Artikel

Kepulauan Banda: Dari Rempah Pala dan Apa-apa yang Terjadi Setelahnya

admin | 4 Oktober 2020

Hari ini kita mengenal rempah pala melalui pelbagai hasil olahannya, seperti es buah pala, manisan pala, keripik pala, sirup pala dan masih banyak lagi. Namun, di masa lampau, pala tidak sesederhana apa yang bisa kita lihat dan rasakan sekarang. Tanaman yang menghasilkan fuli ini juga turut memiliki sejarah dengan menjadikan pulau penghasilnya tujuan singgah dari banyak bangsa di dunia untuk datang hingga membuat rute yang disebut sebagai Jalur Rempah.

Sekilas Sejarah Kepulauan Banda

Saat ini, kepulauan Banda meliputi 11 pulau, tetapi hanya 7 pulau yang dihuni dan ditanami pohon pala, sedangkan 4 pulau lainnya dipenuhi batu karang yang tidak dapat dihuni dan ditanami tumbuhan. Kekhasan kepulauan ini juga ditandai dengan tidak adanya aliran sungai. Kepulauan penghasil pala ini, baik latar depan maupun latar belakang, berhadapan dengan selat, teluk dan laut terbuka. Laut Banda merupakan laut biru kelam yang memiliki Palung dengan kedalaman mencapai 7.400 meter hasil dari pertemuan tiga lempeng kulit bumi, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. 

Kepulauan Banda yang terletak pada posisi: 5°43 – 6°31 Lintang Selatan dan 129°44 -130°04 Bujur Timur ini mengalami iklim laut tropis dan iklim musim karena dikelilingi laut yang luas, sehingga iklim laut di daerah ini berlangsung seirama dengan iklim musim yang ada. 

Meskipun dikenal sebagai satu-satunya penghasil pala hingga abad 18, Kepulauan Banda merupakan daerah yang produksinya tidak berbasis pada pertanian. Selain rempah-rempah, buah kelapa, dan beberapa jenis buah lain, bahan makanan termasuk garam tidak diproduksi di Banda.  Untuk kebutuhan sehari-hari, masyarakatnya bergantung dari pasokan produksi bahan makanan dari kepulauan lain.

Meskipun begitu, Kepulauan Banda tetap tidak kehilangan pesonanya melalui tanaman pala. Tanaman yang bisa hidup berkelanjutan dari angin dan curah hujan serta iklim di kepulauan Banda ini juga sekaligus membuat masyarakat Kepulauan Banda mampu bertahan dari hasil rempahnya. Melalui rempah pala ini, selain sebagai bahan tukar kebutuhan pokok masyarakatnya, juga menghadirkan banyak hal lain, misalnya dalam proses terbentuknya jalur perdagangan, hadirnya asimilasi budaya yang masih terasa sampai sekarang, dan menjadikan kepulauan ini menjadi berbagai kajian, riset hingga beralih wahana menjadi film.

Sekilas Soal Pala & Fuli 

Sebelum beranjak lebih jauh, mari lebih dahulu mengenal rempah bernama pala. Apa yang disebut dengan pala adalah biji dari pohon pala (myrstica fragrans) yang memiliki daun berbentuk elips dan buahnya berbentuk lonjong. Pada strukturnya, biji pala memiliki penutup yang disebut dengan fuli. Buah pala berwarna kuning, berdaging dan beraroma khas juga mengandung minyak atsiri. Ketika masak, kulit dan daging buah akan terbuka dan biji akan terlihat bungkus fuli yang berwarna merah. Satu buah pala ini mampu menghasilkan satu biji yang berwarna coklat. Bagian yang dipanen dari pohon pala adalah biji dan fuli ini. Khusus untuk fuli saja, ia bernilai ekonomi lebih tinggi karena dalam satu pohon pala, fuli dihasilkan lebih sedikit daripada bijinya.

Pohon pala sendiri dapat dipanen ketika berusia antara tujuh sampai sembilan tahun. Ia akan berproduksi secara maksimal ketika mencapai usia dua puluh lima tahun. Tanaman ini juga dapat tumbuh mencapai ketinggian dua puluh meter dan dapat berusia sampai ratusan tahun.

