisi lainnya oleh Gamda. Penguasa Surabaya berjuluk Pate Bubat. G. H. von Faber mengatakan bahwa Kalimas adalah sungai emas. Karena perannya yang sangat penting dalam pelayaran dan perdagangan. Lebih lanjut, Pires juga menggambarkan pelabuhan-pelabuhan dari Sunda Kelapa ke arah Timur. Dari semua tempat di pesisir utara Jawa yang disebutkan oleh Pires dikuasai oleh penguasa lokal dengan—gelar pate yang kemungkinan mengambil dari gelar patih atau seperti yang disandang Pati Unus.

Dari hampir semua pelabuhan-pelabuhan yang dapat dikatakan kuno itu, terekam dalam catatan-catatan yang ditinggalkan oleh para penjelajah Eropa. Kesaksian mereka itu banyak dijadikan rujukan. Katakanlahlah seperti Tomé Pires dengan Suma Oriental yang dijadikan rujukan oleh banyak sejarawan. Sumber lokal pun bisa dijadikan rujukan. Banyak sekali sumber lokal dari manuskrip atau inskripsi yang menjelaskan mengenai perdagangan dan pelayaran.

 

__________

Sumber Referensi

Arifin, Zaenal. 2017. “Perkembangan Kerajaan Maritim Giri Kedaton Tahun 1487-1681 M.” Widyaloka IKIP Widya Darma 4 (2): 150–59.

Battuta, Ibnu. 2004. The Travels of Ibn Battuta in the Near East, Asia and Africa 1325-1354. Edited by Rev. Samuel Lee. Mineola: Dover Publications.

Donkin, Robin A. 2003. Between East and West: The Moluccas and the Traffic in Spices up to the Arrival of Europeans. Philadelphia.

Faber, Godfried Hariowald von. 1931. Oud Soerabaia: De Geschiedenis van Indies Eerste Koopstad van de Oudste Tijden Tot de Instelling van Den Gemeenteraad (1906). Soerabaia: Gemeente Soerabaia.

Fauzi, M, and Razif. 2017. Jalur Rempah Dan Dinamika Masyarakatnya Abad X-XVI: Kepulauan Banda, Jambi, Dan Pantai Utara Jawa. Edited by Singgih Tri Sulistiyono. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kaur, Maganjeet, and Mariana Isa. 2020. Between the Bay of Bengal and the Java Sea. Singapore: Marshall Cavendish International.

Lapian, Adrian B. 2008. Pelayaran Dan Perniagaan Nusantara: Abad Ke-16 Dan 17. Jakarta: Komunitas Bambu.

Pigafetta, Antonio. 2010. The First Voyage Round the World by Magellan. Edited by Henry Edward John Stanley. Cambridge: Cambridge University Press.

Pires, Tomè, and Fransisco Rodrigues. 1944. The Suma Oriental of Tomè Pires: An Account of the East, From the Red Sea to Japan and The Book of Fransisco Rodrigues: Rutter of a Voyage in the Red Sea, Nautical Rules, Almanack and Maps. Vol I. Edited by Armando Cortesão. London: The University of Glasgow Press.

Polo, Marco. 1953. The Travels of Marco Polo [The Venetian]. Edited by Manuel Komroff. New York: W. W. Norton and Company.

Pradjoko, Didik, and Bambang Budi Utomo. 2013. Atlas Pelabuhan Pelabuhan Bersejarah Di Indonesia. Edited by Endjat Djaenuderadjat. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Prameswari, Ayu Gandis, and Aminuddin Kasdi. 2013. “Pelabuhan Gresik Pada Abad XIV.” Avatara 1 (2): 60–67.

Reid, Anthony. 2011. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680 Jilid 2: Jaringan Perdagangan Global. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Tjandrasasmita, Uka. 2009. Arkeologi Islam Nusantara. Edited by Diaz Salim. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

__________

Ditulis oleh Muhammad Rizky Pradana, mrizky.pradana26@gmail.com

Editor: Dian Andika Windah & Tiya S.

Sumber gambar: Wikicommons/Michael Jennings

Konten ini dibuat oleh kontributor website Jalur Rempah.
Laman Kontributor merupakan platform dari website Jalur Rempah yang digagas khusus untuk masyarakat luas untuk mengirimkan konten (berupa tulisan, foto, dan video) dan membagikan pengalamannya tentang Jalur Rempah. Setiap konten dari kontributor adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.

Bagikan:

Artikel Populer

Untold Story: Burung Cenderawasih dalam Perdagangan Rempah Masa Silam

25 Oktober 2022

Jangkar dan Meriam Kuno: Jejak Jalur Rempah di Kepulauan Selayar

10 Oktober 2020

Jalur Rempah, Jalur Budaya, dan Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022

30 Mei 2022

Artikel Terbaru

Muhibah Budaya Jalur Rempah di Sabang, Nostalgia KRI Dewaruci Menyambangi Perairan Aceh 70 Tahun Lalu

23 Juni 2024

Kemendikbudristek Lepas Pelayaran Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024

8 Juni 2024

Jelang Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024, Kemendikbudristek Siapkan Pembekalan Materi Kepada Laskar Rempah

6 Juni 2024

Artikel Terkait

...

Jalur Rempah, Jalur Budaya, dan Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022

admin

30 Mei 2022

...

Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022, Menyusuri 6 Titik Pelayaran bersama KRI Dewaruci

admin

19 April 2022

...

Rempah: Kontrol Gaya Hidup Sehat untuk Penyintas Penyakit Autoimun

admin

8 Desember 2020