Artikel

Dari Jalur Rempah: Peta, Navigasi, dan Peran Pelaut Nusantara untuk Pengetahuan Hari Ini

admin | 15 Februari 2021

Seorang fisikawan terkenal kelahiran Hungaria, Edward Teller, pernah mengatakan “Ilmu pengetahuan pada hari ini adalah teknologi di masa mendatang”. Dalam arti lain, segala jenis pengetahuan dan teknologi masa kini tentu tidak dapat terlepas dari pengetahuan yang didapat dari remah-remah masa lalu.

Di antara sekian banyak sumbangan ilmu pengetahuan, navigasi adalah salah satu dari sekian banyak teknologi hari ini yang dapat kita nikmati dan tidak terlepas dari peran-peran ilmu pengetahuan di masa lampau. Dalam sebuah webinar bertajuk ‘Teknologi dan Transportasi Jalur Rempah’ yang dihelat BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) Jawa Tengah dengan narasumber Singgih Tri Sulistyono, Junus Satrio Atmojo, dan Andi Putranto. Kita dapat melihat bagaimana Jalur Rempah dan peran orang-orang Nusantara pada masa lampau ikut ambil bagian dalam membentuk peradaban hari ini.

Dari Navigasi ke Bentuk Bumi

Navigasi sejatinya memang berfungsi sebagai alat bantu bagi seseorang untuk mencapai suatu tempat yang hendak dituju. Namun, siapa yang tahu bahwa hal ini juga membawa kepada pengetahuan lain. Misalnya, tentang bagaimana dalam perjalanan mencari rempah-rempah di Timur Indonesia, atau Nusantara pada masa itu, para pelaut Eropa justru dipaksa meninjau ulang pemikiran mereka tentang bentuk bumi.

Dalam pemaparannya, Junus Satrio Atmojo mengungkapkan hal tersebut. “Kita tahu, akhirnya pelayaran orang-orang Spanyol dan Portugis bertemunya di Maluku, dan di Maluku lah keduanya ribut, saling mencaci maki, dan menuduh mencuri. Keributan keduanya sampai dibawa ke Vatikan [untuk diadili karena tuduhan kecurangan], tetapi ketika dilihat catatan perjalanan mereka, ternyata keduanya tidak ada yang menyalahi perjanjian, barulah terbukti bahwa dunia itu bulat. Yang tadinya mereka bayangkan flat seperti meja.”

Dalam buku Sejarah Rempah: Dari Erotisme sampai Imperialisme (2011) karya Jack Turner, rempah-rempah Nusantara memang tak sedikit membuat orang-orang Eropa meninjau ulang pengetahuan mereka. Betapa inferiornya mereka di hadapan rempah-rempah Nusantara dan betapa berhasratnya mereka untuk menguasai hasil bumi paling istimewa ini.

Yang Karib di Nusantara dan Membingungkan Eropa

Ada sebuah pertanyaan yang muncul di sela-sela webinar, yakni perihal apakah orang-orang Nusantara di masa lalu sudah mengenal peta navigasi? Meskipun tidak ada bukti tertulis, namun ada banyak hal yang bisa dijadikan bukti bahwa ilmu navigasi memang sudah menjadi sahabat karib para pelaut Nusantara.

Di antaranya adalah pada tahun 1275, ketika Raja Kertanegara dari Singosari mengirim tanda persahabatan berupa Arca Manjusri kepada Raja Melayu yang bermukim di pedalaman Jambi dengan menggunakan perahu. Hal ini tentunya begitu mustahil jika para pelaut yang merupakan utusan Raja Kertanegara ini tidak mengenal peta ataupun navigasi, terlebih letak kerajaan Singosari menuju ke pedalaman Sumatera tidaklah dekat, melewati banyak cabang sungai dan hutan lebat. Menurut Junus Satrio Atmojo, selain peta tentunya ada teknologi lain yang digunakan pelaut utusan ini sebagai petunjuk.

Lalu, pada tahun 1506 ketika Ludovico di Varthema berlayar dari Kalimantan menuju Jawa menggunakan kapal pribumi, ia menyaksikan para nahkoda di kapal tersebut sudah menggunakan kompas dan peta yang penuh dengan garis mata angin. Hal ini membuat ia terheran-heran karena pelaut Jawa sudah menggunakan peta dan kompas yang orang-orang Portugis belum kenal. Dalam buku Adrian B. Lapian, Pelayaran dan Perniagaan Nusantara turut dikisahkan bahwa sang nahkoda yang membawa di Varthema ini bercerita bahwa jauh di sebelah selatan pulau Jawa terdapat lautan yang besar, tempat di mana siang hari berjalan pendek dengan hanya empat jam lamanya (“… dove il giorno non dura piu che quattro ore …“). Lapian juga menambahkan jika keterangan di Varthema itu memiliki bukti yang kuat, maka bisa dipastikan pelayaran di Samudra Hindia sudah sedemikian jauh sampai melintasi daerah subtropis sebelah selatan.

