Artikel

Pelabuhan Canggu Mojokerto Jawa Timur dan Peran Sungai Brantas Era Jalur Rempah pada Abad X-XIII

admin | 8 April 2022

Pelabuhan merupakan akses perniagaan sebagai tempat berlabuhnya kapal-kapal dagang, baik untuk memuat ataupun membongkar barang-barang dagangan. Selain itu, pelabuhan juga berfungsi sebagai tempat istirahat para pedagang. Banyak pengusaha kapal dan pedagang yang tinggal di sekitar pelabuhan. Sementara itu, sungai memegang peranan penting untuk menghubungkan atau memindahkan barang, bahkan manusia. Sejak zaman dahulu, sungai sudah dikenal sebagai salah satu jalur transportasi. Selain itu, sungai dan pelabuhan juga digunakan sebagai sarana penyebaran agama pada masanya karena menjadi tempat bertemunya banyak pedagang lintas daerah.

Sejarah Pelabuhan Canggu

Kabupaten Mojokerto dikenal memiliki sebuah desa tersohor yang diberi nama Desa Canggu. Dulunya, Canggu merupakan pelabuhan utama Kerajaan Majapahit. Pelabuhan ini dikenal sebagai pintu gerbang Kerajaan Majapahit dan populer pada eranya. Pelabuhan ini sudah ada sebelum Kerajaan Majapahit dibangun pada tahun 1293 M. Beberapa orang mengatakan bahwa Pelabuhan Canggu didirikan dan diresmikan pada masa Raja Wisnuwardhana atau dikenal dengan Ranggawuni yang merupakan ayahanda Kertanegara dari Kerajaan Singasari sekitar tahun 1271 M. Pelabuhan ini tidak berdiri sendiri, ada beberapa pelabuhan lain sebagai penopang, di antaranya Pelabuhan Bubat yang kini telah berubah menjadi Desa Tempuran, Kecamatan Sooko Mojokerto, dan Pelabuhan Terung di Dusun Terung, Kecamatan Krian, Sidoarjo. 

Pelabuhan Canggu memiliki beragam fungsi. Salah satunya adalah sebagai pusat ekonomi dan bisnis. Banyak saudagar dari bangsa asing datang ke pelabuhan tersebut untuk kepentingan dagang. Salah satu yang tersohor adalah Cheng Hwe, seorang pebisnis ulung muslimah dari Tiongkok. Pelabuhan Canggu merupakan pelabuhan dagang yang terkenal pada masanya. Pelabuhan Canggu menjadi titik temu para pedagang dari Negeri Atas Angin (sebutan untuk bangsa asing pada abad XI di tanah Jawa). Pelabuhan ini mengalami puncaknya pada era Majapahit. Selain fungsi dagang, Pelabuhan Canggu juga merupakan salah satu rumah bordil (lokalisasi/prostitusi) kuna, pangkalan militer, bahkan pelabuhan bea cukai. 

Pada masa kerajaan dahulu kala, fungsi penyeberangan dengan perahu tambang yang disebut sebagai panambangan itu sangat vital karena menghubungkan wilayah pusat dan daerah. Melihat fungsi vital panambangan bagi negerinya, Hayam Wuruk, Raja Majapahit, mengeluarkan Prasasti Canggu (1358 Masehi). Di prasasti itu disebutkan hak-hak istimewa yang diberikan kepada para penjaga tempat penyeberangan sungai. Kepustakaan Inggris menyebut prasasti itu dengan istilah ferry charter

Pelabuhan Canggu kini telah sirna dan tergantikan oleh rumah-rumah penduduk. Pemukiman tersebut saat ini disebut sebagai Desa Pelabuhan karena lokasinya yang merupakan bekas Pelabuhan Canggu. Bekas lokasi tersebut berada di titik pecahan Bengawan Brantas yang menjadi dua aliran, yaitu ke arah utara menjadi Bengawan Mas yang bermuara di Hujung Galuh (Kalimas Surabaya) dan lurus ke arah timur menjadi Bengawan Porong, bermuara di Banger (Bangil, Pasuruan, Jawa Timur).

Peran Sungai Brantas Abad X sampai XIII

Mojokerto memiliki beragam tempat bersejarah peninggalan zaman dahulu. Selain Pelabuhan Canggu, Mojokerto juga memiliki Sungai Brantas. Sungai Brantas adalah bengawan terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo. Sungai ini bermata air di Kota Batu yang berasal dari air Gunung Arjuno, lalu mengalir ke Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto. Sungai Brantas mempunyai DAS (Daerah Aliran Sungai) seluas 11.800 km² atau seperempat dari luas Provinsi Jawa Timur. Panjang sungai utama 320 km mengalir melingkari sebuah gunung berapi, yaitu Gunung Kelud. 