Ketika buah pala panen, ia dipisahkan dari fuli, biji pala akan dijemur hingga kering. Proses pengeringan biji pala ini memakan waktu dari enam hingga delapan minggu. Ketika dikeringkan, bagian dalam biji akan menyusut. Setelah kering cangkang biji akan pecah dan menghasilkan bagian dalam biji yang dikenal sebagai pala.

Di masa lampau, tanaman pala ditanam bersama dengan pohon kenari (Canarium Indicum) yang jauh lebih tinggi dan sekaligus melindungi pohon pala dari sinar matahari. Selain memberi perlindungan, pohon kenari juga menghasilkan kacang kenari dan kayunya dapat digunakan sebagai bahan pembuat rumah. Bunga pohon pala ini secara alami mengalami penyerbukan dengan bantuan serangga untuk dapat menghasilkan buah. Sementara itu, tanaman ini menyebar karena buahnya dimakan oleh burung merpati yang mencernakan buah dan mengeluarkan biji pala sebagai kotoran. 

Pada suatu waktu di periode kolonial, Belanda mengembangkan sistem penanaman pala yang didesain agar dapat menghasilkan panen secara maksimal. Hampir setiap meter persegi dari tanah yang ada ditanami dengan pala. Pulau Lonthor, yang merupakan pulau terbesar, merupakan pulau yang paling banyak menghasilkan pala diikuti oleh Pulau Ai dan Run.

Kepulauan Penghasil Pala, Munculnya Jalur Rempah dan Asimilasi Budaya

Dalam sejarah kepulauan Indonesia Timur, tercatat dua hal penting tentang kepulauan Banda. Pertama, sejarah pulau ini dapat dianalisis melalui jalur perdagangan dan dinamika wilayah perkebunan untuk menentukan siapa yang melakukan penguasaan perdagangan Pala, dan Kedua, sejarah Banda sebagai kepulauan dan laut yang mampu menciptakan hubungan antara masyarakat, ekonomi dan kebudayaan. 

Dengan kata lain, pelabuhan di Kepulauan Banda ini sebagai titik sekaligus tujuan para saudagar dari pesisir utara Jawa, Melayu, Arab, Cina, India, dan Eropa untuk memperoleh Pala. Hal yang sekaligus menjadi pintu masuk budaya dan bahan-bahan lain yang turut serta terbawa dalam pelayaran para pelancong dari berbagai belahan bumi lain.

Tentang hubungan masyarakat kepulauan Banda, hal ini bisa terjadi karena Kepulauan Banda membutuhkan sumber daya untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Dan dengan modal pala dan fuli yang dihasilkan, orang-orang dari luar kepulauan Banda pun datang dengan berbagai bahan yang dibutuhkan masyarakat Banda sebagai alat tukar untuk mendapatkan pala. Fakta ini pun dengan jelas tergambar dalam Hikayat Lonthor yang menyebutkan sebagai berikut: “Pulau Banda banyak pula didatangi orang-orang dari kepulauan sebelah timur. Sampai hari ini tempat itu pun disebut Pantai Timur…”

Hasil perniagaan ini pun pada akhirnya semakin dikenal hingga pada akhirnya juga turut mendatangkan bangsa-bangsa lain ke Pulau Banda.

Dengan terdapatnya lima pelabuhan di Kepulauan Banda, yakni Pelabuhan Naira, Orantata, Kombir, Selammon, dan Lonthoir, sebagai pelabuhan yang menampung produksi pala dan fuli dari perkebunan masyarakat Kepulauan Banda sebagai titik, sekaligus menjadikan pelabuhan ini sebagai pusat interaksi dan asimilasi budaya.

Klaim bahwa kepulauan Banda pada masa lampau begitu riuh dengan banyaknya bangsa asing yang singgah, dapat ditemui dengan adanya jejak misalnya, penemuan piring-piring keramik dari Dinasti Ming serta pengaruh kebudayaan Cina dalam kehidupan orang-orang Banda. Bahkan hampir di seluruh pesisir Maluku ditemui artefak keramik Cina. Selain keramik, pala yang dihasilkan ini juga membuat masyarakat Pulau Banda melakukan pertukaran dengan kain tenun dan tekstil produksi pesisir barat India, yang dihasilkan negeri penghasil tekstil seperti Gujarat, Koromandel, dan Bengali. Di sini pada puncak era perdagangan abad ke-15 dan 16 telah muncul pedagang grosir rempah-rempah.  

