Artikel

Aksara Lontara & Hukum Amanna Gappa: Jejak Jalur Rempah Makassar

admin | 15 Oktober 2020

Makassar membentuk syahbandar sebagai pusat perdagangan rempah dan berfokus pada maritim di era Raja Gowa ke-9, hal ini dimulai dari pemindahan pusat pemerintahan dari bukit Tamalate menuju sekitar muara Sungai Je’neberang dekat Somba Opu yang merupakan pelabuhan. Setelah hal ini terlaksana, diangkatlah seorang syahbandar pertama, I Daeng Pamatte´, untuk mendukung upaya tersebut.” ungkap Abd Rahman Hamid, seorang dosen dan peneliti maritim Universitas Hassanudin. Hal ini lah yang menjadi titik pijak kebangkitan orang-orang Makassar dalam percaturan jalur perdagangan.

Setelah berhasilnya fondasi kebangkitan Makassar dan terbentuknya Syahbandar sebagai pusat perniagaan rempah serta hasil bumi lainnya. Selanjutnya Makassar membentuk suatu aksara untuk membantu sistem perdagangan dan pelayaran mereka. Aksara ini, pun diyakini sebagai alat mencatat lalu lalang kapal dan segala kebutuhan terkait perdagangan di Makassar.

Menurut Abd Rahman Hamid, hal ini berperan penting dalam terciptanya Aksara Lontara, Peta Pelayaran Makassar hingga berdirinya Hukum Laut atau Undang-undang Pelayaran dan Perniagaan. Pada masa itu, karena diperlukan sistem pencatatan, diciptakan Aksara Lontara/Aksara Makassar untuk kebutuhan mencatat aktivitas lalu lalang kapal dan perdagangan di bandar-bandar Makassar. Hal ini juga seturut dengan dibentuknya suatu hukum laut dan undang-undang laut yang disebut Amanna Gappa.

“Dalam hukum Amanna Gappa, terlihat jelas rute-rute pelayaran orang Bugis, Makassar, dan Mandar di berbagai wilayah Nusantara hingga wilayah Asia Tenggara. Hukum ini juga dilengkapi dengan jumlah tarif yang akan dibayar oleh siapapun yang menggunakan perahu-perahu dagang dari Makassar.” Sambungnya.

Peta dan hukum laut ini juga merupakan sumbangsih besar dari para pelayar Sulawesi Selatan, yakni orang Makassar, Bugis, dan Mandar untuk jalur rempah. Melalui peta ini kita dapat melihat rute-rute pelayaran mereka, dari mulai titik, hingga tujuan. Hal yang bisa dipastikan sebagai rute perniagaan dan jejak jalur rempah pada masa itu.

Jejak inilah yang sekali lagi membuktikan bahwa jalur rempah serta jejak-jejaknya begitu penting dalam terbentuknya suatu pengetahuan dan memberi sumbangsih besar bagi kita hari ini.

 

________

Sumber:

Wawancara Eksklusif dengan Dr. Abd Rahman Hamid M.Si (Dosen dan Peneliti Sejarah)

________

Naskah & Editor: Doni Ahmadi

Sumber gambar: Redaksi Jalur Rempah RI

Bagikan:

Konten Populer

Satuan Bahar, Barter, dan Bukti Perdagangan Rempah yang Kosmopolit di Abad 16

8 November 2022

Gigi Balang: Jejak Budaya Melayu di Tanah Betawi

28 September 2022

Laskar Rempah Mengenal Cengkeh sebagai Tanaman Budidaya dan Budaya

16 Juni 2022

Konten Terbaru

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

26 Januari 2023

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

19 Januari 2023

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

12 Januari 2023

Konten Terkait

...

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

merry kurnia

12 Januari 2023

...

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

Achmad Khalik Ali

19 Januari 2023

...

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

Royas Aulia Subagja

26 Januari 2023