Sungai Brantas sejak dulu merupakan salah satu jalur perdagangan sejak Jawa Kuna di wilayah Jawa Timur. Raja Balitung Daksa Tulodong dan Wawa memberi perhatian lebih kepada Jawa Timur karena penguasa Jawa tengah sadar pentingnya perdagangan antarpulau waktu itu. Perdagangan dengan Arab berjalan baik pada abad ke-9 Masehi. Barang yang diminati ialah kayu cendana dan rempah-rempah yang dihasilkan Indonesia bagian Timur. Pedagang-pedagang dari Jawa Timur pergi ke Indonesia bagian Timur untuk menukar beras dan produk lainnya dari Jawa dengan rempah-rempah kayu cendana. Mereka kemudian membawa barang-barang itu ke Sriwijaya dan menukarnya dengan barang-barang dari luar negeri, seperti emas, kain sutera, keramik dari Tiongkok, jubah dari India, dan dupa dari Arab. Perdagangan itu membuat wilayah Jawa Timur memiliki kedudukan penting dalam sektor perdagangan. Hal ini didukung wilayah Jawa Timur yang strategis. Keadaan tersebut membuat Sriwijaya menjadi khawatir bahwa Jawa Timur akan menarik langsung pedagang asing untuk bergabung ke wilayah Jawa Timur tanpa melalui Sriwijaya. 

Sungai Brantas pada perkembangannya mengalami perkembangan yang pesat. Selain berfungsi sebagai pengairan pada pertanian masa Jawa Kuna, sungai ini juga sangat ramai pada sektor perdagangan masa Raja Airlangga terutama di delta Sungai Brantas. Ada dua prasasti yang memberikan petunjuk keberadaan pelabuhan niaga atau aktivitas di delta Sungai Brantas, yaitu Prasasti Manajung dan Prasasti Kamalagyan. 

Prasasti Manajung memberi petunjuk bahwa Manajung termasuk watek kanuruhan merupakan pelabuhan niaga. Ada yang memperkirakan bahwa watek kanuruhan yang meliputi daerah Manajung dan rempah itu sekarang lokasinya di Pelabuhan Pasuruan. Prasasti tersebut dijelaskan bahwa perjuangan untuk menjual barang-barang dagangan yang layak, dikuasai oleh kaum pedagang besar yang mandiri. Untuk melaksanakan tugasnya, mereka membentuk asosiasi pejabat-pejabat pedagang besar yang disebut Banigrama Parawulu yang berkedudukan di Manajung. 

Untuk menjaga barang dagangan agar tidak rusak, didirikan gudang-gudang dan lumbung-lumbung padi di Manajung. Adapun barang dagangan yang dilindungi, antara lain merica, kacang, adas, kasumu, wungkulu dan yang paling penting dari semua bahan itu adalah beras. Pelabuhan Manajung hanyalah pelabuhan penampungan barang dagangan dari daerah sekitar dan kemudian diangkut ke pelabuhan utama atau antara Hujung Galuh. Pelabuhan tersebut dinamakan pelabuhan Dhinamasrama. Dhinamasrama berada di pantai utara Sidoarjo, dekat muara Kali Pepe atau mungkin sekarang di dekat Kalimas. Sejak abad X sampai XI, pelabuhan tersebut dikunjungi para saudagar dan para pedagang bengawan. 

Prasasti Canggu atau yang dikenal dengan nama Prasasti Trowulan 1 menyebutkan 33 desa penyebrangan di tepi Bengawan Solo dan 44 desa di tepi Sungai Brantas. Dari berbagai desa penyebrangan itu, beberapa di antaranya berkembang menjadi pelabuhan sungai yang besar, yaitu Canggu, Bubat, dan Terung. Keberadaan pelabuhan sungai di sepanjang tepian Bengawan Brantas dan Bengawan Solo terekam dalam Prasasti Canggu 1280 Saka. Pada lempeng ke-5 disebutkan nama-nama desa pelabuhan di tepi Sungai Brantas dan Bengawan Solo. Keterangan dari Prasasti Kamalagyan 1037 M, Prasasti Kudadu 1216 Saka, dan Prasasti Canggu 1280 Saka menunjukkan bahwa kemungkinan kedua yang lebih nyata, yaitu Bengawan Brantas menjadi tiga di Waringisapta. Dilihat dari penyebutan dalam Prasasti Canggu 1280 Saka hanya dua cabang besar dan dapat dilayari hingga pedalaman. 

Dari informasi yang diperoleh, Prasasti Canggu (Trowulan 1) 1358 M menyebutkan beberapa tempat penyeberangan di Sungai Brantas. Salah satu jalur titik-titik penyeberangan berturut-turut menyebutkan Desa Serbo, Wiringinpintu, Lagada, Pamiotan, dan Tulangan dapat diperkirakan merupakan jalur Sungai Porong yang lama, yaitu mulai wilayah Serbo di Desa Bogempinggir menuju Wiringinpintu, Legadogeng, Tulangan, dan Pamotan sampai ke Muara Sungai Porong yang sekarang. Wilayah Serbo Porong pada masanya merupakan daerah percabangan Sungai Brantas dan Kalimas. Kemungkinan lebih besar lagi adalah bahwa percabangan Sungai Brantas tersebut justru berada di daerah Wringinpintu karena dari uraian Prasasti Kamalagyan 1037 M jelas sekali dikatakan bahwa akibat pembangunan Dawuhan tersebut memperlancar jalur transportasi dan perdagangan dari Hujung Galuh. 

