Artikel

Benteng Nassau: Kisah dan Jejak Perdagangan Rempah di Maluku

admin | 1 November 2020

Tidak hanya menjadi barang yang diperjualbelikan, perdagangan rempah pada masa lalu juga meninggalkan sejumlah jejak yang hingga kini masih bisa ditemui. Berdirinya Benteng Nassau menjadi salah satu dari sekian banyak jejak yang ditinggalkan oleh bangsa asing dalam misi  mencari rempah.

Benteng Nassau yang berada di Desa Nusantara, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, mulai dibangun oleh VOC pada tahun 1607. Terletak di pesisir pantai sisi selatan Pulau Neira, Benteng Nassau berdiri di lokasi pondasi benteng Portugis yang tidak terselesaikan seabad sebelumnya. 

Proses pembangunan benteng ini sempat terhambat karena terbunuhnya Verhoeven saat melakukan perundingan dengan beberapa bangsawan Banda. Ketika tiba di Banda, Verhoeven langsung menerapkan monopoli perdagangan rempah di Neira, karena tidak senang dengan keberadaan orang Inggris yang lebih dulu berdagang rempah di pulau itu. Para bangsawan yang sebelumnya sudah berbisnis dengan orang Inggris, juga ikut ditekan oleh Verhoeven. Mereka disingkirkan dari rumah mereka di Neira dan terpaksa pindah ke Lonthor. 

Beberapa minggu kemudian, para bangsawan tersebut mengajukan permintaan kepada Verhoeven untuk merundingkan persetujuan-persetujuan baru tentang perdagangan rempah antara mereka dan VOC. Verhoeven yang menyetujui permintaan tersebut datang ke lokasi yang ditentukan bersama dengan rombongannya untuk membahas perundingan. 

benteng nassau, jalur rempah

Gambar 01: Benteng Nassau di Banda Neira

Penawaran tersebut rupanya hanya berupa tipuan dari para bangsawan yang merasa dirugikan oleh Verhoeven. Verhoeven dan beberapa pedagang Belanda tewas terbunuh, tidak jauh dari tempat yang ditentukan untuk melakukan perjanjian. Beberapa orang dijadikan sandera dan dibawa ke Lonthor. Hanya sang juru tulis yang selamat melarikan diri, Jan Pieterszoon Coen—kemudian menjadi Gubernur Jenderal VOC, dan membalaskan dendamnya kepada rakyat Banda pada 1621.

Sepeninggal Verhoeven, Simon Janszoon Hoen diangkat menjadi laksamana VOC yang baru. Ia kemudian segera merampungkan pembangunan Benteng Nassau, karena takut akan terjadi serangan besar oleh rakyat Banda. Hoen hanya dikunjungi oleh seorang pedagang Belanda dari Lonthor, Wouter van den Enden. Pedagang muda Belanda itu diutus untuk menyampaikan pesan damai bersyarat dari para bangsawan dari Orantatta dan Selamme. 

Pesan tersebut berisi bahwa para bangsawan itu tidak terlibat dalam insiden penjebakan Verhoeven di Neira. Mereka juga berjanji akan menjaga keselamatan para agen-agen pedagang Belanda namun dengan satu syarat, yaitu Hoen harus bersedia membongkar Benteng Nassau yang baru saja dibangun. Hoen menolak mentah-mentah syarat yang disampaikan Enden itu. Akhirnya, Enden berbohong untuk menyelamatkan dirinya dari bangsawan Banda di Lonthor. 

Dikarenakan berita palsu yang dibawa oleh Enden, dua orang Banda yang bertolak ke Neira ditangkap oleh kapal VOC dan dipaksa untuk menyampaikan ancaman agar melepaskan pedagang Belanda yang sebelumnya di tahan. Akan tetapi, orang Banda tersebut berhasil melarikan diri. Berita berikutnya yang diterima Hoen ialah dua pedagang mereka di Lonthor, Cornelis Van Eerden dan Dirk Pieterszoon, telah dipenggal.

benteng nassau, jalur rempah

Gambar 02: Benteng Nassau di Banda Neira

Sebulan kemudian, Hoen mengirimkan beberapa ekspedisi penghukuman untuk menyerang kampung-kampung di Lonthor. Ekspedisi itu juga menangkap dan membakar perahu-perahu orang Banda, sekaligus merampas barang-barangnya. Hoen dan perwiranya semakin percaya diri dengan keberhasilannya di Lonthor itu. Tidak berapa lama, ia mengirimkan pasukan prajurit angkatan lautnya untuk menyerang pertahanan para orang Banda di Selamme. Angkatan laut VOC mengalami kekalahan yang menyebabkan Hoen mengatur armadanya untuk memblokade pantai di Selamme. VOC juga memotong pasokan makanan, menangkap orang Banda yang lari melalui laut, dan menghalangi datangnya bala bantuan.

Berkat strategi itu, pertikaian yang terjadi dengan orang Banda akhirnya berakhir dengan sebuah perjanjian hukum yang mengatur tentang agama, orang pelarian, dan monopoli dagang. Dalam perjanjian itu juga memuat ketentuan bahwa seluruh kapal dan perahu yang masuk harus berlabuh di dekat Benteng Nassau untuk diperiksa. Semua lalu lintas antarpulau harus seizin Belanda. Tidak seorang pun boleh tinggal di Neira tanpa seizin Belanda, dan Neira menjadi daerah kekuasaan Belanda.

Hoen yang sudah merasa aman dan menang dengan perjanjian tesebut akhirnya meninggalkan Banda untuk kembali memperluas wilayah kekuasaan VOC. Hendrik van Bergel ditunjuk sebagai Gubernur Banda menggantikan Jacob de Bitter. Hoen juga meninggalkan pasukan terkuatnya untuk menjaga Benteng Nassau yang juga digunakan sebagai gudang penyimpanan rempah-rempah. Sepeninggal Hoen, orang Banda yang tinggal di Pulau Ai dan Rhun melanggar perjanjian baru itu dan juga melakukan pemberontakan kepada pedagang-pedagang Belanda yang ada di sana.  

 

 

Sumber:


Sekilas Sejarah Benteng Nassau – Balai Pelestarian Cagar Budaya Maluku Utara. Balai Pelestarian Cagar Budaya Maluku Utara Diakses pada 25 Oktober 2020 dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbmalut/sekilas-sejarah-benteng-nassau/.

Pembangunan Benteng Nassau yang Penuh Drama – Balai Pelestarian Cagar Budaya Maluku Utara. Balai Pelestarian Cagar Budaya Maluku Utara. Diakses pada 25 Oktober 2020 dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbmalut/pembangunan-benteng-nassau-yang-penuh-drama/.

Sumber Gambar:

Gambar 01: http://hdl.handle.net/1887.1/item:773072

Gambar 02: http://hdl.handle.net/1887.1/item:770864


Naskah: Syahidah Sumayyah

Editor: Tiya Septiawati

Bagikan:

Konten Populer

Dari Pijakan Awal Rempah Menjadi Sejarah Kemaritiman Nusantara

29 Maret 2022

Nova Ruth: Dari Makassar, Sejarah Rempah, hingga Perempuan

28 Februari 2021

Pelabuhan Malaka: Pengaruh Angin, Komoditas Perdagangan, dan Kebijakan Penguasa

15 Desember 2022

Konten Terbaru

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

26 Januari 2023

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

19 Januari 2023

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

12 Januari 2023

Konten Terkait

...

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

merry kurnia

12 Januari 2023

...

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

Achmad Khalik Ali

19 Januari 2023

...

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

Royas Aulia Subagja

26 Januari 2023