Artikel

Minyak Kemiri, Materi Dasar Pewarnaan Kain Tenun Gringsing

admin | 8 Agustus 2021

Selain keindahan lanskap alam, hal yang tidak bisa lepas ketika membicarakan Bali adalah ragam budayanya. Keragaman itu juga bisa kita temui dalam tradisi wastra di bumi dewata ini. Satu contoh yang menarik adalah kain tenun gringsing.

Kain tenun gringsing adalah satu-satunya kain tradisional Indonesia yang menggunakan teknik ikat ganda. Ia kental dengan tiga warna (atau kerap disebut Tridatu) dalam pembuatan motifnya, yakni merah, kuning, dan hitam. 

Yang menarik, seluruh warna ini dihasilkan dari pewarna alami dalam pembuatan motif kain gringsing. Bahan-bahannya meliputi ‘babakan’ atau kelopak pohon kepundung putih yang dicampur dengan kulit akar mengkudu untuk menghasilkan warna merah, minyak buah kemiri dicampur dengan air serbuk/abu kayu untuk menghasilkan warna kuning, dan Pohon Taum untuk menghasilkan warna hitam.

Hal lain yang patut diperhatikan adalah kemiri yang tidak sembarang dipilih sebagai pewarna. Buah kemiri ini biasanya diambil langsung dari hutan Tenganan dan harus menggunakan kemiri yang benar-benar matang. Dengan kata lain, hanya kemiri yang jatuh ke tanah yang dapat digunakan untuk pembuatan kain gringsing. 

Hal ini sesuai dengan aturan adat yang menyatakan bahwa beberapa jenis pohon tertentu tidak boleh dipetik. Ia harus dibiarkan matang di pohon dan jatuh ke tanah. Luh Widiartini, pengrajin kain gringsing yang kami temui di Desa Tenganan beberapa waktu lalu, menjelaskan proses selanjutnya ketika pasca mendapatkan kemiri matang. “Buah kemiri yang sudah matang tersebut kemudian dicincang dan digoreng, lalu diperas sampai mengeluarkan minyak, kemudian ditambahkan air abu.”

“Campuran tersebut,” lanjutnya, “digunakan untuk merendam benang selama kurang lebih 40 hari hingga satu tahun. Selama proses perendaman ini, air rendaman diganti setiap 25-49 hari. Semakin lama proses perendaman, benang yang dihasilkan akan semakin lembut.”

Benang ini kemudian diangkat dan diangin-anginkan. Dan bila sudah mulai kering, dilanjutkan untuk pembuatan motif dengan proses mengikat dan menandai benang menggunakan tali rafia dua warna untuk membentuk motif yang diinginkan.

“Dalam prosesnya, kain tenun gringsing ini sepenuhnya dikerjakan menggunakan tangan. Benang-benang yang digunakan untuk membuat kain berasal dari kapuk berbiji satu yang dipintal menggunakan alat pintal tradisional,” lanjut Luh Widiartini.

Kain tenun yang berwarna gelap alami digunakan masyarakat Tenganan dalam ritual keagamaan dan dipercaya memiliki kekuatan magis. Kain ini juga disebut-sebut merupakan alat yang mampu menyembuhkan penyakit dan menangkal pengaruh buruk atau bala. Di Bali, berbagai upacara seperti upacara potong gigi, pernikahan dan upacara keagamaan lain dilakukan menggunakan kain Gringsing.

Selain pewarna natural, kain tenun gringsing, atau disebut juga “kain api”, menerapkan teknik yang jarang dipraktekkan, yakni tenun ikat ganda. Teknik yang disebut juga ‘patola’ ini hanya ditemukan di beberapa lokasi, misalnya Patan, Gujarat, India dan Tenganan, Bali, Indonesia. Lokasi spesifiknya, bisa ditemui di Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali. Dengan segala proses yang menghasilkan wastra terbaik, kain tenun Gringsing ini dibandrol dari tiga ratus ribu rupiah hingga puluhan juta rupiah. Harga ini tergantung dari kerumitan motif dan lamanya proses pengerjaan.

 

Sumber:

https://ojs.unud.ac.id/index.php/agrotrop/article/view/27209/17214

https://media.neliti.com/media/publications/291052-kajian-estetik-pengolahan-kain-gringsing-4fa0598f.pdf

Wawancara eksklusif dengan Luh Widiartini, penenun kain Gringsing di Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem

 

Naskah: Sista Sekartaji

Editor: Doni Ahmadi

Bagikan:

Konten Populer

Malam Puncak Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia

30 Oktober 2021

Samudra Pasai: Kota Pelabuhan Penting dalam Jalur Pelayaran

20 Desember 2020

Sejarah Ambon dan Hitu, Jejak Jalur Rempah di Maluku

18 Oktober 2020

Konten Terbaru

Malam Puncak Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia

30 Oktober 2021

Bukti Linguistik Muasal Pala dan Cengkih

29 September 2021

Pameran Kolaborasi Rempah Nusantara Resmi Dibuka pada Simposium Internasional UNUSIA 2021

31 Agustus 2021

Konten Terkait

...

Malam Puncak Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia

admin

30 Oktober 2021

...

Pameran Kolaborasi Rempah Nusantara Resmi Dibuka pada Simposium Internasional UNUSIA 2021

admin

31 Agustus 2021

...

Bukti Linguistik Muasal Pala dan Cengkih

Gufran A. Ibrahim

29 September 2021