Artikel

Kerja Sama Hitu dan Jepara dalam Politik dan Perdagangan di Jalur Rempah

Amos | 15 November 2022

Ada kesan bahwa kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa sangatlah bergantung pada pola ekonomi berbasis agraris sehingga pertanian menjadi satu-satunya sumber pendapatan kerajaan-kerajaan di Jawa. Anggapan dan kesan itu sangatlah tidak tepat. Sejarawan Denys Lombard menuliskan kritik terhadap perspektif seperti itu. Menurutnya, banyak kota pelabuhan yang menjadi tujuan pedagang dari seluruh dunia, di mana kota-kota niaga maritim itu terbebas dari kebekuan masyarakat agraris (Lombard, 1996: 171). Fakta sejarah ini bisa kita temukan pada sebuah lokasi di kawasan utara Pulau Jawa, di mana pada abad 16 lokasi ini begitu kuat pengaruhnya, yaitu Jepara.

Menurut sejarawan M.A.P Meilink Roelofsz, pada pertengahan abad 16, Jepara Jawa menjadi kekuatan politik yang cukup ditakuti oleh Portugis. Menurutnya, Jepara bisa mengeluarkan 300 kapal dengan 80 kapal layar berukuran besar untuk melakukan serangan-serangan militer dengan armada perang laut yang kuat (Meilink Roelofsz, 2016: 148-149). Dalam hal ini, perlu dilihat kerja sama antara Hitu dan Jepara yang menjadi salah satu aliansi penting dalam keterhubungan antar-kawasan di Nusantara abad 16. Bahkan setelah masa-masa pengusiran Portugis dari Hitu, Jepara yang dipimpin seorang pemimpin perempuan bernama Ratu Kalinyamat menyerang Portugis, tepatnya di tahun 1551 dan 1574.

M. A. P. Meilink-Roelofsz sudah banyak menjelaskan bagaimana pengaruh Jepara di kawasan Maluku, di mana Ternate, Hitu, dan beberapa kawasan lain begitu menghormati Jepara pada masa itu. Secara letak geografis, Jepara memang sangatlah strategis, pelabuhan di Jepara Jawa menjadi titik singgah dalam keberlangsungan lalu lintas maritim dari Maluku menuju Malaka dan daerah “negeri atas angin” di kawasan Asia pada umumnya. Maka dari itu, relasi dan kerja sama dinamis Jepara dengan kawasan Maluku memperlihatkan keterhubungan antar-kawasan Nusantara yang selalu saling bergantung. 

Kawasan Maluku memang sudah menjadi incaran dari penjelajahan orang-orang Eropa di abad 16 awal. Terlihat dalam banyak catatan penjelajahan bahwa Maluku digambarkan sebagai kepulauan rempah yang menjadi tujuan utama penjelajahan. Kawasan Hitu juga menjadi salah satu kawasan yang dituju dan disinggahi. Sebelum datang dan menginjakkan kaki di Ternate dan Tidore, armada Portugis pimpinan Francisco Serrau lebih dulu sampai di sebuah kawasan bernama Hitu. Masyarakat Hitu sendiri telah berabad-abad lamanya memiliki tatanan sosial dan politik yang mapan, Islam sudah masuk dan berkembang di Hitu sejak abad 10-11 Masehi. Menurut arkeolog Wuri Handoko, puncak perkembangan Islam di wilayah Hitu adalah abad 14 Masehi. Hal ini dibuktikan dengan peninggalan arkeologis berupa Masjid Tua Tujuh Pangkat yang berdiri abad 14, makam-makam Raja Hitu, hingga berbagai tinggalan, seperti timbangan zakat fitrah dan penanggalan hijriah (Handoko, 2006: 33-35)

Pada mulanya, rakyat Hitu menganggap Portugis sebagai pedagang biasa, seperti para pedagang Arab dan Cina. Namun seiring berjalannya waktu, rakyat Hitu merasa terusik ketika Portugis ingin membangun benteng. Alhasil, rakyat Hitu berhasil mengusir Portugis dengan bantuan pasukan Jepara di Jawa. Memang sedikit sekali sumber yang merekam kerja sama dinamis antara masyarakat Hitu dan Jepara, tetapi keterhubungan antar-kawasan dalam Jalur Rempah sudah bisa dilihat melalui peristiwa sejarah yang terjadi bahwa tiap-tiap wilayah di Nusantara selalu saling terhubung dan bekerja sama dalam upaya mempertahankan kedaulatan. 

 

___________

Referensi:

Handoko, Wuri. 2006. “Periode Awal Kerajaan Hitu Hingga Masa Surutnya”. Kapata Arkeologi, Vol. 2, No. 3 November 2006. 

Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa Silang Budaya: Kajian Sejarah Terpadu (Jilid III). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Meilink-Roelofsz, M. A. P. 2016. Persaingan Eropa & Asia di Nusantara: Sejarah Perniagaan 1500-1630. Depok: Komunitas Bambu. 

___________

Amos adalah seorang mahasiswa Ilmu Sejarah yang berkuliah di Universitas Negeri Yogyakarta. Sedang aktif mengurus Lingkar Studi Sejarah (LSS) Arungkala dan Lingkar Studi Filsafat - Teologi (LSFT) Dianoia. Ia sudah melakukan publikasi karya ilmiah dalam beberapa jurnal dan konferensi, salah satunya dalam Spice Route International Forum 2021 yang diadakan oleh Maranatha Christian University dengan ICOSMOS, CCDS, Fujian Normal University, dan Yayasan Negeri Rempah.

Ditulis oleh Amos (amoskampus@gmail.com), Laskar Rempah Jawa Barat.

Editor: Tiya S.

Sumber: Sarin Images / GRANGER

Konten ini dibuat oleh kontributor website Jalur Rempah.
Laman Kontributor merupakan platform dari website Jalur Rempah yang digagas khusus untuk masyarakat luas untuk mengirimkan konten (berupa tulisan, foto, dan video) dan membagikan pengalamannya tentang Jalur Rempah. Setiap konten dari kontributor adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.

Bagikan:

Konten Populer

Pelabuhan Canggu Mojokerto Jawa Timur dan Peran Sungai Brantas Era Jalur Rempah pada Abad X-XIII

8 April 2022

Pulau Tidore, Penghasil Cengkeh & Perannya dalam Perdagangan Dunia

23 Oktober 2020

Menelusuri Sejarah Pati, Titik Strategis di Pantai Utara Jawa

17 Januari 2021

Konten Terbaru

Pesona Jalur Rempah: Arti Burung Rangkong dalam Catatan Tionghoa

6 Desember 2022

Kerja Sama Hitu dan Jepara dalam Politik dan Perdagangan di Jalur Rempah

15 November 2022

Satuan Bahar, Barter, dan Bukti Perdagangan Rempah yang Kosmopolit di Abad 16

8 November 2022

Konten Terkait

...

Satuan Bahar, Barter, dan Bukti Perdagangan Rempah yang Kosmopolit di Abad 16

Amos

8 November 2022

...

Kerja Sama Hitu dan Jepara dalam Politik dan Perdagangan di Jalur Rempah

Amos

15 November 2022

...

Pesona Jalur Rempah: Arti Burung Rangkong dalam Catatan Tionghoa

Adi Putra Surya Wardhana

6 Desember 2022