Artikel

Rempah dan Teh Nusantara: Sekilas Sejarah dan Manfaatnya

admin | 21 Maret 2021

Satu tahun sudah Covid-19 mewabah di dunia, termasuk Indonesia. Sejak terdeteksi pertama kali pada 2 Maret 2020 silam, masih segar dalam ingatan bagaimana virus ini membuat geger masyarakat yang dengan kalap memburu masker, penyanitasi tangan, dan disinfektan sebagai proteksi diri dari virus tersebut.

Selang beberapa waktu, masyarakat juga sempat dihebohkan dengan pernyataan dari Profesor Chaerul Anwar Nidom, Guru Besar Biokimia dan Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya, yang pertama kali mengklaim bahwa ramuan rimpang berupa jahe, kunyit, temulawak, serai, dan rempah lain yang mengandung curcumin mampu meningkatkan imun tubuh untuk menangkal serangan virus corona. Formulasi ini kemudian dikenal dengan sebutan empon-empon.

Meski perlu penelitian lebih lanjut, kabar tersebut menjadi viral dan tidak hanya hangat diperbincangkan di grup-grup WhatsApp, namun juga terdengar hingga ke telinga presiden. Beliau menyampaikan bahwa empon-empon menjadi suguhan yang disajikan untuk para tamu istana guna mencegah terjangkit virus corona. Hal ini pun seketika membuat banyak masyarakat ramai mengonsumsi rimpang. Di tengah pandemi, rempah kemudian menjadi komoditas mewah yang laris-manis di pasaran.

Setahun pandemi berlalu, ketika vaksin telah ditemukan, minuman berbahan dasar rempah masih menjadi pilihan banyak orang untuk meningkatkan imunitas. Tidak hanya rempah, meningkatnya kewaspadaan masyarakat untuk menjaga daya tahan tubuh ternyata membawa berkah bagi industri teh. Minuman yang umumnya hanya dikonsumsi dengan cara diseduh menggunakan air panas ini, bisa dikombinasikan dengan rempah-rempah tertentu dalam proses pembuatannya. Campuran dari bahan-bahan ini juga dipercaya dapat memperkaya cita rasa teh sekaligus menambah khasiat dari rempah yang digunakan. 

Dalam diskusi daring berjudul “Rempah dan Teh Nusantara” yang digagas oleh Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kemdikbud, Ratna Somantri, pakar teh sekaligus pendiri Indonesia Tea Institute, berbagi cerita tentang budaya teh di Indonesia serta bagaimana manfaat teh dan rempah di kala wabah Covid-19 melanda saat ini. 

“Kisah di balik secangkir teh sangat kaya akan budaya dan cerita,” kata Ratna, membuka diskusi.

Masuknya Teh dan Tradisi Menikmatinya

Budaya minum teh menjadi sesuatu yang melekat di tengah-tengah masyarakat Indonesia dan menjadi tradisi yang diwariskan secara turun-menurun. Dinikmati oleh berbagai kalangan tanpa peduli batasan kelas sosial, teh merupakan minuman populer yang tersaji usai makan siang atau hadir menjadi teman yang bersanding dengan camilan ringan. Teh biasa hadir di tengah-tengah perjamuan resmi para bangsawan, juga sebagai pelepas dahaga kaum proletar.

Meskipun teh sudah begitu karib dalam kehidupan sehari-hari, namun masih banyak yang memandang bahwa teh hanyalah minuman biasa yang bisa dituang berkali-kali secara gratis di warung tegal atau angkringan pinggir jalan. Banyak yang belum mengetahui bahwa teh yang tersaji di cangkir-cangkirnya saat ini, memiliki banyak kisah dan cerita panjang yang berhubungan dengan sejarah perjalanan bangsa Indonesia serta turut andil dalam persilangan budaya di Nusantara pada masa lampau.

