Artikel

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

Royas Aulia Subagja| 24 Januari 2023

Di sini kukenalkan sebuah kampung yang terletak di ujung Belitung, berada di antara laut dan gunung, di tengah-tengah itulah kampung, tempat wisatanya Pantai Pasir Panjang dan Pantai Kuku Burung yang merupakan tempat jalan-jalannya warga sekampung. 

Di sini terdiri dari tiga suku, suku bugis, suku Buton, dan Melayu, walaupun beda, tapi kami bersatu, biar kampung kami semakin maju. Mendanau memang hanya sebuah pulau, tidak jauh karena masih dapat dijangkau, saudaraku semua mari singgah kita bersenda gurau. 

Selat Nasik boleh disebut kampung musik, kecil-besar, tua-muda gila sama musik, dari kecil sudah hobi dengar musik, cita-citanya mau main musik.

Selat Nasik bukan tanpa alasan disebut kampung musik, bermula dari warga yang berkebun masuk hutan, yang mereka pun di kebun dilanda rasa bosan, berkebun memang harus dilakukan, jika merasa sekeluarga masih mau makan, jika tidak berkebun di hutan, maka pergilah ke laut menjaring ikan, di hutan saat kami bosan setelah semua bekal masuk hutan habis termakan, kami bermain musik menghilangkan kejenuhan.

Lama-lama kemudian pemukiman sudah makin banyak mendekat ke wilayah hutan, akhirnya banyak warga yang penasaran, tentang suara musik yang nyaring bersahutan. Lama-kelamaan banyak warga yang tertarik untuk sekadar mendengar alunan musik, hingga akhirnya musik keroncong jadi budaya warga kampong, keroncong bukan sembarang keroncong, keroncong kami punya ciri khas yang hanya ada di kampong. 

Keroncong berbalas pantun menjadi hiburan warga kampong, remaja pria dan wanita saling berbalas pantun, siapa tahu di antara mereka ada yang beruntung, kalo untung menjadi pengantin di kampung. Ketika pelaksanaan pernikahan pun tak lupa musik keroncong ditabuh, namun suasana menjadi haru biru, ketika syair lagu pantun berisi petuah dari Ayah-Ibu. 

Gambar 1: Wawancara bersama Kepala Adat Desa Selat Nasik, Kik Busu Bahani.

Rangkaian sajak tersebut menggambarkan kehidupan masyarakat Selat Nasik dalam mengenalkan kesenian musik keroncong di kecamatan Selat Nasik, Kabupaten Belitung.

  1. Di sini kukenalkan sebuah kampung yang terletak diujung Belitung, berada di antara laut dan gunung, di tengah-tengah itulah kampung, tempat wisatanya Pantai Pasir Panjang dan Pantai Kuku Burung yang merupakan tempat jalan-jalannya warga sekampung.

Kecamatan Selat Nasik terletak di pulau terluar yang ada di Kabupaten Belitung dan wilayahnya merupakan kepulauan tersendiri yang terpisah dari pulau utama Belitung. Untuk mencapai Selat Nasik, kita harus menyeberang menggunakan perahu boat selama satu setengah jam dari daerah Pegantongan. Selama perjalanan menuju Selat Nasik, terlihat pemandangan pulau dan pegunungan. Salah satunya adalah Pulau Sebongkok yang berada tepat di sebelah kanan selat, berlatar belakang indahnya Gunung Petaling dan Pantai Pasir Panjang dengan garis pantai sepanjang 2 km dikelilingi deretan perbukitan yang menambahkan kesan berbeda dari pantai-pantai lain di Belitung.

  1. Di sini terdiri dari tiga suku, suku bugis, suku Buton, dan Melayu, walaupun beda, tapi kami bersatu, biar kampung kami semakin maju. Mendanau memang hanya sebuah pulau, tidak jauh karena masih dapat dijangkau, saudaraku semua mari singgah kita bersenda gurau. 