Selain itu, catatan lain yang menunjukan teknologi ini telah dimiliki orang Nusantara adalah ketika pelaut terkenal, Afonso de Albuquerque, mengirimi sebuah peta berukuran besar (ũa gramde carta) buatan orang-orang Jawa kepada Raja Portugis sebagai persembahan atas keberhasilannya menaklukan kota Malaka pada tahun 1515. Di mana pada peta itu, terhampar jelas dari Pulau Madagaskar hingga Amerika Selatan (Brasil). Sayangnya kapal Albuquerque yang membawa peta bertuliskan huruf Jawa ini tenggelam sehingga tidak ada bukti tentang pengetahuan pelayaran Jawa pada masa itu, betapa jauh mereka bisa berlayar dan sejauh apa pengetahuan pada waktu itu tentang kortografi Nusantara.

jalur rempah, peta nusantara, spice routes

Peta Sunda dan Jawa buatan Portugis. Sumber: Webinar “Teknologi dan Transportasi Jalur Rempah”

Peta dan Upaya Penguasaan Rempah

Dalam Sejarah Rempah, Jack Turner menuliskan ulang penggambaran dari dokumentasi kuno bangsa Catalunya tentang sebuah perjamuan di Saló del Tinell, Barcelona, tentang hadirnya Dunia Baru, di mana pelaut terkenal Christopher Columbus berdiri sebagai penyampai pesan penting dalam sejarah dunia sejak berakhirnya zaman es, pendahuluan alam semesta yang baru saja dibentuk ulang.

Bagi imperialis Eropa, Dunia Baru adalah sebuah tanah air baru yang bisa dikuasai. Hal ini pun tak heran ketika pakar sejarah menilai berlebihan warisan Vasco da Gama akan penguasaan rempah. “Sudah jelas bahwa rempahlah yang membuat Lisbon dan rival-rivalnya terkesan. Melihat kembali ke zaman keemasan penaklukan di masa kemunduran kerajaan, pakar sejarah Yesuit, Fernão de Queyroz (1617-1688) mengklaim bahwa warisan da Gama dan kepemilikannya atas rempah-rempah secara khusus, tidak akan gagal mencengangkan dunia.” tulis Turner.

Rempah dan upaya imperialis ini pun pada akhirnya membuat kartografi atau ilmu membuat peta yang dimiliki oleh orang-orang Nusantara dimanfaatkan oleh bangsa asing. Dalam upaya menguasai perdagangan rempah-rempah di Nusantara, pada abad ke-16, bangsa Portugis mulai secara sistematis memetakan wilayah-wilayah Nusantara. Dalam peta yang dibuat Portugis ini, mereka membedakan antara wilayah Sunda dan Jawa yang diperkirakan adalah dua pulau terpisah.

Junus menekankan bahwa kemampuan orang Portugis dalam membuat peta tidak bisa dilepaskan dari pengaruh pelaut Nusantara, khususnya orang Melayu dan Jawa. “Pada abad ke-16 peta sudah dibuat, dan yang membuat pertama kali adalah orang Portugis. Pertanyaannya, dari mana mereka bisa membuat peta? [peta] Jawa, Sumatera, Kalimantan[?] Ternyata dari orang-orang melayu dan dari orang-orang Jawa. Orang-orang Jawa itu sudah sangat pandai membuat peta, dari situlah mereka belajar.“

Catatan dan fakta-fakta ini menjadi penting untuk melihat kembali sumbangsih orang-orang Nusantara pada masa lalu yang disebabkan karena rempah dan berbagai jalur perdagangan yang tercipta karenanya.

Seorang pemikir berkebangsaan Amerika Serikat keturunan Palestina, Edward Said, mengungkap bahwa rempah dan perdagangannya adalah satu dari sekian banyak imajinasi orientalisme yang kental dengan keindahan yang glamor, kisah petualangan abadi dari cerita Sinbad hingga deretan catatan nonfiksi yang terkadang sama menakjubkannya. Satu dari sekian sebab yang membuat bangsa imperialis besar memiliki bejibun cerita heroisme tanpa sedikit pun memberi catatan kaki pada pengetahuan yang didapatnya dari tempat yang turut berperan dalam pengetahuan hari ini.

________

Sumber:

Lapian, Adrian B. Pelayaran dan Perniagaan Nusantara(Komunitas Bambu. 2008)

Said, Edward. Orientalism. (Random House. 1979)

Turner, Jack. Sejarah Rempah: dari Erotisme sampai Imperialisme. (Komunitas Bambu. 2011)

Webinar Teknologi dan Transportasi Jalur Rempah’ dengan narasumber Singgih Tri Sulistiyono, Junus Satrio A, dan Andi Putranto (https://www.youtube.com/watch?v=G3sk0xgNC_I) diakses pada 27 Januari 2021

________

Naskah: Doni Ahmadi

Editor: Tiya S.

Sumber gambar: Jodocus Hondius, 1610.

Bagikan:

Konten Populer

Pulau Selayar: Titik Strategis Lalu Lintas Pelayaran Jalur Rempah di Nusantara

8 Oktober 2020

Ketika Rebon Menjadi Cirebon dan Gerbang Interaksi Budaya di Pelabuhan Muara Jati

22 Desember 2022

Kepulauan Banda: Dari Rempah Pala dan Apa-apa yang Terjadi Setelahnya

5 Oktober 2020

Konten Terbaru

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

26 Januari 2023

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

19 Januari 2023

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

12 Januari 2023

Konten Terkait

...

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

Achmad Khalik Ali

19 Januari 2023

...

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

merry kurnia

12 Januari 2023

...

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

Royas Aulia Subagja

26 Januari 2023