Artikel

Kejayaan Komoditas Gula pada Masa Perdagangan Rempah

EKO SETYO NURKHAMDANI | 11 Januari 2023

Keterhubungan antarpulau di Nusantara telah terjadi sekitar 3000 tahun silam. Keterhubungan tersebut dinamakan Jalur Rempah,  sebuah jalur perdagangan tertua di dunia. Jalur Rempah memanjang sampai ke belahan benua lain dengan melintasi samudra. Jalur ini merupakan rute yang terbentuk karena perdagangan rempah-rempah dari Timur Nusantara, yaitu pala dan cengkeh. Namun, belakangan komoditas yang diperdagangkan termasuk juga kayu cendana, gaharu, gula, teh, kopi, sampai pengawet mayat. 

Selain rempah, gula juga menjadi salah satu komoditas unggulan Nusantara. Banda Naira sebagai penghasil rempah utama dunia tergeser oleh Jawa yang saat itu menjadi salah satu penghasil gula terbaik. Dalam kurun waktu tahun 1800-1930, gula menjadi produk olahan alam paling penting di dunia.

Tampak depan PG Sragi (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Pabrik Gula Sragi sudah menjadi “landmark” bagi Kecamatan Sragi sejak dulu kala. Dengan bentuk bangunan yang megah dengan cerobong asap yang menjulang tinggi, pabrik tersebut dapat dilihat oleh hampir separuh desa di wilayah Kecamatan Sragi dan menjadi simbol tidak resmi dari keberadaan daerah yang bernama Sragi. Sebagian warga Sragi dan sekitarnya juga menggantungkan hidupnya pada pabrik ini dengan menjadi buruh maupun petani tebu yang hasil tanamnya juga menjadi bahan baku utama dari pabrik ini. 

Perasaan bangga sering kali muncul karena menjadi warga Pekalongan, khususnya kecamatan ini. Mengapa demikian? Hal ini karena Sragi pernah menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa ini saat Indonesia menjadi salah satu penghasil gula terbesar di dunia. Dalam catatan Prof Dr. Mubyarto disebutkan bahwa selama bertahun-tahun sebelum Perang Dunia II, industri gula merupakan salah satu industri terpenting di Indonesia. Pada tahun 1928, industri gula menghasilkan tiga perempat dari ekspor Jawa secara keseluruhan dan industri tersebut telah menyumbang seperempat dari seluruh penerimaan pemerintahan Hindia Belanda. Pada masa itu, terdapat 178 pabrik gula yang menyebabkan Jawa menjadi eksportir gula terbesar di dunia yang hanya kalah oleh Kuba (Mubyarto, 1984: 1). Dari 178 pabrik gula yang ada, pabrik gula Sragi adalah salah satu yang terbesar di samping PG Wonopringgo dan Kalimatie (Ilin Suryantono dalam Paramita, 2010: 49).

Lokomotif PG Sragi (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Lokomotif dan Lori sebagai Penggerak Industri

Dikutip dari id.wikipedia.org, disebutkan bahwa lokomotif adalah bagian dari rangkaian kereta api di mana terdapat mesin untuk menggerakkan kereta api sehingga lokomotif merupakan sumber tenaga yang digunakan untuk menarik beban yang berada di dalam lori. Umumnya, lokomotif berada di paling depan dari rangkaian kereta api. Sementara itu, lori dalam KBBI diartikan sebagai gerobak yang berjalan di atas rel. Lori merupakan alat angkut bagi tebu yang dipanen untuk dibawa ke pabrik pengolahan yang ditarik oleh lokomotif.

Pada industri gula, lokomotif dan lori digunakan untuk memindahkan tebu hasil panen untuk dibawa ke pabrik pengolahan. Lokomotif dan lori dapat bekerja dengan baik pada medan dengan jarak angkut yang panjang dengan muatan yang diangkut relatif besar. Pemilihan penggunaan lori dan lokomotif sebagai alat angkut didasarkan pada pertimbangan jalan yang relatif datar, yaitu dengan kemiringan maksimum 5%. Prinsip kerja lokomotif dapat dibedakan berdasarkan mesin yang digunakan untuk menggerakan lokomotif, di antaranya lokomotif uap, diesel mekanis, diesel elektrik, diesel hidraulis, listrik, dan baterai.