Mayoritas masyarakat Desa Selat Nasik merupakan suku Melayu dan sebagian lainnya ada suku Bugis dan suku Buton (Imron, 2006, hlm. 75). Masyarakat Kecamatan Selat Nasik hidup berdampingan dengan menjunjung tinggi toleransi serta memiliki rasa gotong royong yang kuat. Hal ini dibuktikan dengan adanya perayaan upacara adat yang dilaksanakan hampir melibatkan semua warga masyarakat di pulau untuk berpartisipasi memeriahkan acara. Pulau Mendanau sendiri merupakan pulau terbesar di Kecamatan Selat Nasik. Desa Selat Nasik, Desa Petaling, dan Desa Suak Gual berada di pulau yang sama. Untuk menjangkau Pulau Mendanau bisa ditempuh dengan menggunakan boat/kapal menuju Pelabuhan Tanjong Nyato di Desa Petaling dengan waktu tempuh 90 menit.

  1. Selat Nasik boleh disebut kampung musik, kecil-besar, tua-muda gila sama musik, dari kecil sudah hobi dengar musik, cita-citanya mau main musik.

Selat Nasik bukan tanpa alasan disebut kampung musik, bermula dari warga yang berkebun masuk hutan, yang mereka pun di kebun dilanda rasa bosan, berkebun memang harus dilakukan, jika merasa sekeluarga masih mau makan, jika tidak berkebun di hutan, maka pergilah ke laut menjaring ikan, di hutan saat kami bosan setelah semua bekal masuk hutan habis termakan, kami bermain musik menghilangkan kejenuhan.

Lama-lama kemudian, pemukiman sudah makin banyak mendekat ke wilayah hutan, akhirnya banyak warga yang penasaran, tentang suara musik yang nyaring bersahutan. Lama-kelamaan banyak warga yang tertarik untuk sekadar mendengar alunan musik, hingga akhirnya musik keroncong jadi budaya warga kampong, keroncong bukan sembarang keroncong, keroncong kami punya ciri khas yang hanya ada di kampong. 

Selat Nasik sebagai daerah wisata juga memiliki daya tarik pertunjukan seni musik khas, yakni musik keroncong tradisional dengan ciri khas tersendiri yang berbeda dengan daerah lain. Dari kecil, mereka sudah diperlihatkan akan kekayaan tradisi musik dan berlanjut dari generasi ke generasi sehingga musik keroncong khas Selat Nasik masih bisa dinikmati hingga kini. 

  1. Keroncong berbalas pantun menjadi hiburan warga kampong, remaja pria dan wanita saling berbalas pantun, siapa tahu di antara mereka ada yang beruntung, kalo untung menjadi pengantin di kampung. Ketika pelaksanaan pernikahan pun tak lupa musik keroncong ditabuh, namun suasana menjadi haru biru, ketika syair lagu pantun berisi petuah dari Ayah-Ibu. 

Keunikan dari musik keroncong khas Selat Nasik adalah musik yang dimainkan akan disambut dengan tradisi berbalas pantun yang diiringi oleh musik. Isi pantun disesuaikan dengan acara di mana permainan musik ditampilkan. Pada acara pernikahan, misalnya, pantun dan syair berisi petuah dari orang tua untuk pasangan mempelai. 

Gambar 2: Kik Busu Bahani sedang memperkenalkan alat musik untuk pertunjukan gambus dan keroncong.

Letak Geografis Kecamatan Selat Nasik

Kecamatan Selat Nasik merupakan salah satu kecamatan yang ada di Provinsi Kep. Bangka Belitung, tepatnya berada di Kabupaten Belitung yang wilayahnya merupakan kepulauan di luar pulau utama Belitung dengan luas wilayah seluas 133,5 km2. Di Kecamatan Selat Nasik ini terdapat empat desa, yakni Desa Selat Nasik, Desa Petaling, Desa Suak Gual, dan Desa Pulau Gersik. Dari keempat desa tersebut, tiga di antaranya ada di Pulau Mendanau yang merupakan pulau terbesar di Kecamatan Selat Nasik. Untuk mencapai Desa Selat Nasik, kita harus menempuh perjalanan menggunakan kapal nelayan atau boat yang dimodifikasi sedemikian rupa agar bisa menampung banyak penumpang dengan waktu tempuh kurang lebih 90 menit dari Pelabuhan Tanjung Ru, Badau, menuju pelabuhan Tanjung Nyato di Desa Petaling.

