Artikel

Pulau Seram Ambon, Tanah Subur Penghasil Rempah-Rempah

admin | 20 Oktober 2020

Pulau Seram Ambon merupakan salah satu pulau dari gugusan Kepulauan Maluku yang juga dikenal sebagai kepulauan penghasil rempah terbaik Nusantara. Pulau yang memiliki sejarah dan pernah menjadi rute perniagaan bangsa-bangsa lokal dan asing ini kini terdiri dari tiga kabupaten, yaitu kabupaten Maluku Tengah dan dua kabupaten hasil pemekaran, yaitu Kabupaten Seram Timur dan Kabupaten Seram Bagian Barat. 

Keadaan alam di Pulau Seram Ambon sendiri sangat strategis dan memiliki udara yang sejuk. Hal ini juga yang dipercaya membuat tanaman rempah-rempah tumbuh subur di sini. Selain itu, dengan lokasi yang strategis, hal ini menjadikan Pulau Seram sebagai rute perniagaan para pedagang lokal sebelum kelak menjadi tempat singgah bangsa-bangsa asing.

Pada masa lalu, perdagangan dari Kepulauan Seram menuju Kepulauan Banda merupakan pola perniagaan yang hampir sama dengan perdagangan Kepulauan Aru dan Kei. Para pedagang Seram biasa berangkat melalui Pelabuhan Amahai dan singgah di pasar perantara di Kepulauan Banda. Jalur perdagangan yang ditempuh oleh pedagang dari Pulau Seram dilalui dengan menyusuri pesisir Seram bagian timur dan memutar haluan ke selatan sebelum tiba di Banda.

Sebelum sampai di Banda Neira, pedagang Seram ini juga biasa singgah di Pelabuhan Hitu untuk menukarkan barang-barang yang mereka bawa, biasanya berupa perhiasan mutiara dan kain tenun kasar. Hal ini mereka lakukan sebelum berniaga ke Banda dengan modal cengkeh. 

Tak hanya menghasilkan cengkeh sebagai hasil bumi, pedagang dari Seram juga membawa hasil hutan, seperti damar, madu, dan peralatan dapur/memasak dari bahan gerabah. Barang-barang itu dipertukarkan dengan kain tenun kasar, tekstil Gujarat, dan barang impor lainnya yang mereka peroleh dari pedagang lokal maupun asing.

Dari perdagangan itulah, hasil bumi mereka bisa sampai diperdagangkan ke Jawa dan Sumatera atau negara lain. Hal ini membuat Kerajaan Sriwijaya hingga Banten menjadi pusat perdagangan pertama sekaligus persinggahan bangsa Eropa sebelum mereka melakukan ekspedisi pencarian rempah ke Maluku.

Pasca kedatangan VOC, saat harga rempah-rempah di pasar internasional mengalami penurunan tajam pada 1652, maskapai dagang Belanda tersebut mengurangi produksi dan membabat pohon-pohon cengkeh yang terdapat di Maluku. Hanya ada dua pulau yang tidak terkena dampak eradikasi ini, adalah cengkeh yang tumbuh di Pulau Ambon dan Seram.

Sebagaimana yang terjadi di masa lampau, jejak Jalur Rempah di Pulau Seram Ambon juga tersisa hari ini. Hal ini bisa kita lihat dari banyaknya pelabuhan di pulau penghasil cengkeh ini. Pelabuhan-pelabuhan itu, antara lain: Amahai, Masohi, Kairatu, Piru, Tehoru, Bula, Geser, Wahai, Kobisadar, dan Way ley.

Sumber:


Amal, M. Adnan 1950. Kepulauan Rempah-rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950. KPG.

Razif & M. Fauzi. 2017. Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Adat Abad X-XVI: Kepulauan Banda, Jambi dan Pantai Utara Jawa. Direktorat Sejarah.


Naskah: Doni Ahmadi

Editor: Tiya S.

Bagikan:

Konten Populer

Benteng Belgica: Jejak Perdagangan Rempah Dunia di Banda Neira

5 Oktober 2020

Sastra untuk Rempah dan Nusantara

17 Januari 2022

Jalur Rempah 2020: Capaian Kegiatan hingga Survei Litbang Kompas

15 Desember 2020

Konten Terbaru

Pesona Jalur Rempah: Arti Burung Rangkong dalam Catatan Tionghoa

6 Desember 2022

Kerja Sama Hitu dan Jepara dalam Politik dan Perdagangan di Jalur Rempah

15 November 2022

Satuan Bahar, Barter, dan Bukti Perdagangan Rempah yang Kosmopolit di Abad 16

8 November 2022

Konten Terkait

...

Kerja Sama Hitu dan Jepara dalam Politik dan Perdagangan di Jalur Rempah

Amos

15 November 2022

...

Pesona Jalur Rempah: Arti Burung Rangkong dalam Catatan Tionghoa

Adi Putra Surya Wardhana

6 Desember 2022

...

Satuan Bahar, Barter, dan Bukti Perdagangan Rempah yang Kosmopolit di Abad 16

Amos

8 November 2022