Warga mengikuti pesta giling PG Sragi (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Sistem tanam paksa yang diterapkan pada masa gubernur Jenderal Van Den Bosch (1830) menetapkan bahwa seperlima tanah penduduk harus disediakan untuk tanaman yang ditetapkan oleh pemerintah, yaitu jenis-jenis tanaman yang laris di pasar Eropa, seperti kopi, teh, tembakau, kapas, dan tebu. Sejak dimulainya sistem tanam paksa ini, tercatat ada 178 pabrik gula (PG) dibangun di tanah jajahan Belanda, terbanyak berada di Jawa. Dalam mengembangkan industri tebu, pemerintah kolonial Belanda membangun fasilitas yang terbilang sangat mapan. Setiap pabrik gula, dilengkapi dengan jaringan rel lori untuk angkutan tebu dari perkebunan ke pabrik gula.

Seperti halnya pabrik gula yang lain, PG Sragi dalam melakukan operasionalnya dibantu dengan lokomotif yang berfungsi untuk mengangkut tebu masuk ke dalam pabrik (untuk saat ini pengangkutan tebu dari kebun telah berubah menggunakan kendaraan truk yang menggantikan fungsi lokomotif). Lokomotif yang dimiliki oleh PG Sragi ada dua tipe, yaitu tipe uap yang menggunakan bahan bakar kayu bakar, batu bara, atau ampas tebu itu sendiri. Tipe kedua adalah tipe diesel yang menggunakan bahan bakar solar. Jumlah lokomotif yang dimiliki PG Sragi ada 10 buah, 8 mesin uap, dan 2 mesin diesel. Rinciannya adalah sebagai berikut:

  1. Lokomotif No. 5 (tahun 1928)

  2. Lokomotif No. 6

  3. Lokomotif No. 7 (tahun 1928)

  4. Lokomotif No. 22 (tahun 1976)

  5. Lokomotif No. 8 (tahun 1921)

  6. Lokomotif No. 26

  7. Lokomotif No. 10

  8. Lokomotif No. 18 (tahun 1921)

  9. Lokomotif No. 20 (tahun 1921)

  10. Lokomotif No. 44

Pada masa silam, untuk memudahkan pengangkutan tebu-tebu yang dipanen, dibuat jaringan rel lori ke sejumlah wilayah Kesesi, Comal, Bodeh, dan wilayah lain yang berada pada posisi datar. Kemudian, tebu diangkut dengan menggunakan lori besi yang ditarik loko uap dan diesel, yang dikenal oleh masyarakat setempat dengan nama sepur. Apakah serupa dengan Kamandaka atau Kaligung? Tentu saja tidak. Rel lori tebu berdiameter lebih kecil ketimbang rel kereta api umum. Dengan lokomotif yang juga berdimensi lebih kecil, kecepatan sepur tebu hanya sekitar 10–40 km per jam saat muatannya penuh. Menurut penuturan beberapa orang, saking lambatnya, kerap kali bisa dikejar dan dinaiki anak-anak zaman dulu hingga lori sampai ke pabrik gula. Selama perjalanan dari perkebunan menuju pabrik gula, batang tebu yang diangkut ini pula sering kali 'dicuri' penduduk sehingga kerap merepotkan mandor pabrik gula yang mengawasi panen tebu saat itu. Setiap lokomotif bisa menarik hingga 20 lori yang muatan setiap lorinya 3–4 ton. 

