Artikel

Annyorong Lopi: Tradisi Peluncuran Perahu sebagai Upaya Revitalisasi dan Rekonstruksi Jalur Rempah di Kabupaten Bulukumba

admin | 19 April 2022

Sejarah kemaritiman Nusantara memperlihatkan kepada kita sebuah bukti bahwa salah satu yang memicu berkembangnya pelayaran dan perdagangan adalah komoditas unggulan dari Nusantara berupa rempah-rempah, terutama lada, cengkeh, dan pala. Jejak kejayaan perdagangan rempah tersebut menyisakan sebuah jalur pelayaran yang kita kenal sebagai Jalur Rempah. Jalur ini merupakan jalur pelayaran yang menghubungkan Nusantara sebagai wilayah kepulauan dengan berbagai wilayah dan negara di benua lain di seberang samudra. Jalur rempah inilah yang menjadi simpul peradaban bahari Nusantara, warisan budaya kebanggaan bangsa Indonesia.

Adanya upaya untuk mengembalikan kejayaan rempah-rempah  sebagai identitas dari keindonesiaan sejalan dengan konsep pembentukan identitas nasional yang menurut Anthony  D. Smith (1991:14) kerap merujuk pada kawasan bersejarah (an historic territory) serta mitos bersama dan ingatan-ingatan historis (common myth and historical memories). Hingga abad  ke-18, Nusantara merupakan kawasan bersejarah yang menyimpan banyak mitos terkait  dengan Jalur Rempah. Jalur ini menjadikan Nusantara sebagai emporium global di mana  bangsa-bangsa dari berbagai penjuru dunia yang semula hanya membayangkan mitos surga rempah-rempah, lantas melakukan jelajah bahari untuk mencapai letak surga itu. Para petualang  bahari dari  Tiongkok, India, Arab, dan Eropa menyusuri samudra untuk sampai di kepulauan rempah-rempah. 

Perkembangan kartografi di Eropa pada abad ke-1 hingga 17, membuka jalan yang tidak hanya membantu memandu pelayaran menuju Nusantara, tetapi juga memicu persaingan niaga, politik, dan eksplorasi ilmu pengetahuan antarpetualang Eropa di Nusantara. Maka dari itu, membahas rempah-rempah bukan  hanya menyoal eksotisme. Di baliknya, ada berbagai  hal  yang mengubah perjalanan Nusantara dan dunia. 

Selama kurun waktu dua tahun terakhir, wacana mengenai Jalur Rempah sempat mengemuka di berbagai media. Wacana yang mengemuka umumnya masih mengamati keberadaan Jalur Rempah sebagai jejaring yang dibentuk oleh sejarah kontak dan interaksi dengan para penakluk dari Asia Barat; Tiongkok dan terutama para pendatang Eropa. Hampir tak ada diskusi yang mencoba mengamati kemungkinan tumbuh kembang jalur niaga ini di era yang jauh lebih awal, termasuk di Kepulauan Maluku. Perhatian umumnya ditujukan untuk menemukan jejak-jejak budaya pada salah satu jaringan niaga terpenting dalam sejarah Nusantara ini. Aspek lain yang sering didiskusikan adalah gagasan untuk menghidupkan dan merevitalisasi kembali potensi jalur historis ini dalam konteks masa kini.

Salah satu kabupaten yang termasuk ke dalam Jalur Rempah adalah Bulukumba. Bulukumba merupakan salah satu simpul perdagangan rempah Nusantara yang membentuk Jalur Rempah. Di dalamnya, menyangkut pula kemenyan Sulawesi (Sindora galedupa; Fabaceae), Rumphius Herbarium Amboinense, dan kemenyan dalam legenda La Galigo.

Salah satu profesi masyarakat Bulukumba dikenal dengan para pekerja perahu (Panrita Lopi), terutama di bagian dataran pesisir timur Bulukumba, yaitu masyarakat Konjo Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba. Jenis Perahu yang diproduksi oleh masyarakat Konjo Desa Ara ialah perahu pinisi. Perahu pinisi ini adalah perahu besar yang terbuat dari kayu dan merupakan kapal legendaris penakluk Jalur Rempah dunia. Kapal pinisi menjadi bukti sejarah sekaligus saksi bisu kehebatan pelaut Nusantara. Tak hanya sebagai armada laut tangguh, kapal ini pun memiliki filosofi mendalam.

Bulukumba merupakan kabupaten yang identik dengan perahu pinisinya. Selain itu, Bulukumba juga kaya akan tradisi dan kebudayaan yang menjadi identitas bangsa. Hal ini menunjukkan betapa kebudayaan merupakan aspek yang sangat penting bagi suatu bangsa. Salah satu tradisi atau kebudayaan yang masih dijaga oleh masyarakat Bulukumba, khususnya di lokasi pembuatan perahu pinisi, Kelurahan Tanah Lemo, Kecamatan Bontobahari, yakni tradisi Annyorong Lopi. Tradisi yang turun-temurun ini masih terus terjaga oleh para pewarisnya. Tradisi tersebut mendapat pengakuan dunia dengan dijadikannya sebagai Warisan Budaya TakBenda oleh UNESCO tahun 2017 lalu. Tradisi ini juga menjadi salah satu acara yang tiap tahun diadakan sebagai rangkaian dari Festival Pinisi. Festival Pinisi masuk dalam kalender 100 Event Wonderful Festival Nasional dari Kementerian Pariwisata.