Tomé Pires seorang ahli obat-obatan asal Portugis yang bekerja untuk Kerajaan Portugis di Asia mencatat bahwa pedagang-pedagang Jawa dan Malaka setiap tahun berlayar ke Maluku dan Kepulauan Banda membawa pakaian katun dan sutra dari Cambay, Koromandel dan Bengali. Perjalanan mereka ke pelabuhan Banda melalui rute Jawa atau selatan yang dapat singgah di sejumlah bandar di pelabuhan pantai utara Jawa seperti Jepara dan Gresik. Di Gresik para pedagang menurunkan sebagian pakaian tenun yang dibawa dari Malaka. Kemudian, melanjutkan pelayaran, singgah di Sumbawa dan Bima untuk mendapatkan pasokan air dan makanan. Di sana, mereka juga membeli beras dan kain tenun kasar yang juga diminati di Pulau Banda untuk dipertukaran dengan pala dan fuli.

Datangnya bangsa Barat juga turut berpengaruh bagi masyarakat Pulau Banda. Bukti akulturasi ini juga dapat dilihat dengan terdapatnya situs perkenier (perkebunan pala) disebabkan kedatangan Belanda. Perkenier dibangun ketika orang-orang Belanda melakukan perombakan struktur perkebunan pala dari kekuasaan orang-orang Banda. Beroperasinya perkenier ini terjadi pada perempat kedua abad ke-17. Hingga kini, situs perkenier yang masih utuh berupa gapura dengan tulisan berbahasa Belanda dan berada di Pulau Ai. Sementara itu, situs perkenier di Pulau Run yang tersisa hanya reruntuhan Benteng Eldorado. Perkebunan-perkebunan itu pada masa Kemerdekaan Indonesia, dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Fakta-fakta di atas tentu saja masih secuil dari banyaknya hal terjadi dan pelbagai efek lainnya yang menyebabkan Pulau Banda begitu terkenal hanya dengan hasil rempah berupa Pala dan Fuli. Hal yang tentunya membuka keingintahuan kita untuk lebih dalam lagi menyelami bagaimana nusantara membentuk dirinya dalam percaturan dunia jauh sebelum terbentuk menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, melalui sebuah jalur yang menghubungkan satu sama lain dengan berbagai jejak yang tersisa hari ini.

 

Sumber:


Marihandono, Djoko & Bondan Kanumuyoso. 2017. Rempah, Jalur Rempah, dan Dinamika Masyarakat Nusantara. Direktorat Sejarah.

Razif & M. Fauzi. 2017. Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Adat Abad X-XVI: Kepulauan Banda, Jambi dan Pantai Utara Jawa. Direktorat Sejarah.


Naskah & Editor: Doni Ahmadi

Bagikan:

Konten Populer

Antara Kerajaan Gowa, VOC, dan Benteng Rotterdam Makassar

17 November 2020

Pulau Makian: Produsen Cengkeh Terbesar di Kepulauan Rempah

19 Oktober 2020

Menelusuri Sejarah Pati, Titik Strategis di Pantai Utara Jawa

17 Januari 2021

Konten Terbaru

Malam Puncak Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia

30 Oktober 2021

Bukti Linguistik Muasal Pala dan Cengkih

29 September 2021

Pameran Kolaborasi Rempah Nusantara Resmi Dibuka pada Simposium Internasional UNUSIA 2021

31 Agustus 2021

Konten Terkait

...

Pameran Kolaborasi Rempah Nusantara Resmi Dibuka pada Simposium Internasional UNUSIA 2021

admin

31 Agustus 2021

...

Bukti Linguistik Muasal Pala dan Cengkih

Gufran A. Ibrahim

29 September 2021

...

Malam Puncak Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia

admin

30 Oktober 2021