Artikel

Sejarah Rempah dan Kaitannya dengan Potensi Pemanfaatan Komoditas Minyak Atsiri dalam Bidang Kesehatan

admin | 3 Februari 2022

Berabad-abad silam, Byzantium yang kemudian berganti nama menjadi Konstantinopel merupakan kota yang menjadi pusat transit perdagangan dunia. Konstantinopel merupakan sebuah kota yang sangat indah, tempatnya subur, dan memiliki lokasi yang sangat strategis secara geografis, sehingga menjadi kota terbesar dan termakmur di Eropa. Kota ini didirikan oleh Kekaisaran Romawi dan terletak di perbatasan Eropa dan Asia, strategis baik dari segi laut yang berada di antara Laut Tengah dan Laut Hitam maupun darat yang dilalui Jalur Sutra, di mana merupakan pusat persimpangan jalur perdagangan dunia. Pedagang dari berbagai negara berdatangan dan melakukan transaksi jual beli dari bermacam-macam barang dagang. Perdagangan rempah merupakan salah satu bisnis yang cukup tua dan paling menguntungkan pada masanya. Rempah-rempah telah dikenal di Eropa sekitar 70 SM dan digunakan sebagai obat serta penyedap makanan.

Maluku–yang saat itu tidak diketahui–menjadi sumber utama rempah-rempah dunia, dari Selat Malaka rempah-rempah dibawa oleh pedagang Arab dan Gujarat ke India serta Tiongkok melalui Jalur Sutra. Rempah kemudian diangkut dengan kapal ke pelabuhan di Venesia, lalu dibawa melalui darat ke Mediterania, kemudian diekspor ke Timur Tengah dan negara-negara di sekitar Laut Tengah hingga akhirnya menjadi rute perniagaan rempah tersebar di Eropa. Saat itu, rempah seperti pala dan cengkeh merupakan barang mewah yang sering ditukar dengan kain dari India, atau keramik dari Tiongkok. Rempah sangat disukai oleh bangsa Eropa, karena iklim Eropa yang dingin, rempah sering dikonsumsi untuk menghangatkan tubuh dan biasa digunakan untuk pengobatan, penyedap masakan, juga parfum. Bahkan saat itu rempah-rempah dari Negeri Timur yaitu Nusantara dipercaya menjadi obat hirup alami untuk mengobati wabah besar yang mengakibatkan kematian luar biasa di Eropa.

Kehidupan manusia hingga saat ini tidak pernah lepas dari seleksi alam oleh wabah-wabah yang pernah terjadi. Krisis Covid-19 saat ini bukanlah wabah yang pertama terjadi. Sebelumnya, wabah-wabah lain pernah melanda bumi kita beberapa kali, salah satunya adalah penyakit pes. Penyakit pes adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis yang dibawa oleh kutu tikus dan pertama kali muncul pada tahun 542 di Konstantinopel–salah satu tempat berbagai komoditas pangan diperjualbelikan secara Internasional. Hal ini disinyalir menjadi alasan mengapa penyebaran wabah pes terjadi, impor bahan pangan oleh Konstantinopel membawa tikus berkutu yang menyelinap ke berbagai kapal dagang dan bersembunyi di antara berbagai muatan kapal, tikus-tikus pembawa penyakit ikut naik kapal dagang, menyusup di antara karung bahan pangan. Manusia dapat terinfeksi penyakit pes melalui gigitan kutu tikus atau gigitan tikus yang terinfeksi. Tikus yang terjangkit pes umumnya bertahan 10-14 hari kemudian mati, namun kutu yang bersarang di tikus tetap bertahan hidup. Kematian massal tikus membuat gerombolan kutu kehilangan inang sehingga bersarang di tubuh manusia dan mendatangkan penyakit.

Di awal kemunculannya, wabah pes dikenal dengan nama Plague of Justinian, sesuai dengan nama kaisar Romawi yang berkuasa saat pandemi tersebut terjadi. Penyakit ini kemudian menyebar melintasi Afrika Utara, Asia, Timur Tengah, hingga Eropa. Masyarakat saat itu tidak mengetahui bagaimana cara melawan wabah kecuali dengan menghindari mereka yang sakit agar mampu bertahan hidup atau memiliki kekebalan tubuh melalui adaptasi. Wabah pes ini tidak berakhir begitu saja, 800 tahun kemudian wabah ini kembali muncul di Eropa pada tahun 1347. Dalam waktu 4 tahun, wabah ini telah menewaskan hampir dua pertiga populasi yang ada di Eropa dan diperkirakan ada 200 juta nyawa manusia di seluruh dunia yang gugur. Saat itu, wabah ini dikenal dengan nama Black Death (wabah Maut Hitam), disebut demikian karena gejala awal yang ditunjukkan oleh penderita adalah menghitamnya bagian kulit akibat jaringan yang mati. 

