Artikel

Sejarah Ambon dan Hitu, Jejak Jalur Rempah di Maluku

admin | 18 Oktober 2020

Ambon merupakan sebuah pulau yang terletak di Kepulauan Maluku.  Saat ini, kita mengenal Pulau Ambon yang merupakan ibu kota dari provinsi Maluku. Maluku sendiri dikenal dengan karakteristik geomorfologi yang sama, yaitu didominasi oleh pegunungan. Dalam catatan etnografis Suma Oriental, catatan perjalanan seorang asal Portugis, Tomé Pires, melukiskan tentang Kepulauan Maluku (Ambon, Ternate, dan Banda) sebagai the spice islands atau kepulauan rempah.

Pernyataan tersebut memang tepat karena wilayah Maluku memang dikenal sebagai penghasil rempah-rempah, terutama cengkeh, pala, dan bunga pala. Untuk cengkeh sendiri, tanaman asli dari Ternate dan Tidore ini sudah melanglang buana dan telah digunakan berabad-abad lalu. Harganya juga pernah melebihi harga emas karena begitu sulitnya rempah ini didapat oleh bangsa lain. Hal yang sekaligus membuat banyak pedagang asing dari berbagai belahan dunia datang ke Maluku dan memulai rute perdagangan yang kita ketahui sebagai Jalur Rempah.

Jejak-jejak Jalur Rempah di Kepulauan Maluku sendiri dapat kita lihat dari catatan sejarah pada abad ke-14, di mana Pelabuhan Hitu sudah ramai dan didatangi para pedagang Nusantara. Hal ini terjadi karena Pelabuhan Hitu merupakan daerah lalu lintas perdagangan cengkeh yang dilakukan oleh orang Banda menuju utara dan sebaliknya. Situasi ini memperlihatkan bahwa Hitu merupakan jaringan pelabuhan untuk transitnya para pedagang, yang mana pengaruhnya mampu menciptakan kemunculan pedagang-pedagang lokal dari jazirah Leihitu dan Huamual di Pulau Seram.

Berkembangnya kerajaan islam di Hitu, yakni Kerajaan Tanah Hitu, juga tak lepas dari rute perdagangan dan Jalur Rempah yang mendatangkan para pedagang sekaligus pendakwah. Hal ini juga sekaligus membuat Pelabuhan Hitu menjadi multi-etnis. Adanya pemukiman orang Jawa di Hitu juga merupakan sebab dari rempah cengkeh yang menjadi salah satu komoditi perdagangan. 

Ini juga persis yang dialami sejarah Ambon sebelum kedatangan orang Portugis, di mana pelabuhan mereka telah menjadi titik pusat perdagangan. Tidak hanya rempah-rempah domestik, seperti buah pala dan bunga pala. Cengkeh juga dikumpulkan untuk dijual kepada para pedagang asing yang datang ke Banda dari tempat-tempat dari dalam maupun dari luar Nusantara.

Pada paruh pertama abad ke-16, penanaman cengkeh mulai ada dalam sejarah Ambon dan kepulauan Seram. Perluasan penanaman cengkeh ini juga didorong oleh permintaan yang pesat dari Portugis. Jejaknya hingga hari pun masih bisa kita lihat dari cagar budaya berupa Benteng Victoria yang berada di tengah kota Ambon. 

Pada perkembangan selanjutnya, yakni di awal abad ke-17, Pelabuhan Ambon ini dipergunakan VOC sebagai pelabuhan transit sebelum mereka tiba di Banda, atau mereka yang ingin kembali ke Batavia. Pelabuhan Ambon digunakan sebagai transit serta alih muatan. Selain itu, Pelabuhan Ambon juga turut dijadikan VOC sebagai pusat pengawasan agar kapal-kapal lokal menghindari pelabuhan sekitar Ambon dan Hitu.

Dari sini kita dapat melihat bahwa masuknya keyakinan baru, adanya komunitas suku dari pulau jauh, hingga berdirinya cagar budaya tak bisa dilepaskan begitu saja dari Jalur Rempah. Sebuah rute pelayaran niaga yang membentuk Indonesia dengan begitu bhineka hari ini.

 

Sumber:


Razif & M. Fauzi. 2017. Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Adat Abad X-XVI: Kepulauan Banda, Jambi dan Pantai Utara Jawa. Direktorat Sejarah.


Naskah & Editor:

Doni Ahmadi

Bagikan:

Konten Populer

Pulau Ternate, Kota Dagang & Titik Temu Pedagang Nusantara dan Asing

21 Oktober 2020

Gong Nekara Selayar, Jejak Jalur Rempah di Masa Lampau

11 Oktober 2020

Base Genep: Mencecap Sepiring Filosofi Rempah di Bali

29 Juli 2021

Konten Terbaru

Malam Puncak Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia

30 Oktober 2021

Bukti Linguistik Muasal Pala dan Cengkih

29 September 2021

Pameran Kolaborasi Rempah Nusantara Resmi Dibuka pada Simposium Internasional UNUSIA 2021

31 Agustus 2021

Konten Terkait

...

Malam Puncak Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia

admin

30 Oktober 2021

...

Pameran Kolaborasi Rempah Nusantara Resmi Dibuka pada Simposium Internasional UNUSIA 2021

admin

31 Agustus 2021

...

Bukti Linguistik Muasal Pala dan Cengkih

Gufran A. Ibrahim

29 September 2021