Menelisik sejarah, teh pertama kali masuk ke Nusantara pada tahun 1684, dibawa oleh Andreas Cleyer, seorang ahli botani yang berkebangsaan Jerman. Pada masa itu, teh dibawa dalam bentuk benih dan hanya dikenal sebagai tanaman hias. Fakta sejarah ini diperkuat pula dengan pengakuan seorang pendeta bernama F. Valentijn yang melihat tanaman teh tumbuh di halaman istana Gubernur Jenderal Johannes Camphuys di Batavia. 

Saat itu, teh tidak ditanam secara masif di berhektar-hektar perkebunan dan diperdagangkan seperti saat ini. Barulah pada abad ke-17, pemerintah Belanda mendatangkan bibit teh dari Tiongkok dalam jumlah banyak untuk ditanam di Indonesia, meski pertumbuhannya kurang berhasil.

Selang beberapa waktu, tepatnya pada tahun 1826, benih teh asal Tiongkok tersebut berhasil ditanam di Kebun Raya Bogor. Penanaman teh terus berlanjut dalam skala yang lebih besar di seluruh penjuru Hindia-Belanda, terutama di Pulau Jawa, meliputi Bogor, Garut, Purwakarta, dan Banyuwangi. Pabrik-pabrik pengolahan teh pun mulai didirikan, seiring dengan semakin banyaknya perkebunan teh yang dibangun. Teh dianggap sebagai komoditas yang menguntungkan kala itu. Sejak saat itulah, masyarakat pribumi mulai mengenal tanaman yang kian populer dalam kesehariannya hingga sekarang.

Menurut Ratna, kehadiran perkebunan teh yang tumbuh subur berkat bibit yang didatangkan dari Tiongkok tersebut ternyata juga menghasilkan interaksi di wilayah tempat di mana perkebunan teh itu berada. Berkembangnya industri teh juga menciptakan satu budaya baru dan turut menopang tradisi meminum teh yang mengakar di masing-masing wilayah.

Satu tradisi yang ternama terletak di Jawa Barat, yakni tradisi Nyaneutsebuah tradisi meminum teh khas Garut yang dilakukan secara bersama-sama dengan keluarga dan kerabat. Berasal dari kata nyandeutkeun yang berarti ‘menghubungkan’ atau ‘mendekatkan’, tradisi ini telah berlangsung lama di tengah masyarakat Garut sebagai representasi dari makna silaturahmi, sebuah sapaan hangat dari penyuguh teh kepada tamu yang menikmatinya.

Dalam pembuatannya, ada aturan yang dilakukan dalam proses pembuatan teh ini. Terlebih dahulu, air direbus dengan menggunakan anglo atau tungku tanah liat dan arang sebagai bahan bakar, setelah matang, air kemudian dipindahkan ke dalam poci tanah liat untuk ditambahkan teh. Minuman teh disajikan ke dalam cangkir berbahan bambu atau batok kelapa. Sejak 2014, budaya ngeteh di Garut ini kemudian menjadi festival yang digelar secara periodik sebagai upaya untuk melestarikan tradisi Nyaneut secara turun-menurun.

Lain Garut, lain pula dengan tradisi yang terjadi di Jawa Tengah, khususnya di tengah masyarakat Tegal. Di kota yang terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Barat ini, tradisi minum teh dikenal dengan budaya Moci, akronim dari kata ‘minum teh’ dan ‘poci’, sebuah budaya ngeteh yang diminum dari cerek berbahan tembikar.

Bagi masyarakat Tegal, minum teh bukan hanya sebagai kebiasaan, melainkan sudah menjadi tradisi di keseharian. Tak ayal, tradisi ngeteh masyarakat Tegal membuat kota yang satu ini tersemat dengan julukan “Negeri Poci”, sebuah titel yang juga mengesankan para penyair Indonesia akan budaya Moci khas Tegal. Beberapa penyair seperti Handrawan Nadesul, Eka Budianta, Acep Zamzam Noor, dan para penyair lainnya mengabadikannya momen ini dalam sebuah judul antologi puisi berjudul Dari Negeri Poci perdana pada tahun 1993 dan masih terus berjalan hingga sekarang.