Lama tak digunakan, jaringan rel lori yang dibangun PG Sragi saat ini kondisinya terbengkalai. Di wilayah Kesesi sampai ke Sragi, rel lori tersebut sudah tak lagi berbekas. Sementara besi tua bekas lori, bantalan, dan fasilitas weselnya sudah raib dicuri tangan jahil. Tanah yang jadi pijakan bantalan rel lori tebu sebenarnya berstatus tanah PG Sragi (dalam hal ini PTPN IX). Kini, banyak yang beralih fungsi menjadi tempat usaha, ladang, dan pemukiman warga. Jaringan rel lori tersebut saat ini hanya bisa ditemui di sekitaran pabrik gula. Itu pun hanya digunakan untuk mengangkut tebu dari tempat penimbangan menuju tempat produksi di dalam pabrik. Beberapa jembatan yang sebelumnya digunakan untuk rel lori tebu melintasi sungai masih ada beberapa yang utuh, di antaranya ada di Desa Pantianom yang membelah sungai Sragi. Pondasi jembatan rel lori tebu kemudian disulap menjadi jembatan penyeberangan warga.

 

__________

Sumber Referensi

Bachriadi, Dianto. 2004. Hantaman Neoliberalisme Terhadap Industri Gula di Indonesia. Jakarta: IGJ.

Kano, Hiroyoshi dkk.1996. Di Bawah Asap Pabrik Gula: Masyarakat Desa di Pesisir Jawa Sepanjang Abad Ke-20. Yogyakarta: Akatiga dan Gadjah Mada University press

Kartodirdjo, Sartono dan Djoko Suryo. 1991. Sejarah Perkebunan di Indonesia. Yogyakarta: Aditya Media.

Khudori. 2004. Neoliberalisme Menumpas Petani: Menyingkap Kejahatan Industri Pangan. Yogyakarta: Resist Book

Lindblad, Thomas J (ed). 2002. Fondasi Historis Ekonomi Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Mubyarto. 1984. Masalah Industri Gula di Indonesia. Yogyakarta: BPFE.

Mubyarto dan Daryanti. 1991. Gula: Kajian Sosial Ekonomi. Yogyakarta: Aditya Media.

Mubyarto, dkk. 1992. Tanah dan Tenaga Kerja Perkebunan: Kajian Sosial Ekonomi. Yogyakarta: Aditya Media.

Ricklefs, M.C. 2001. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta : Serambi.

Suryantono, Ilin. 2010. Kondisi Sosial Ekonomi Buruh Pabrik Gula Sragi Kabupaten Pekalongan Pasca G 30 S. Jurnal Paramita vol. 20 No. 1 tahun 2010

https://bajakokoh.wordpress.com/2016/10/05/macam-ukuran-lebar-rel-lori-pabrik-gula-di-indonesia/. Diakses hari Senin tanggal 26 September 2022 pukul 11.25 WIB.

__________

Ditulis oleh Eko Setyo Nurkhamandani (ekowarurejaba3@gmail.com

Editor: Wardani Pradnya Dewi & Tiya S.

Sumber gambar: Eko Setyo Nurkhamandani

Konten ini dibuat oleh kontributor website Jalur Rempah.
Laman Kontributor merupakan platform dari website Jalur Rempah yang digagas khusus untuk masyarakat luas untuk mengirimkan konten (berupa tulisan, foto, dan video) dan membagikan pengalamannya tentang Jalur Rempah. Setiap konten dari kontributor adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.

Bagikan:

Konten Populer

Selaras dengan Misi TNI AL untuk Majukan Maritim Indonesia, Muhibah Budaya Jalur Rempah Gunakan KRI Dewaruci untuk Pelayaran

2 Juli 2022

Pulau Ternate, Kota Dagang & Titik Temu Pedagang Nusantara dan Asing

21 Oktober 2020

Pelabuhan Malaka: Pengaruh Angin, Komoditas Perdagangan, dan Kebijakan Penguasa

15 Desember 2022

Konten Terbaru

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

26 Januari 2023

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

19 Januari 2023

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

12 Januari 2023

Konten Terkait

...

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

merry kurnia

12 Januari 2023

...

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

Achmad Khalik Ali

19 Januari 2023

...

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

Royas Aulia Subagja

26 Januari 2023