Artikel

Rempah sebagai Sumber Pengobatan Lokal: Fasal Obat dalam Pengetahuan Lokal Naskah Kuno “Ramalan tentang Gempa, Obat, Doa, Azimat”

Amos | 12 Oktober 2022

Selain sebagai bumbu masakan, rempah adalah sumber pengetahuan lokal, terutama dalam soal pengetahuan medis dan pengobatan lokal. Dari masa ke masa, rempah-rempah menjadi sumber utama pengobatan masyarakat Nusantara pra-modern. Kekayaan alam bukanlah hal eksotis bagi masyarakat Nusantara, melainkan kenyataan sehari-hari. Bagi masyarakat Nusantara pra-modern, rempah bukanlah barang mewah yang sangat berharga seperti emas, sebagaimana rempah dinilai para pedagang Eropa. 

Dalam perspektif alam pikir masyarakat Eropa abad 16 sampai 18, rempah digambarkan sebagai produk eksotis dan "barang mewah". Hal itu karena iklim di Eropa tak mungkin menumbuhkan tanaman rempah seperti di Nusantara. Fenomena tersebut digambarkan dalam buku Giles Milton bahwa gambaran rempah dalam Eropa abad 16 hingga 18 adalah gambaran eksotis (1999: 52-53). Lada digambarkan sebagai "raja rempah" yang segenggam saja jumlahnya dihargai setara emas dan berlian. Cengkeh juga konon menjadi "harta benda" bangsawan Eropa abad 17. Pada era tersebut, ada seorang peneliti botani yang paling terkenal soal rempah-rempah Nusantara, yaitu Georgius. E. Rumphius. Sebagai seorang pegawai VOC, ia mengumpulkan dan mendata ribuan tanaman beserta gambar dan namanya yang dituliskan menjadi buku Herbarium Amboinense. Rempah-rempah yang endemik dan dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Nusantara ikut terdata dan tercantum dalam kajian Rumphius. Bertahun-tahun kemudian sumber penelitian tentang rempah dibakukan oleh para peneliti botani. Karya Rumphius akhirnya menjadi acuan yang otoritatif. 

Pengaruh ini masih terasa sampai hari ini. Ketika membahas rempah, kita lebih sering mengutip dan mengacu sumber-sumber dari ilmuwan Barat seperti Rumphius, tetapi secara ironis jarang mengacu sumber pengetahuan lokal. Sementara itu, cara Masyarakat Nusantara dalam memaknai rempah sangatlah berbeda dengan masyarakat Eropa pada masanya. Rempah-rempah justru adalah bahan baku yang sehari-hari digunakan masyarakat Nusantara, rempah-rempah bukan barang eksotis yang hanya tersimpan pada lemari kaca. 

Masyarakat Nusantara memiliki sistem pengetahuan sendiri yang lahir dari tradisi ribuan tahun. Tradisi ini adalah tradisi hidup berdampingan dengan alam, sebuah tradisi dinamis yang melihat alam sebagai "ibu" dan bukan sebagai sosok yang harus ditaklukkan untuk dieksploitasi. Mengutip Jakob Sumardjo, hal ini bisa disebut epistemologi lokal, yaitu sebuah alam pikir masyarakat Nusantara pra-modern yang memiliki sistem, tata cara, adat, dan segenap struktur pemikiran khas (2006: 20-22).  

Sayangnya, kali ini kita hanya akan mengerucutkan pembahasan dalam sebuah naskah kuno berjudul "Ramalan tentang Gempa, Obat, Doa, Azimat". Meski tahun dan pengarangnya tak diketahui, naskah kuno ini berisi rangkuman pengetahuan bagaimana rempah digunakan sebagai pengobatan untuk menghadapi penyakit yang khas di Nusantara. Sebagai rangkuman, umur naskah ini kemungkinan sekitar 100-200 tahun, tetapi sebagai warisan tentu umurnya bisa sampai ribuan tahun. Hal ini karena sistem pengetahuan lokal bukanlah produk baru era modern, tetapi warisan turun-temurun. Tradisi rempah bukanlah tradisi ratusan tahun silam, melainkan tradisi yang telah ada bahkan sejak masyarakat Nusantara awal hidup di berbagai pulau yang penuh kekayaan hayati. 

Naskah ini dituliskan dengan aksara Arab, tetapi berbahasa Melayu. Beberapa filolog menyebut sebagai huruf Jawi yang merupakan paduan antara aksara Arab dan bahasa Melayu atau Jawa. Secara umum, naskah ini dibagi menjadi empat bagian, yaitu tentang gempa dan bencana, lalu tentang doa-doa, tentang azimat, dan tentang pengobatan. Teks yang berisi obat-obatan membahas tentang obat sakit perut, sakit mata, batuk, sariawan, serta waktu-waktu baik untuk mengambil rempah-rempah dan dedaunan yang akan dijadikan obat.

