Artikel

Pelabuhan Sunda Kelapa: Jaringan Perdagangan dan Identitas Kota Jakarta

admin | 11 April 2021

Seri Buku Zamrud Khatulistiwa: Kota-kota di Jalur Rempah Pada Era Kejayaan Nusantara Program Jalur Rempah yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan banyak ahli di bidangnya menyusun seri buku Zamrud Khatulistiwa: Kota-kota di Jalur Rempah Pada Era Kejayaan Nusantara. Salah satunya adalah buku bertajuk Sunda Kelapa: Jaringan Perdagangan dan Identitas Kota Jakarta yang melibatkan beberapa penulis yaitu Kartum Setiawan, M.Hum, Ary Sulistyo, M.Si dan Gunawan Wahyu Widodo, M.Hum.  Buku ini akan menjelaskan secara detail tentang peran Pelabuhan Sunda Kelapa yang meskipun bertransformasi dan berganti-ganti nama (menjadi Jayakarta, Batavia dan kembali ke nama sebelumnya) namun tidak kehilangan perannya sebagai titik penting Jalur Rempah Nusantara dan Dunia di masa lampau. Berikut adalah secuplik isi buku Sunda Kelapa: Jaringan Perdagangan dan Identitas Kota Jakarta. Cover Buku Sunda Kelapa: Jaringan Perdagangan dan Identitas Kota Jakarta Pelabuhan Sunda Kelapa mempunyai peran yang penting dalam Jalur Rempah Dunia.

Sejak masa kerajaan Tarumanagara hingga Hindia Belanda, Pelabuhan Sunda Kelapa begitu aktif dalam perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Pelabuhan ini juga banyak dikunjungi kapal-kapal dari Palembang, Tanjungpura, Malaka, Makassar, dan Madura, bahkan pedagang-pedagang dari India, Tiongkok Selatan dan Ryu Kyu (Jepang). Dari pelabuhan ini, diekspor lada, pala, beras, dan emas.  Keberadaan Pelabuhan di Sunda Kelapa diyakini sudah muncul sejak abad ke IV pada masa kerajaan Tarumanagara. Hal ini berdasarkan catatan dan prasasti Tugu yang berisi mengenai penggalian dua sungai yaitu Candrabhāga dan Gomati. Sungai Candrabhāga digali terlebih dahulu hingga airnya mengalir sampai ke laut dan melewati istana kerajaan Pūrṇawarman yang termasyhur. Sementara penggalian Sungai Gomati dilakukan pada tahun ke-22 dari masa pemerintahan Pūrṇawarman, dan selesai dalam tempo 21 hari.  Sementara dari sumber Portugis dapat diperoleh dari laporan perjalanan Tome Pires yang  termaktub dalam karya monumentalnya berjudul Suma Oriental. Pada tahun 1513, Pires sampai di Pulau Jawa, kemudian ia menyusuri pantai utara Jawa dan singgah di beberapa pelabuhan, di antaranya Sunda Kelapa atau dalam bukunya disebutkan bernama Capala. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan utama kerajaan Sunda Pajajaran. Saat itu kerajaan Hindu-Pajajaran ini, memiliki enam buah bandar laut, yaitu: Bamtam (Banten), Pomdam (Pontang), Chegujde (Cigede), Tamgaram (Tangerang), Capala (Kalapa), dan Chemano (Cimanuk). Di antara enam pelabuhan tersebut Pelabuhan Sunda Kelapa, merupakan pelabuhan utama. Melalui pelabuhan tersebut Pajajaran melakukan hubungan niaga dengan wilayah lain.  Barang-barang yang menjadi komoditas utama kerajaan Pajajaran pada umumnya bahan makanan dan lada. Pelabuhan ini juga dikenal sebagai pelabuhan pengekspor lada yang sibuk. Saat itu lada menjadi komoditas utama yang dihasilkan dari Pajajaran.