Kecamatan Selat Nasik juga dikenal sebagai desa nelayan yang masyarakatnya mayoritas melakukan banyak aktivitas yang berhubungan dengan laut. Salah satu keunikan di desa ini, yakni tradisi upacara Selamat Laut yang menarik perhatian masyarakat maupun wisatawan untuk berkunjung. Upacara Selamat Laut dilaksanakan setiap mulai memasuki musim angin barat yang membuat nelayan kesulitan mencari tangkapan ikan. Upacara Selamat Laut dilaksanakan dengan harapan agar nelayan yang melaut dapat kembali dengan selamat dan membawa tangkapan ikan yang banyak. Upacara Selamat Laut di Desa Selat Nasik dilakukan secara meriah dengan melibatkan berbagai kesenian daerah untuk menghibur masyarakat. Salah satunya adalah musik keroncong atau masyarakat lokal menyebutnya dengan istilah Keruncong Stambul Fajar (KSF).  

Istilah Keruncong Stambul Fajar (KSF) berasal dari kebiasaan masyarakat Selat Nasik di mana permainan musik dilakukan pada acara tertentu, seperti pada acara pernikahan atau sunatan dan perayaan adat lainnya. Musik tersebut dimainkan sejak malam hari hingga menjelang pagi/fajar. Selama musik masih dimainkan, pemain musik akan diberikan tambul atau hidangan, seperti kue/kudapan untuk para pemain musik (Irwansyah, 2018, hlm. 1960).  

Menurut Kepala Adat Desa Selat Nasik, Kik Busu Bahani, sekelompok masyarakat di Selat Nasik memiliki beberapa mata pencaharian, baik itu berladang, seperti menanam rempah lada atau sahang dalam bahasa Belitung, maupun melaut mencari ikan. Selain menunggu pasokan barang kebutuhan pokok yang dipasok dari pulau Belitung, berladang di hutan menjadi salah satu kegiatan yang dilakukan masyarakat setempat. Biasanya, mereka membuat pondok-pondok di dekat ladang yang digunakan untuk mengawasi ladang dari monyet liar yang merusak tanaman. 

Untuk mengatasi rasa bosan ketika menjaga ladang di hutan, mereka membawa alat musik, seperti gitar dan ukulele dengan memainkan musik yang berirama keroncong. Dari penuturan Kik Busu Bahani, Ia tidak tahu secara pasti kapan kebiasaan ini mulai dilakukan karena beliau juga hanya melanjutkan tradisi dari orang tuanya. Selain sebagai penghibur di kala bosan, tabuhan musik juga mampu membuat monyet takut untuk mendekat ke ladang.

Di kemudian hari, kebiasaan ini mulai diketahui orang kampung ketika pembangunan pemukiman di wilayah Selat Nasik sudah mulai mendekati kawasan hutan. Warga yang penasaran mengenai bunyi-bunyian dari hutan merasa tertarik untuk melihat. Hal ini membuat musik keroncong semakin berkembang, ditambah dengan seni berbalas pantun yang mengikuti nada dari musik tersebut.

Hingga kini, kesenian tersebut masih dilaksanakan di dalam acara yang melibatkan warga setempat, misalnya acara pernikahan, sunatan, Selamat Laut (acara tahunan Desa Selat Nasik) yang lirik pantun dari setiap acara disesuaikan dengan kegiatan yang dilakukan. Selain musik keroncong, tradisi yang masih dilakukan warga Selat Nasik, di antaranya ialah tradisi Lesung Panjang, Lawang Pintu, dan Silat Seni Melayu.

Gambar 3: Alat musik ukulele milik Kik Busu Bahani.

Masuknya Musik Keroncong ke Indonesia

Musik keroncong berasal dari bunyi yang ditimbulkan oleh instrumen gitar kecil yang berasal dari Polinesia (ukulele) (Harmunah, 1987: 9). Musik keroncong diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad ke-16, yang dikenal sebagai fado, tetapi bentuk awal musik ini dikenal dengan istilah moresco (Winasis, 2014: 6).

Awalnya, jenis musik keroncong diperkenalkan oleh bangsa Portugis sebagai sarana hiburan bagi para budak Portugis yang berasal dari Afrika Utara dan India (Darini, 2012: 19). Dalam perkembangannya, ketika keroncong masuk ke wilayah Nusantara, musik ini mendapat unsur khas masing-masing wilayah di Nusantara. 