Mengakarnya budaya minum teh di Indonesia turut mengantarkan teh pada masa emas kejayaannya. Ratna mengatakan, Indonesia pernah menjadi negara eksportir teh nomor empat terbesar di dunia dan saat ini Indonesia merupakan negara penghasil teh tertinggi ketujuh di dunia. 

Kini, di saat merebaknya pandemi Covid-19, peluang industri teh terbuka luas bersamaan dengan rempah. Teh dipercaya menjadi minuman berkhasiat yang mampu meningkatkan daya tahan tubuh. Kandungan polifenol di dalam teh diyakini  dapat membantu mengurangi risiko berbagai penyakit. “Ini adalah momen yang sangat tepat untuk mempromosikan bahwa teh adalah minuman yang baik dan Indonesia punya teh-teh berkualitas,” ujar Ketua Bidang Promosi Dewan Teh Indonesia tersebut.

Kombinasi Rempah dan Teh

Di tengah diskusi daring yang berlangsung, Santhi Serad, Ketua Aku Cinta Masakan Indonesia (ACMI), menyuguhkan satu resep teh yang dikolaborasikan dengan rempah-rempah. Beberapa bahan yang digunakan, yakni kembang telang, fuli, jeruk nipis, dan gula. Cara membuatnya, pertama-tama, seduh kembang telang dan fuli dengan air panas, lalu diamkan selama 3 sampai 5 menit. Kemudian, beri gula dan perasan air jeruk nipis untuk memberi cita rasa dan mengubah warna air kembang telang, yang semula biru menjadi ungu. Resep ini diberi nama exotic blue pea flowers with nutmeg, sebuah seduhan yang berkhasiat sebagai antioksidan (dari kembang telang) dan memperlancar peredaran darah serta memiliki efek menenangkan (dari fuli). 

Menurutnya, ada banyak rempah yang bisa dikombinasikan dengan teh dan menghasilkan satu minuman yang berkhasiat, di antaranya: jahe, cengkih, kapulaga, serai, jahe merah, dan masih banyak lagi. Campuran teh dan jahe merah menjadi salah satu yang favorit karena memberikan efek hangat pada tubuh dan sensasi sedikit pedas di lidah. 

Selain melindungi diri dengan menerapkan protokol kesehatan 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilisasi), melakukan hal preventif dengan meminum seduhan teh dan rempah, bisa menjadi pilihan untuk meningkatkan imun di tengah pandemi yang belum usai ini. Toh, lebih baik mencegah daripada mengobati. Hal ini juga, menurut Ratna, bisa menaikkan kembali pamor industri teh.

 

Sumber: 


Webinar Rempah dan Teh Nusantara dengan narasumber Ratna Somantri, Santhi Serad, dan Vita Datau, (https://www.youtube.com/watch?v=VMkB746oXJM), diakses pada 9 Februari 2021


Naskah: Tiya S. 

Editor: Doni Ahmadi

Bagikan:

Konten Populer

Kolaborasi Program Jalur Rempah & Arka Kinari di Kepulauan Banda Neira

1 Oktober 2020

Pulau Ternate, Kota Dagang & Titik Temu Pedagang Nusantara dan Asing

21 Oktober 2020

Jangkar dan Meriam Kuno: Jejak Jalur Rempah di Kepulauan Selayar

10 Oktober 2020

Konten Terbaru

Malam Puncak Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia

30 Oktober 2021

Bukti Linguistik Muasal Pala dan Cengkih

29 September 2021

Pameran Kolaborasi Rempah Nusantara Resmi Dibuka pada Simposium Internasional UNUSIA 2021

31 Agustus 2021

Konten Terkait

...

Malam Puncak Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia

admin

30 Oktober 2021

...

Bukti Linguistik Muasal Pala dan Cengkih

Gufran A. Ibrahim

29 September 2021

...

Pameran Kolaborasi Rempah Nusantara Resmi Dibuka pada Simposium Internasional UNUSIA 2021

admin

31 Agustus 2021