Setiap tahunnya dihasilkan sekitar 1.000 bahar dengan mutu yang jauh lebih bagus dibandingkan lada dari Kocin (Asia Tenggara). Seperti disebutkan sebelumnya, selain lada juga terdapat komoditas lain yang diperdagangkan di antaranya asem, beras, sayuran, dan buah-buahan. Rempah-rempah didatangkan dari kawasan timur Nusantara, sedangkan lada dari Banten dan Lampung. Selain itu beragam hewan ternak juga menjadi barang dagangan seperti sapi, kambing, babi dan lain-lain. Perdagangan lainnya di pelabuhan Sunda Kelapa adalah pakaian yang didatangkan dari India.  Ada catatan menarik sebelum Pajajaran dikuasai oleh kerajaan Islam Demak, yakni catatan bangsa Portugis yang pernah berkunjung ke Sunda Kelapa di tahun 1522 dan dibuat suatu Perjanjian di mana orang-orang Portugis akan membangun benteng di Sunda Kelapa, dan sebagai imbalannya Sunda Kelapa akan menerima barang-barang yang diperlukan dari Portugis. Selain itu, Raja Pajajaran juga tercatat akan memberikan kepada Portugis 1.000 keranjang lada sebagai tanda persahabatan. Pada saat itu para pedagang Eropa mempunyai obsesi untuk mencapai pusat produksi tanaman lada. Oleh karena itu, Portugis dengan antusias melakukan perjanjian dengan Pajajaran, dengan harapan akan menguasai perdagangan lada di Pelabuhan Sunda Kelapa. Perjanjian antara Portugis dan Pajajaran merupakan bentuk hubungan internasional pertama kali antara kerajaan di Nusantara dengan negara Eropa.  Sayangnya keberlanjutan dari perjanjian ini akhirnya tidak menguntungkan kedua pihak, baik Portugis maupun Pajajaran. Hal ini terjadi karena bala tentara gabungan Demak dan Cirebon berhasil menguasai Sunda Kelapa. Posisi pelabuhan di muara sungai Ciliwung yang sangat menguntungkan bagi perdagangan lokal maupun internasional pun turut diperebutkan. Kemudian, pada tahun 1527 Pelabuhan Sunda Kelapa dapat dikuasai oleh Kerajaan Demak dan Cirebon.  Penaklukan wilayah Sunda Kelapa adalah awal dari hilangnya pengaruh Pajajaran dalam perdagangan di Nusantara. Kemudian kota pelabuhan yang baru direbut oleh Sultan Fatahillah ini diganti menjadi Jayakarta yang artinya kemenangan yang sempurna. Inilah babak baru yang menjadikan Pelabuhan Sunda Kelapa berganti nama menjadi Pelabuhan Jayakarta. Menyadari pentingnya Pelabuhan Sunda Kelapa, maka didirikan kota Jayakarta di tepi barat Sungai Ciliwung atau di sebelah selatan pelabuhan.

Hal ini berbeda dengan kekuasaan sebelumnya yang berada jauh lebih ke pedalaman. Jayakarta memiliki reputasi sebagai kota perbekalan di mana tempat kapal-kapal dapat berlabuh di pelabuhan yang bagus dan mengalir air bersih, banyak kayu untuk perbaikan kapal, serta arak yang diproduksi oleh orang Tionghoa yang menetap di Jayakarta. Pelabuhan Jayakarta mulai berkembang tatkala pedagang dari Belanda mulai singgah di Pelabuhan Jayakarta. Bahkan, melalui perjanjian pada tanggal 13 November 1610 yang ditandatangani oleh wakil VOC Jacques L’Hermite, mereka diberikan tempat untuk berdagang dan membangun loji (gudang). Lokasi loji yang diberikan Jayakarta berada di sebelah timur Ciliwung.  Pada awalnya perjanjian ini berjalan lancar, namun lambat laun VOC tidak hanya sekedar berdagang, tetapi mulai membangun benteng pertahanan yang kita ketahui akhirnya. Pertempuran antara Jayakarta dan VOC pada 30 Mei 1619 dimenangkan oleh Belanda, Jan Pieterszoon Coen berhasil menghancurkan kota Jayakarta setelah kekuasaan Pangeran Jayakarta lumpuh akibat pertentangan yang sengaja dibuat VOC dengan keraton Banten.  Babak baru kehidupan di wilayah Jayakarta dimulai ketika VOC mendirikan sebuah kota baru yang bernama Batavia. Wilayah Batavia kemudian bertransformasi sebagai faktor penting dalam satu hegemoni kekuasaan. Pada masa ini Pelabuhan Jayakarta juga diganti menjadi Pelabuhan Batavia. Melalui pembangunan benteng persegi empat di kota Batavia, merupakan tonggak awal kehadiran VOC di Nusantara. Selama berabad-abad Batavia semakin berkembang dan bandar niaga di Pelabuhan Batavia menjadi pusat perdagangan internasional. Pada masa VOC peran Pelabuhan Batavia semakin penting, VOC tidak hanya membangun benteng dan gudang penyimpanan, tetapi juga  menghubungkan dengan pelabuhan dibangun pula parit dan kanal yang dialiri Sungai Ciliwung. Tujuannya, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di dalam kota Batavia. Selain itu pembangunan kanal ini juga difungsikan sebagai jalur transportasi dan secara tata kota, kanal-kanal ini akan menghadirkan nuansa lingkungan yang menyerupai dengan negeri asal orang Belanda yang berada di dataran rendah. Para pedagang Belanda pun menduduki tempat-tempat yang sangat strategis. Hal ini dilihat dari pelabuhan dan pusat perdagangan VOC di Batavia.   Peran Pelabuhan Batavia ditingkatkan termasuk segala fasilitasnya seperti menyediakan Syahbandar yang bertugas untuk menarik bea cukai.