Tradisi Annyorong Lopi adalah sebuah ritual mendorong perahu hingga perahu tersebut bisa berlayar di laut dengan tenaga manusia yang menggunakan tali yang ditarik ratusan orang di bibir pantai. Tradisi Annyorong Lopi ini bertujuan untuk meringankan beban si pemilik perahu. Ada beberapa prosesi yang wajib dilakukan pemilik kapal dan juga tukang sebelum memulai tradisi Annyorong Lopi, yakni: 

  1. Ritual Ammoci 

Ritual Ammoci adalah ritual yang dimulai dengan melubangi lunas dengan bor oleh sang guru spiritual yang ditunjuk dan telah memasukkan emas ke dalam mulutnya. 

  1. Ritual Songkabala 

Ritual Songkabala adalah ritual yang dilaksanakan dengan menaruh sesajen yang ditata di atas kapal, terdiri dari daging sapi atau kambing, songkolo’, onde-onde, baje’ dan kue-kue khas tradisional yang umumnya memakai gula aren. 

Untuk memicu semangat para penarik kapal, seorang pemandu akan memberikan aba-aba sehingga terjadi keselarasan dalam menghentakkan tali yang ditarik, biasa disebut Appatara Taju. Appatara Taju ini merupakan nyanyian-nyanyian orang dulu yang berisi cerita-cerita lucu yang membuat gelak tawa.

Tradisi ini menjadi wujud kearifan lokal masyarakat Bulukumba, terutama di daerah pesisir. Tradisi ini memberi bukti nyata persatuan, kesatuan, semangat kebersamaan, gotong royong, dan etos kerja masyarakat Bulukumba. Tradisi ini juga merupakan salah satu usaha merevitalisasi dan merekonstruksi Jalur Rempah Nusantara, khususnya di daerah kabupaten Bulukumba. Annyorong Lopi merupakan tradisi yang wajib dijaga dan dilestarikan sebab mampu menghidupkan kembali sejarah Jalur Rempah Indonesia dan menjadi bahan nostalgia keperkasaan penakluk Jalur Rempah dunia, yakni kapal pinisi di masa lampau.

 


_______

Daftar Pustaka

Khairunnisa Syifa Nuri. 2020. Sejarah Terciptanya Jalur Rempah, Dipengaruhi Budaya Ramah Tamah Nusantara. https://www.kompas.com/food/read/ 2020/09/24/103533975/sejarah-terciptanya-jalur-rempah-dipengaruhi-budaya-ramah-tamah-nusantara?page=all (Diakses pada 30 Agustus 2021, 21.36 WITA).

Mulyadi Yadi. 2016. Kemaritiman, Jalur Rempah dan Warisan Budaya Bahari Nusantara. Talkshow Pekan Budaya Indonesia. researchgate.net.

Parera Aser, Iswary Ery, Hasyim Muhammad. 2020. Pengembangan Media Augmented Reality pada Benda-Benda Kebudayaan dalam Prosesi Ritual Pembuatan Perahu  Pinisi di Desa Ara, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba.  Jurnal Al – Qiyam 1(2) : 63.

Pengenalan Perahu Pinisi di Kabupaten Bulukumba. Jurnal Imajinasi  Seni dan Pendidikan Seni 3 (1) : 1.

Prihardhyanto Ary. 2021. Bulukumba: Titik Temu di Jalur Rempah Dunia. http://lipi.go.id/publikasi/bulukumba-titik-temu-di-jalur-rempah-dunia/ 30284  (Diakses pada 30 Agustus 2021, 22.06 WITA).

Ramdani Astuti, Djirong Agussalim, Aswar. 2019. Perancangan Media Informasi

Ririmasse Marlon NR. 2017.  Sebelum Jalur Rempah: Awal Interaksi Niaga Lintas Batas Di Maluku dalam Perspektif Arkeologi. Kapata Arkeologi/13 (1) : 48. 

_______

Naskah ini merupakan karya pemenang pilihan dalam Lomba Penulisan Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia 2021 kategori Pelajar. Naskah telah melewati proses penyuntingan untuk kepentingan publikasi di laman ini. Judul asli artikel ini adalah “Annyorong Lopi: Tradisi Peluncuran Perahu Penakluk Jalan Rempah sebagai Upaya Revitalisasi dan Rekonstruksi Jalur Rempah di Kabupaten Bulukumba”.

_______

Penulis: Riswandi

Editor: Tiya S.

Sumber gambar: bulukumbakab.go.id

Bagikan:

Konten Populer

Rempah Gulai Kambing Mas Wis, Bercita Rasa Khas Bali

25 April 2022

Jalur Rempah: Masa Lalu dan Masa Depan Kita

31 Januari 2022

Muhibah Budaya Jalur Rempah Resmi Berlayar pada Hari Lahir Pancasila

1 Juni 2022

Konten Terbaru

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

26 Januari 2023

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

19 Januari 2023

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

12 Januari 2023

Konten Terkait

...

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

merry kurnia

12 Januari 2023

...

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

Royas Aulia Subagja

26 Januari 2023

...

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

Achmad Khalik Ali

19 Januari 2023