Artikel

Laskar Rempah Pelajari Pelestarian Tenun dan Pentingnya Pohon Cendana

admin | 26 Juni 2022

Jakarta, 26 Juni 2022 – Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022 telah sampai di Kupang, Nusa Tenggara Timur (25/6) yang menjadi titik singgah keenam. Sebelumnya Muhibah Budaya Jalur Rempah telah melakukan pelayaran dengan menggunakan KRI Dewaruci di mulai dari Surabaya, Makassar, Baubau-Buton, Ternate-Tidore, Banda Neira dan singgah di Kupang, dan akan kembali ke Surabaya. Kini di Kupang, Laskar Rempah mempelajari pentingnya Cendana.  

“Indonesia adalah pemegang sah Jalur Rempah. Jejak rempah Indonesia telah menjadi ikon budaya yang mendunia dan menjadi jalur diplomasi internasional bidang kebudayaan. Muhibah Budaya Jalur Rempah adalah sebagai bagian untuk mengumandangkan kejayaan Nusantara dalam jalur rempah, melahirkan generasi muda yang membawa semangat rempah yang baru, semangat Indonesia yang berdikari, berinovasi, dan terus berikhtiar mewujudkan  kemakmuran bagi Indonesia agar mampu mewarnai peradaban dunia,” jelas Direktur Pelindungan Kebudayaan, Ditjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), Irini Dewi Wanti, saat menyambut Laskar Rempah (25/6).

Melalui kegiatan Muhibah Budaya Jalur Rempah diharapkan dapat menumbuhkan kebanggaan masyarakat di berbagai daerah sekaligus memperkuat jejaring interaksi budaya antardaerah sehingga meningkatkan kesadaran  masyarakat dalam mengembangkan dan memanfaatkan Warisan Budaya dan Cagar Budaya Nasional, serta menginisiasi berbagai program dan aktivitas terkait rempah-rempah di daerahnya masing-masing sebagai modal untuk  meningkatkan kesejahteraan.  

“Jalur Rempah dilihat sebagai koridor untuk menghidupkan kembali, bahkan menggiatkan, interaksi antarbudaya, tidak hanya lintasan perdagangan komoditas. Sebagai pengembangan diplomasi budaya Indonesia secara sistematis dan masif dengan keharusan bersinergi lintas kementerian, lembaga, dan daerah,” tutur Direktur Kepercayaan dan Masyarakat Adat, Ditjen Kebudayaan, Sjamsul Hadi, yang turut mendampingi pelayaran Muhibah Budaya Jalur  Rempah dari Banda Naira hingga Kupang.  

Para peserta Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022 atau Laskar Rempah merupakan pemuda-pemudi yang dipilih dari 34 provinsi di Indonesia yang berjumlah 147 orang, yang dibagi menjadi empat kelompok yaitu pertama Kelompok Lada (35 orang) dengan rute pelayaran Surabaya-Makassar. Kedua Kelompok Cengkeh (37 orang) dengan rute pelayaran Makassar-Baubau-Buton-Ternate dan Tidore. Ketiga Kelompok Pala (37 orang) dengan rute pelayaran Temate-Tidore-Banda Neira-Kupang. Terakhir Kelompok Cendana (38 orang) dengan rute pelayaran Kupang-Surabaya.  

Kupang menjadi salah satu Jalur Rempah karena keberadaan komoditas kayu cendana (santalum album), asam, dan kemiri. Cendana meramaikan jalur perdagangan wewangian dunia yang berpusat di jazirah Arab, pusat perdagangan wewangian dupa tertua. Sejak ribuan tahun lalu, wewangian adalah elemen penting dalam ritual keagamaan, pengobatan, kecantikan, dan pengawet jenazah raja dan para pembesar. Sebagai pengingat, Laskar Rempah melakukan penanaman Pohon Cendana di SMK 6 Kupang.  

Selain Cendana, masyarakat Timor di Kupang memiliki budaya tenun yang diwariskan secara turun temurun. Kain tenun Kupang awalnya menggunakan sumber pewarna alami yang banyak didapatkan pada tanaman di sekitar rumah, warna biru didapatkan dari daun nila, warna merah dari biji pinang, akar daun mengkudu atau kulit manggis serta warna hijau dan abu-abu dari daun suji. Sedangkan, warna lain bisa didapat dari perpaduan warna-warna yang sudah ada. Motif tenun menggambarkan kondisi alam, geografis, flora dan fauna Timor menunjukkan bagaimana eratnya  alam merasuk dalam alam budaya masyarakat Kupang.

Pelestarian Tenun oleh Pemda Kupang melalui pelatihan anak muda di SMKN 4 menjadi lokasi kunjungan Laskar Rempah untuk melihat proses pembuatan dan pelestarian Tenun Kupang.  

"Kami sangat terkesan atas antusiasme dan ramah tamah masyarakat NTT menyambut kedatangan Laskar Rempah  dari 34 provinsi. Kami belajar menenun di SMK 4 Kupang, melihat taman edukasi rempah dan menanam bibit Cendana  di SMA 6 Kupang, dan mempelajari tradisi pinang sirih untuk berbagai keperluan di Museum NTT. Itu semua  memberikan pelajaran bahwa Jalur Rempah menciptakan ketersambungan dan narasi positif khususnya pemulihan  melalui konservasi cendana sebagai komoditas andalan Nusa Tenggara Timur,” pungkas Agustinus Damar Wahyu  Nugroho, Laskar Rempah dari Jawa Tengah.  

Kegiatan Muhibah Budaya Jalur Rempah diselenggarakan Kemendikbudristek bekerja sama dengan Tentara Nasional  Indonesia Angkatan Laut (TNI AL), pemerintah daerah, serta berbagai komunitas budaya. 

 

Laman: jalurrempah.kemdikbud.go.id
Twitter: twitter.com/jalurrempahri
Instagram: instagram.com/jalurrempahri
Facebook: facebook.com/jalurrempah
Youtube: JALUR REMPAH RI

Bagikan:

Konten Populer

Merayakan Sejarah Jalur Rempah di Balik Hidangan Lebaran

10 Januari 2022

Benteng Somba Opu Makassar: Enterpot di Nusantara Bagian Timur

25 November 2020

Pesona dan Kisah Rempah-rempah di Negeri Laskar Pelangi

22 Desember 2020

Konten Terbaru

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

26 Januari 2023

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

19 Januari 2023

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

12 Januari 2023

Konten Terkait

...

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

Achmad Khalik Ali

19 Januari 2023

...

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

Royas Aulia Subagja

26 Januari 2023

...

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

merry kurnia

12 Januari 2023