Melalui Syahbandar ini jumlah barang dagangan yang masuk dan keluar dari pelabuhan dapat diketahui secara terperinci. Hal tersebut dilakukan sebagai tindakan pengawasan barang-barang dagangan yang keluar-masuk di Pelabuhan Batavia. Catatan Syahbandar ini juga secara rutin dilaporkan ke negeri Belanda. Selain itu dibangun bengkel-bengkel VOC untuk tempat perbaikan kapal. Pada akhirnya, VOC mendominasi perdagangan di Nusantara. Dengan keberadaan lokasi Pelabuhan Batavia sangat strategis, dilindungi oleh Teluk Jakarta (Batavia) yang terdiri dari pulau-pulau dalam gugusan Kepulauan Seribu, dan kapal-kapal dapat berlabuh dengan tenang dan aman. Selain itu juga karena posisinya berada di muara sungai Ciliwung, hal ini sekaligus memudahkan hubungan pelayaran dan perdagangan dengan daerah pedalaman.  Secara geografis maupun lalu-lintas Pelabuhan Batavia yang bercorak kebaharian membuat pelabuhan ini semakin berkembang. Berbagai komoditas dan rempah-rempah yang memiliki nilai tinggi di pasar dagang dunia diperdagangkan dari Pelabuhan Batavia. Pada masa sekarang, aktivitas pelabuhan ini juga masih terasa lekat jika kita berkunjung ke Pelabuhan Sunda Kelapa dengan kompleks gudang rempah-rempah yang kini beralih fungsi.  Pelabuhan Sunda Kelapa yang saat ini masih berdiri di pinggir Jakarta merupakan pelabuhan yang mempunyai nilai sejarah tidak hanya bernilai bagi masyarakat Jakarta saja, tetapi juga bagi bangsa Indonesia. Berbagai suku bangsa berlabuh hingga bertempat tinggal di sekitar pelabuhan sangat berperan dalam proses-proses pembentukan budaya.

Kehadiran para pedagang dari berbagai tempat di Nusantara dan pedagang asing tidak hanya untuk melakukan perdagangan rempah-rempah saja tetapi juga komoditas lainnya serta nilai-nilai budaya, keyakinan, corak arsitektur, dan banyak lagi, yang dibawa para pedagang dari tempat asalnya. 

Cuplikan buku Sunda Kelapa: Jaringan Perdagangan dan Identitas Kota Jakarta. Buku ini kelak bisa didapatkan secara gratis dengan mengunduhnya di sini.

 

__________

Naskah: M. Atqa

Editor: Doni Ahmadi

Bagikan:

Konten Populer

Aksara Lontara & Hukum Amanna Gappa: Jejak Jalur Rempah Makassar

15 Oktober 2020

Khasiat Buah Pala, Jejak Sejarah & Pengaruhnya dalam Konteks Literasi

3 Oktober 2020

Revitalisasi Ekonomi Politik Jalur Rempah Maritim

7 Februari 2022

Konten Terbaru

Pesona Jalur Rempah: Arti Burung Rangkong dalam Catatan Tionghoa

6 Desember 2022

Kerja Sama Hitu dan Jepara dalam Politik dan Perdagangan di Jalur Rempah

15 November 2022

Satuan Bahar, Barter, dan Bukti Perdagangan Rempah yang Kosmopolit di Abad 16

8 November 2022

Konten Terkait

...

Satuan Bahar, Barter, dan Bukti Perdagangan Rempah yang Kosmopolit di Abad 16

Amos

8 November 2022

...

Kerja Sama Hitu dan Jepara dalam Politik dan Perdagangan di Jalur Rempah

Amos

15 November 2022

...

Pesona Jalur Rempah: Arti Burung Rangkong dalam Catatan Tionghoa

Adi Putra Surya Wardhana

6 Desember 2022