Artikel

Mengenal Lontar Bali Kuno: Fungsi dan Penggunaan Rempah dalam Pembuatannya

admin| 1 Agustus 2021

Bagi masyarakat Bali, lontar bukan sekadar tradisi dan produk budaya. Ia sekaligus menjadi bukti historis peradaban Bali di tengah pesatnya perkembangan dan peradaban dunia. Oleh karena itu, lontar menjadi penting dan terus dilestarikan oleh masyarakat Bali, khususnya di Desa Adat Dukuh Penaban, Kabupaten Karangasem, Bali.

Masyarakat di desa ini meyakini lontar memiliki arti penting bagi kehidupan. Salah satunya ialah memotret dan menjadi cermin kehidupan bagi hal-hal yang patut dan tidak patut dilakukan. Dahulu, lontar Bali kuno digunakan sebagai medium komunikasi untuk bersurat kepada kerabat atau bahkan menjadi buku catatan harian. Namun, menulis di atas lontar bukan hal mudah, terlebih yang ditulis bukanlah huruf latin, melainkan aksara Bali, serta menggunakan pangrupak atau alat untuk menulis lontar.

Dibutuhkan ketelitian dan kesabaran saat mulai menulis di atas lontar. Konon, hati yang gembira juga menjadi syarat saat ingin menulis, jika tidak, isi dalam surat tersebut tidak akan selesai karena selalu saja ada kesalahan. 

Proses Pembuatan Lontar Bali Kuno

Lontar berasal dari pohon ental yang sudah dipilih dan memiliki ukuran yang sesuai. Sebelum diproses, daun ental dipotong sesuai dengan ukuran lontar (biasanya mulai dari 20 cm sampai dengan 60 cm) dan lidi-lidi yang ada di sisi daun dibersihkan, lalu dijemur. Selanjutnya, daun direndam pada air sungai yang mengalir sambil ditekan dengan batu, atau direndam dalam bak yang besar selama kurang lebih tiga minggu. Cara ini dilakukan untuk menghilangkan zat hijau daun yang masih menempel.

Proses ini dilakukan berulang-ulang agar daun bersih dan tidak ada kotoran yang masih tertinggal di permukaan daun. Setelah itu, daun diangkat dan dikeringkan, kemudian daun-daun tersebut direbus menggunakan rempah-rempah selama minimal 8 jam, kemudian diangkat dan dikeringkan kembali.

Setelah kering, daun lalu dimasukkan ke dalam nyepit atau mlagbag (penjepit kertas) agar daun lontar lurus dan tidak mudah melengkung. Proses ini bisa menghabiskan waktu selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun sambil menunggu proses selanjutnya. Daun kemudian dilubangi sisinya menggunakan pirit, dihaluskan dengan cara diserut pada bagian pinggirnya dan diwarnai sisinya. Setelah itu, daun digaris menggunakan benang sipat yang warnanya diambil dari celupan tinta alami yang berasal dari campuran sisa minyak jelaga, terong hutan (tuung kokak), dan daun dlundung yang ditumbuk halus dan diambil airnya.

Dalam satu lembar daun lontar dibuat empat garis sejajar. Proses ini dilakukan satu per satu di atas pepesan atau daun lontar. Bila proses ini sudah terlewati dengan baik, maka pepesan atau daun lontar sudah siap untuk ditulisi.

Merendam dengan Rempah-Rempah

Saat merebus daun lontar selama 8 jam, bahan rempah yang digunakan beraneka ragam, di antaranya gambir, kemiri, cengkeh, jebug garum, mesui, mericapala, serta kayu-kayuan yang bersifat asam, seperti kulit kayu kelapa dan kulit kayu pule. Rempah-rempah ini berfungsi sebagai pengawet alami pada daun lontar agar daun bertahan lama, tidak mudah lapuk, dan dimakan rayap.

Cara Menulis di Atas Lontar Bali Kuno

Cara menulis di atas daun lontar juga tidak bisa sembarangan. Ada beberapa teknik yang digunakan, seperti menuliskannya dengan pisau khusus yang dinamakan pengrupak, kemudian digosok dengan kemiri yang dibakar dari arah kanan ke kiri, sedikit ditekan dengan jari, lalu dilap atau dibersihkan dengan kain atau tisu. Begitu juga dengan posisi tangan yang tidak boleh miring dan berada di atas bantalan kecil.

Sebagai materi bahan tulis, naskah lontar mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari naskah suci, materi medis, astronomi, wiracarita, sampai gambar-gambar untuk kisah pewayangan. Hingga saat ini, daun lontar masih digunakan sebagai alat tulis di Bali. Berbagai lokakarya naskah lontar Bali kuno pun masih dilaksanakan sebagai upaya berkelanjutan untuk merawat, memperkenalkan, serta menyebarluaskan ilmu dan warisan dari masa lampau tersebut.

 

_________

Sumber:

Ni Kadek Candra Dewi, staf sekaligus pemandu wisata Museum Pustaka Lontar Desa Adat

Ida I Dewa Gde Catra, seorang penulis lontar dan kurator di Museum Pustaka Lontar Desa Adat Dukuh Penaban, Karangasem Bali

_________

Naskah: Sista S.

Editor: Tiya S.

Bagikan:

Artikel Populer

Perbedaan Jalur dan Jaringan dalam Perdagangan Rempah

6 Desember 2020

Memaknai Kembali Rumah Indonesia dari Rumah di Tanah Rempah

7 Maret 2021

Jalur Rempah Nusantara: Interaksi Budaya, Ekonomi, Politik, dan Agama

30 September 2020

Artikel Terbaru

Muhibah Budaya Jalur Rempah di Sabang, Nostalgia KRI Dewaruci Menyambangi Perairan Aceh 70 Tahun Lalu

23 Juni 2024

Kemendikbudristek Lepas Pelayaran Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024

8 Juni 2024

Jelang Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024, Kemendikbudristek Siapkan Pembekalan Materi Kepada Laskar Rempah

6 Juni 2024

Artikel Terkait

...

Jalur Rempah Nusantara: Interaksi Budaya, Ekonomi, Politik, dan Agama

admin

30 September 2020

...

Merayakan Sejarah Jalur Rempah di Balik Hidangan Lebaran

admin

10 Januari 2022

...

Pelajaran Toleransi dari Batik Tiga Negeri

admin

28 Februari 2022