Dilihat dari namanya, Hujung berarti ujung tanah yang menjorok ke laut atau tanjung, sedangkan Galuh artinya emas. Letak Hujung Galuh belum diketahui pasti kebenarannya. Menurut para sejarawan, Hujung Galuh terletak di Bengawan Brantas. Dalam Prasasti Klagen disebutkan bahwa dulunya Hujung Galuh sebagai jalabuhan (pelabuhan) atau tempat bertemunya pedagang antarpulau yang melakukan bongkar muat barang dengan perahu. Oleh karena peristiwa sejarahnya telah terlalu lama terjadi, maka sumber sejarah yang tertulis belum banyak ditemukan, sedangkan bukti arkeolog nampaknya sudah lenyap dimakan pembangunan kota. 

Pembahasan di atas menjelaskan bahwa Sungai Brantas yang mengalir di Jawa Timur mempunyai fungsi yang sangat penting bagi masyarakat di sekitarnya, khususnya di Pulau Jawa. Dari segi perekonomian, keberadaan Sungai Brantas yang mengaliri sawah-sawah perkebunan masyarakat sangat membantu, mulai dari bidang pertanian sampai perdagangan. Sungai Brantas juga mengalir sampai ke pedalaman-pedalaman wilayah kerajaan. Oleh karena itu, sungai ini sangat ramai dilalui para pedagang sejak zaman dahulu. Begitu pun dengan Pelabuhan Canggu, pelabuhan ini merupakan gerbang masuk Kerajaan Majapahit sehingga banyak dilalui para saudagar bangsa asing. Zaman telah berubah, kini Pelabuhan Canggu dan Sungai Brantas telah berganti fungsi, bahkan kemegahan Pelabuhan Canggu telah berganti menjadi rumah-rumah penduduk. 

 

_______

Daftar Pustaka

Abdillah I. 2018. Canggu, nama kuno atau Cheng Hoo? Pelabuhan Dagang terkenal masa lampau. (Online) (diakses tanggal 20 Agustus 2021) (https://www.facebook.com/iwan.abdillah/posts/1924676904210714) 

Efendi M.A.R, Hamid A. R. 2020. Rempah Nusantara Merajut Dunia. Samarinda: Balai Pelestarian Cagar Budaya Kalimantan Timur. 

Hutama. 1994. Canggu Pelabuhan Sungai Masa Majapahit (SKRIPSI). Yogyakarta: Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.  

Mahadewa. 2017. Canggu, Pelabuhan Kuno di Masa Lampau. (Online) (diakses tanggal 20 Agustus 2021) (http://dloverheruwidayanto.blogspot.com/2017/03/canggu-pelabuhankuno-di-masa-lampau.html?m=1) 

Rangkuti N. 2005. Pelabuhan-Pelabuhan Sungai Masa Majapahit di Daerah Hilir Sungai Brantas : Penggalian Arkeologis di Desa Mentoro, Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, (LAPORAN PENELITIAN ARKEOLOGI). Yogyakarta: Balai Arkeologi Yogyakarta Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata. 

Sandi A.D. 2014. Banjir Sungai Brantas Masa Raja Airlangga Abad XI Berdasarkan Prasasti 

Kamalagyan 1037 M (SKRIPSI). Surabaya: Universitas Negeri Surabaya Fakultas Ilmu Sosial. 

Wigowo A.S, Muljana S. 1979. Majalah Arkeologi. Jakarta: Lembaga Arkeologi FSUI. 

 _______

Naskah ini merupakan karya pemenang pilihan dalam Lomba Penulisan Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia 2021 kategori Pelajar. Naskah telah melewati proses penyuntingan untuk kepentingan publikasi di laman ini.  Judul asli naskah ini adalah Pelabuhan Canggu dan Peran Sungai Brantas Era Jalur Rempah pada Abad X-XIII.

_______

Penulis: Aqiilah Nurfaza, Yusuf Hakim 

Editor: Tiya S.

Sumber gambar: Lukisan Pelabuhan Canggu, foto oleh Nicholas Nathanael, 12 Agustus 2021

Bagikan:

Konten Populer

“Negeri di Bawah Angin”: Nusantara dan Pengaruh Angin dalam Jalur Perdagangan Rempah

1 November 2022

Dorong Semangat Gotong Royong, Kemendikbudristek Gandeng Lintas Sektor Sukseskan Muhibah Budaya Jalur Rempah

11 Juni 2022

Dansa dari Kota Padang

17 Februari 2022

Konten Terbaru

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

26 Januari 2023

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

19 Januari 2023

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

12 Januari 2023

Konten Terkait

...

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

merry kurnia

12 Januari 2023

...

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

Royas Aulia Subagja

26 Januari 2023

...

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

Achmad Khalik Ali

19 Januari 2023