Musik keroncong dianggap sebagai hasil perkawinan antara musik Eropa (Inggris, Spanyol, Belanda, dan terutama Portugis) dengan musik lokal Indonesia, terutama gamelan. (Darini, 2012: 22). Hal ini sekaligus membuktikan bahwa Jalur Rempah yang terjadi berabad-abad silam, tidak hanya membentuk akulturasi budaya yang bisa dilihat dari berbagai cagar budaya, tetapi juga bisa kita saksikan melalui musik keroncong.

 

_________

Sumber Referensi

Badan Pusat Statistik Kabupaten Belitung. (2020). Luas Daerah, Jumlah Pulau, Tinggi Wilayah, dan Jarak ke Ibukota Menurut Kecamatan Kab. Belitung. Belitung: BPS

Darini, R. (2012). Keroncong: Dulu dan Kini. Jurnal Mozaik: Kajian Ilmu Sejarah, 6(1), 19-31. doi: https://doi.org/10.21831/moz.v6i1.3875

Harmunah. (1987). Musik Keroncong. Yogyakarta: Pusat Musik Liturgi

Imron, M. (2006). Nelayan Selat Nasik dan Alternatif Pemberdayaan. Jurnal Masyarakat dan Budaya, 8(2), 75-96

Irwansyah. (2018). Keruncong Stambul Fajar Dalam Acara Selamat Laut di Pulau Mendanau Kabupaten Belitung. Journal Etnomusikologi: Selonding, 13(13). doi: https://doi.org/10.24821/selonding.v13i13.2919

Merinda, A. (2014) Aktivitas Komunikasi Upacara Adat Maras Taun di Selat Nasik Belitung (Studi Etnografi Aktivitas Komunikasi Tradisi Upacara Adat Maras Taun di Selat Nasik, Belitung). (Skripsi). Unikom, Bandung

Winasis, R. S. (2014). Keroncong Beat Sebagai Sarana Unjuk Kegiatan Generasi Muda (Skripsi) Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta. 

Wawancara

Kik Busu Bahani (Kepala Adat Desa Selat Nasik) pada 28 Oktober 2020

_________

Ditulis oleh Royas Aulia Subagja, Laskar Rempah Prov. Kep. Bangka Belitung)

Editor: Doni Ahmadi & Tiya S.

Sumber gambar: Royas Aulia Subagja

Konten ini dibuat oleh kontributor website Jalur Rempah.
Laman Kontributor merupakan platform dari website Jalur Rempah yang digagas khusus untuk masyarakat luas untuk mengirimkan konten (berupa tulisan, foto, dan video) dan membagikan pengalamannya tentang Jalur Rempah. Setiap konten dari kontributor adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.

Bagikan:

Artikel Populer

Sambutan Kedatangan Arka Kinari di Fort Rotterdam Makassar

4 Oktober 2020

Belitung Timur dan Jalur Rempah, Dari Masa Lalu sampai Masa Kini

21 Februari 2021

Rempah, Cengkeh, dan Terbentuknya Kota Pelabuhan di Asia

7 Februari 2021

Artikel Terbaru

Telusuri Kekayaan Historis dan Budaya Kepulauan Selayar, Muhibah Budaya Jalur Rempah Kembali Digelar

24 November 2023

Ajak Nelayan Jaga Keberlangsungan Laut, Kemendikbudristek Gelar Lomba Perahu Layar Tradisional

24 September 2023

Antusias 140 Nelayan Adu Cepat dalam Lomba Perahu Layar Tradisional dan Upaya Regenerasi ke Anak Cucu

24 September 2023

Artikel Terkait

...

Rempah, Cengkeh, dan Terbentuknya Kota Pelabuhan di Asia

admin

7 Februari 2021

...

Rempah dan Teh Nusantara: Sekilas Sejarah dan Manfaatnya

admin

21 Maret 2021

...

Rempah sebagai Sumber Pengobatan Lokal: Fasal Obat dalam Pengetahuan Lokal Naskah Kuno “Ramalan tentang Gempa, Obat, Doa, Azimat”

Amos

12 Oktober 2022