Artikel

Pulau Makian: Produsen Cengkeh Terbesar di Kepulauan Rempah

admin | 19 Oktober 2020

Sejarah Maluku memang sudah dikenal sebagai penghasil rempah kelas wahid. Hal ini juga yang menjadikan Maluku sebagai destinasi kedatangan banyak kapal dari pedagang Nusantara hingga bangsa asing, Arab, Cina, maupun Eropa. Salah satu di antara kepulauan di Maluku yang dikenal sebagai penghasil rempah cengkeh terbaik adalah Pulau Makian.

Hal ini pun bisa dibuktikan dalam satu sumber penting tentang sejarah Bacan dan Kerajaan Maluku, yakni Hikayat Bacan yang dipublikasikan pada 1923 oleh W. Ph. Coolhas. Dalam Hikayat Bacan, turut menyebutkan sejumlah pulau yang merupakan satu jalur perniagaan di semenanjung Maluku bagian utara.

“Di zaman dahulu kala, TernateTidore, Moti, Makian, dan Bacan bersambung menjadi satu semenanjung, dan semuanya bernama Gapi.”

Dari beberapa kepulauan yang disebutkan, Pulau Makian ini diketahui merupakan produsen cengkeh terbesar dari seluruh kepulauan rempah-rempah. Produksi puting cengkeh dari Pulau Makian ini berkisar 1500-1600 bahar per tahun. Sejarawan Belanda yang menulis soal sejarah Maluku, Meilink-Roelofsz, juga menyebutkan bahwa Pulau Makian ini memiliki pelabuhan terbaik di Maluku.

Dalam rute perniagaan dan Jalur Rempah, pedagang Banda sering kali berlabuh di Makian untuk mendapatkan cengkeh untuk dibawa menuju Hitu atau Ambon. Di sinilah tempat pertemuan para pedagang asing yang pergi dengan menggunakan kapal jung. Cengkeh dari pulau-pulau lain juga diangkut dari sana.

Jejak peninggalan Jalur Rempah di Pulau Makian ini juga bisa kita lihat dari berdirinya benteng peninggalan Belanda, yakni Benteng Mauritius. Benteng Mauritius sendiri dibangun pada tahun 1612 oleh Pieter Both, Gubernur-Jenderal pertama VOC (1609-1614). Hal ini juga tertulis dalam laporan Johannes Nessel untuk pemimpin armada VOC Arnold de Vlamingh van Outshoorn pada tahun 1651. 

Benteng yang terletak di dekat desa Ngofakiaha atau Ngofakioha di pantai barat laut Makian dianggap sangat strategis karena berada di atas sebuah bukit sebelah kanan desa sehingga dapat memudahkan pemantauan ke arah laut. Sayangnya, lokasi benteng ini dianggap kurang cocok untuk menyimpan barang-barang dagang dalam skala besar. Hal ini pun membuat Gubernur Maluku Jacques Lefebvre (1625-1629) mendirikan Zeeburgh, sebuah bangunan di dekat pantai yang difungsikan sebagai tempat tinggal sekaligus gudang. 

Selain karena rempah dan sejarah masa lalu, Pulau Makian juga dikenal dengan gunung api Kie Besi atau Wakiong yang berbahaya. Dalam catatan sejarah, gunung api dengan tinggi 1.300 mdpl ini menjadi penyebab gelombang pengungsian yang mengakibatkan sekitar 6000 orang keluar dari pulau. Pemukiman sekitar gunung ini termasuk kawasan rawan bencana (KRB) I karena Pulau Makian berpotensi dilanda banjir lahar dan kemungkinan perluasan awan panas jika Gunung Kie Besi meletus. Hal ini juga yang menyebabkan sebaran penduduk akibat gejolak Gunung Kie Besi membuat etnis Makian tersebar secara luas di seluruh Kepulauan Maluku Utara, khususnya Ternate dan Halmahera. 

Sumber:


Amal, M. Adnan. 1950. Kepulauan Rempah-rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950. KPG.

Razif & M. Fauzi. 2017 Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Adat Abad X-XVI: Kepulauan Banda, Jambi dan Pantai Utara Jawa. Direktorat Sejarah.


Naskah: Doni Ahmadi

Editor: Tiya Septiawati

Bagikan:

Konten Populer

Rempah dalam Tradisi & Permainan Tradisional Masyarakat Belitung Timur

25 Februari 2021

Cagar Budaya di Pati: Sejarah Akulturasi dan Jejak Perdagangan Rempah

18 April 2021

Rempah, Cengkeh, dan Terbentuknya Kota Pelabuhan di Asia

7 Februari 2021

Konten Terbaru

Malam Puncak Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia

30 Oktober 2021

Bukti Linguistik Muasal Pala dan Cengkih

29 September 2021

Pameran Kolaborasi Rempah Nusantara Resmi Dibuka pada Simposium Internasional UNUSIA 2021

31 Agustus 2021

Konten Terkait

...

Malam Puncak Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia

admin

30 Oktober 2021

...

Bukti Linguistik Muasal Pala dan Cengkih

Gufran A. Ibrahim

29 September 2021

...

Pameran Kolaborasi Rempah Nusantara Resmi Dibuka pada Simposium Internasional UNUSIA 2021

admin

31 Agustus 2021