Artikel

Peran Rempah-Rempah bagi Gastrodiplomasi Indonesia

admin | 18 Februari 2021

Makanan dapat menjadi instrumen yang membentuk pemahaman lintas budaya untuk meningkatkan interaksi dan kerja sama internasional. Makanan Indonesia yang kaya akan rempah-rempah memberikan peran alternatif dalam hubungan internasional, khususnya dalam diplomasi publik, people to people connection, maupun diplomasi budaya.

Mengetahui dan memahami secara luas makna Jalur Rempah dalam konteks kekinian, seyogianya berbanding lurus dengan gagasan pengetahuan dan manfaat yang mengikutinya dalam beragam cara. Saat ini, jejak rempah-rempah dapat digunakan untuk mempromosikan makanan, seni dan budaya Indonesia. Cerita tentang rempah umumnya hanya dikaitkan dengan dinamika sejarah ekonomi dan sosial politik di masa lalu. Padahal, dalam konteks Indonesia mutakhir, rempah juga terkait dengan kemungkinan dinamika masa depan.

Rempah bukan hanya elemen yang dapat menunjukkan bahwa produk ini ada di Nusantara. Namun, keberadaan dan perniagaan rempah-rempah bahkan telah mengisi sebagian besar narasi kebudayaan Indonesia. Rempah-rempah juga sudah sepatutnya digunakan sebagai penguat identitas bangsa di mata dunia melalui gastrodiplomasi.

Hal ini sejalan dengan ungkapan Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito, Guru Besar Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada sekaligus penulis lebih dari 70 buku dan artikel mengenai kuliner dan Gastronomi Indonesia. “Kalau kita berbicara tentang gastronomi Indonesia, sebetulnya yang paling strategis itu dimulai dari peranan rempah Indonesia sejak masa lalu,” ujarnya.

Gastrodiplomasi sebagai Sarana Diplomasi Publik

spice routes, jalur rempah, gastrodiplomacy, gastrodiplomasi indonesia

(Czarra, F. R. (2009). Spices: A global history)

Terminologi atau istilah gastrodiplomasi sendiri pertama kali dicetuskan oleh surat kabar The Economist pada tahun 2002. Dalam artikelnya, The Economist menyoroti keberhasilan pemerintah Thailand menjadikan makanan mereka sebagai duta besar untuk menjalankan diplomasi negaranya. Proyek global ambisius Thailand dinilai luar biasa sukses oleh The Economist, terbukti dari menjamurnya restoran-restoran Thailand di penjuru dunia (https://www.economist.com/asia/2002/02/21/thailands-gastro-diplomacy, diakses 5 Mei 2020).

Secara umum, gastrodiplomasi didefinisikan sebagai diplomasi publik yang dilakukan dengan memadupadankan diplomasi budaya, diplomasi kuliner, dan esensi nation branding untuk membuat budaya asing (budaya makanan, narasi makanan, dan lain-lain) menjadi nyata di negara lain melalui sentuhan dan rasa. Menurut Paul Rockower dalam Recipes for Gastrodiplomacy, Place Branding and Public Diplomacy (2012), praktik gastrodiplomasi identik dilakukan oleh negara-negara dengan kekuatan menengah atau middle power, seperti Indonesia.

Beberapa negara sudah mampu memiliki market berbasis makanan negara masing-masing yang menembus batas-batas negara. Mungkin sebagian besar masyarakat dunia termasuk Indonesia telah dapat mengenali suatu negara berikut asosiasi makanannya.  Misalnya, Jepang dengan sushi, Thailand dengan tom yum dan thai tea, Vietnam dengan pho dan vietnamese coffee, Turki dengan kebab, Italia dengan pasta, serta Korea dengan korean BBQ dan kimchi. Restoran-restoran yang menyajikan menu khas negara masing-masing muncul untuk ikut serta dalam kompetisi global di bidang gastronomi.

Restoran yang menawarkan kuliner Indonesia memang telah turut meramaikan bisnis makanan di luar negeri meskipun jumlah restoran Indonesia tidak sebanding dengan restoran Asia lainnya, seperti restoran Tiongkok, restoran Thailand dan restoran Vietnam. Di Belanda, misalnya, yang memiliki relasi historis dan menjadi salah satu negara dengan jumlah diaspora Indonesia paling banyak, restoran-restoran Indonesia yang telah berdiri sejak beberapa dekade silam (Rušinović, 2006) mendapat persaingan yang keras dari restoran-restoran Thailand dan Vietnam yang baru muncul belakangan.

Di Belanda, menu-menu yang disajikan di restoran-restoran Indonesia adalah masakan tradisional dengan olahan rempah-rempah yang relatif terkenal secara global, seperti rendang, sate ayam, soto, nasi goreng, gado-gado. Mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal (2012), mengamati bahwa di pasar Amerika Serikat yang besar, hampir tidak ditemukan restoran Indonesia yang terkenal, sementara banyak restoran Thailand, Malaysia, Vietnam, Kamboja, dan Afghanistan tersebar di seluruh Amerika Serikat.

Rempah dan Gastrodiplomasi Indonesia

spice routes, jalur rempah, gastrodiplomacy, gastrodiplomasi indonesia

(Czarra, F. R. (2009). Spices: A global history)

Perdagangan rempah telah meninggalkan warisannya pada kehidupan kontemporer, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga dunia. Berkenaan dengan hal tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tengah mengupayakan kisah panjang jejak perniagaan global rempah-rempah tersebut untuk diakui oleh UNESCO World Heritage Committee (WHC). Salah satu target pemerintah Indonesia dengan menjadikan Jalur Rempah sebagai warisan UNESCO adalah menghadirkan masa lalu bagi masa depan Indonesia.