Fasal atau bagian pertama pengobatan menjelaskan obat sakit perut yang manjur di antara segala obat pada masanya. Untuk membuat obat itu, diperlukan lada, jira hitam (jintan), jamuju (cemba-cemba), bawang putih, daun kurap, jamur kuping padi, halia merah (jahe), mangli, buah pala, lawing, daun jeumpa, dan berbagai rempah-rempah lainnya (Holil, dkk, 2020: 70-72). Lalu, dijelaskan juga bagaimana semua bahan itu dibagi, dipotong, dan dihaluskan untuk menjadi bahan minuman yang akan menyembuhkan sakit perut.

(Kutipan naskah tentang rempah dalam "Ramalan tentang Gempa, Obat, Doa, Azimat")

Ramuan ampuh penyakit lain adalah ramuan penyembuh batuk. Menurut naskah ini, dibutuhkan gandarukem (gandaria), jira hitam (jinten), halia (jahe), dan lada untuk menyembuhkan batuk. Dijelaskan juga bahwa batuk ada beberapa jenis, yaitu batuk berdahak atau disebutkan batuk basah perangainya dan juga batuk kering atau sebutkan batuk kering perangainya (Holil, dkk, 2020: 70-72). Selain batuk dan sakit perut, dituliskan juga obat sariawan yang terbuat dari daun delima dan halia (jahe). Bahan-bahan itu harus disarikan dan ditempelkan pada sariawan sambil membaca beberapa doa. 

Kutipan naskah kuno tersebut hanyalah contoh yang membuktikan betapa rempah-rempah adalah obat sehari-hari yang digunakan masyarakat Nusantara pra-modern. Rempah juga penawar bagi berbagai penyakit, bukan barang eksotis yang dipatrikan pada lemari kaca mewah. Justru kesehari-harian rempah dalam kehidupan masyarakat Nusantara adalah bukti menyatunya manusia dengan alam pada sebuah ikatan erat. Rusaknya alam dan hutan mengartikan rusaknya juga sumber obat-obatan dan pengetahuan lokal milik masyarakat Nusantara.

 

_________

Referensi: 

Milton, Giles. 1999. Nathaniel's Nutmeg Or, The True and Incredible Adventures of the Spice Trader Who Changed the Course of History. New York: Farrar, Straus, and Giroux.

Munawar Holil, dkk. .2020. Alih Aksara Naskah Kuno Kebencanaan Koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Jakarta: Perpusnas Press.

Sumardjo, Jakob.  2006. Estetika Paradoks. Bandung: Sunan Ambu Press.

—. “Ramalan tentang Gempa, Obat, Doa, Azimat”. Koleksi Manuskrip Nusantara, Perpustakaan Nasional RI.

_________

Amos adalah seorang mahasiswa Ilmu Sejarah yang berkuliah di Universitas Negeri Yogyakarta. Sedang aktif mengurus Lingkar Studi Sejarah (LSS) Arungkala dan Lingkar Studi Filsafat - Teologi (LSFT) Dianoia. Ia sudah melakukan publikasi karya ilmiah dalam beberapa jurnal dan konferensi, salah satunya dalam Spice Route International Forum 2021 yang diadakan oleh Maranatha Christian University dengan ICOSMOS, CCDS, Fujian Normal University, dan Yayasan Negeri Rempah.

Ditulis oleh Amos (amoskampus@gmail.com), Laskar Rempah Jawa Barat.

Editor: Tiya S.

Sumber gambar: Ramalan tentang Gempa, Obat, Doa, Azimat - Koleksi Manuskrip Nusantara, Perpustakaan Nasional RI

Konten ini dibuat oleh kontributor website Jalur Rempah.
Laman Kontributor merupakan platform dari website Jalur Rempah yang digagas khusus untuk masyarakat luas untuk mengirimkan konten (berupa tulisan, foto, dan video) dan membagikan pengalamannya tentang Jalur Rempah. Setiap konten dari kontributor adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.

Bagikan:

Konten Populer

Menelusuri Sejarah Pati, Titik Strategis di Pantai Utara Jawa

17 Januari 2021

Sambutan Kedatangan Arka Kinari di Fort Rotterdam Makassar

4 Oktober 2020

Revitalisasi Ekonomi Politik Jalur Rempah Maritim

7 Februari 2022

Konten Terbaru

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

26 Januari 2023

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

19 Januari 2023

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

12 Januari 2023

Konten Terkait

...

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

merry kurnia

12 Januari 2023

...

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

Achmad Khalik Ali

19 Januari 2023

...

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

Royas Aulia Subagja

26 Januari 2023