Hingga saat ini, Indonesia masih menjadi penghasil komoditas utama rempah-rempah dunia. Produk unggulannya adalah lada, pala, cengkih, bunga pala, dan kayu manis. Destinasi teratas ekspor rempah-rempah Indonesia ialah Amerika Serikat, Jerman, Belanda, Singapura, dan Jepang.

Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito mengatakan bahwa peranan rempah pada abad pertengahan, yaitu pada tahun 1500-an, sudah sangat penting bagi revolusi cita rasa bangsa-bangsa di dunia. “Bangsa-bangsa di dunia dapat menikmati cita rasa yang lebih enak, yang lebih nikmat, karena datangnya rempah Indonesia ke Eropa. Melalui rempah-rempah ini, disumbang dengan biodiversity Indonesia yang sangat kaya, akan menciptakan berbagai ragam makanan Indonesia, tidak hanya kaya rupa, kaya rasa, namun juga kaya makna,” tuturnya. Oleh karena itu, menempatkan rempah sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia bukanlah jauh panggang dari api. Melalui rempah, maka Gastrodiplomasi Indonesia akan semakin kaya rasa. 

 

Daftar Pustaka


Czarra, F. R. (2009). Spices: A global history. London: Reaktion.

Djalal, Dino Patti.  (2012).  Dari Tukang Cuci Piring di KBRI Washington D.C Menjadi Duta Besar RI di Gedung yang Sama, in Dino Patti Djalal (ed).  Life Stories: Resep Sukses dan Etos Hidup Diaspora Indonesia di Negeri Orang.  hlm. 42-59. Red and White Publishing.

Majalah Tempo Edisi Khusus Antropologi Kuliner Indonesia: Ekonomi, Politik dan Sejarah di Belakang Bumbu Makanan Nusantara, 1-7 Desember 2014.

Rahman, Fadly. (2016). Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia. Jakarta: Gramedia.

Rahman, Fadly. (2018). “Negeri Rempah-Rempah”: Dari Masa Bersemi Hingga Gugurnya Kejayaan Rempah-Rempah. Patanjala, Volume 11 Nomor 3 September 2018, 347-362.

Rockower, P. (2012). Recipes for Gastrodiplomacy, Place Branding and Public Diplomacy. 8(3), 235-246.

Rušinović, Katja. (2006). Dynamic Entrepreneurship: First and Second-Generation Immigrant Entrepreneurship in Dutch cities. Amsterdam: Amsterdam University Press.

Yayusman, Meilinda dan Aidulsyah, Fachri. (2020). “Penguatan Gastronomi Indonesia melalui Gastrodiplomasi: Identifikasi Awal Eksistensi Makanan dan Rempah Indonesia di Luar Negeri.” Tugas Akhir Workshop Berseri Metode Digital, Kedeputian Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan LIPI.


Sumber Internet


“Food as ambassador: Thailand’s gastrodiplomacy”

https://www.economist.com/asia/2002/02/21/thailands-gastro-diplomacy, diakses 5 Mei 2020.

Jalur Rempah, Masa Lalu untuk Masa Depan Indonesia: Diusulkan ke UNESCO sebagai Warisan Dunia, https://www.jawapos.com/nasional/19/09/2020/jalur-rempah-masa-lalu-untuk-masa-depan-indonesia/, diakses 19 September 2020.

Lazuardi, M. dan Triady, M.S. (2015). Ekonomi Kreatif: Rencana Pembangunan Kuliner Nasional 2015-2019. Bekraf. Diakses dari http://indonesiakreatif.bekraf.go.id/ikpro/wp-content/uploads/2015/07/Rencana-Pengembangan-Kuliner-Nasional.pdf , diakses pada 20 Januari 2020.

Medieval Europe’s ‘divine obsession’ with Indonesian spices, (2017) https://www.thejakartapost.com/adv/2017/07/21/medieval-europes-divine-obsession-with-indonesian-spices.html, diakses 19 September 2020.

News Desk The Jakarta Post. (2019). “Indonesia to propose spice trail for UNESCO World Heritage list” https://www.thejakartapost.com/life/2019/09/21/indonesia-to-propose-spice-trail-for-unesco-world-heritage-list.html, diakses 19 September 2020.

Sebastian Partogi. (2017). “Cultural significance in maritime spice trade” https://www.thejakartapost.com/life/2017/09/22/cultural-significance-in-maritime-spice-trade.html, diakses 19 September 2020.


Penulis artikel ini adalah Tim Peneliti Prioritas Riset Nasional (PRN). “Penguatan Peran Gastronomi Indonesia di Luar Negeri melalui Gastrodiplomasi” yang merupakan rencana penelitian 5 tahun, berada di bawah kerangka besar yang dijalankan Kedeputian Ilmu Pengetahuan dan Kemanusiaan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (IPSK-LIPI).

 

Penulis: Tim Peneliti Prioritas Riset Nasional (PRN)

Editor: Tiya Septiawati

Bagikan:

Konten Populer

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

26 Januari 2023

Pulau Onrust: Bengkel, Pemukiman, dan Orang Sakit

27 Desember 2020

Perbedaan Jalur dan Jaringan dalam Perdagangan Rempah

6 Desember 2020

Konten Terbaru

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

26 Januari 2023

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

19 Januari 2023

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

12 Januari 2023

Konten Terkait

...

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

merry kurnia

12 Januari 2023

...

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

Achmad Khalik Ali

19 Januari 2023

...

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

Royas Aulia Subagja

26 Januari 2023