Wabah Black Death di Eropa (sumber: literaryocean.com)

Kala itu penanganan penyakit pes dilakukan dengan melakukan isolasi paksa bagi para awak kapal yang baru datang di pelabuhan. Para awak kapal ditahan di kapal selama 30 hari yang dikenal dengan istilah trentino, hingga akhirnya dinyatakan tidak sakit. Seiring waktu, durasi isolasi para awak ditambah menjadi 40 hari atau quarantino yang mana merupakan asal kata asli dari “karantina” yang dunia kenal saat ini. Selain itu masyarakat Eropa percaya, bahwa memakai pala atau rempah yang dimasukkan ke dalam kantung kecil dan dikalungkan ke leher kemana pun hendak pergi dapat mencegah pemakainya dari wabah pes. Meskipun awalnya dianggap takhayul karena keterbatasan ilmu pengetahuan, aroma pala yang terhirup diyakini masyarakat menjadi obat pes saat itu. Hal ini tidak lain karena pala atau rempah kebanyakan memiliki sifat antibakteri, fungisida, dan insektisida akibat kandungan kimia di dalamnya, terutama komponen isoeugenol yang merupakan insektisida alami banyak dibuktikan seiring berkembangnya ilmu pengetahuan. Begitu banyak manfaat rempah-rempah dari Nusantara membuatnya semakin disukai bangsa Eropa bahkan komoditas pala dan cengkeh menjadi primadona.

Hingga pada tahun 1453, jatuhnya Konstantinopel membawa perubahan besar terhadap dunia. Penaklukan Konstantinopel oleh kerajaan Islam Turki Utsmani dibawah pimpinan Muhammad Al-Fatih membawa dampak terhadap jalur perdagangan Asia dan Eropa. Aktivitas perdagangan antara kawasan Asia dan Eropa terputus akibat blokade dan monopoli perdagangan dari kesultanan Turki Utsmani saat itu, sehingga rempah dari Asia tidak bisa masuk ke Eropa. Kecintaan Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda terhadap rempah dari Negeri Timur dan ditutupnya jalur perdagangan dunia membuat bangsa Eropa terlibat persaingan untuk menemukan produsen rempah yang dirahasiakan para pedagang Arab dan Gujarat. Pala dan cengkeh saat itu hanya tumbuh pada iklim yang spesifik yaitu di kepulauan Maluku, sebagai satu-satunya penghasil pala dan cengkeh terbaik di dunia. Impor pala dari Nusantara membuat harga pala sangat mahal karena diperlukan perjalanan jauh melewati Samudera selama berbulan-bulan yang penuh risiko.

Jika dibandingkan dengan harga saat itu, harga rempah bisa berkali kali lipat harga emas sehingga membuatnya begitu bernilai. Hal ini memicu para pedagang Eropa untuk menguasai perdagangan rempah dan mengambil keuntungan besar dengan melakukan eksplorasi samudera. Penjelajahan samudera ini membuat bangsa Eropa menemukan banyak hal baru, hingga akhirnya turut mempengaruhi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk perkembangan pesat navigasi laut untuk pelayaran menjelajahi dunia. Bangsa Eropa dengan kekuatan armada laut dan perkapalan yang maju seperti Portugis dan Spanyol menelusuri jalur Timur dan Barat untuk sampai ke Asia yang kemudian diiringi bangsa Eropa lain seperti Inggris, Belanda, dan Prancis.

Bangsa Eropa pertama yang menginjakkan kaki di kepulauan rempah Maluku adalah Portugis. Pada tahun 1506, Seorang Portugis bernama Lodewijk de Bartomo datang pertama kali di Nusantara dan melaporkan keadaan Maluku ke tanah asalnya. Hingga beberapa tahun kemudian orang-orang Portugis secara resmi tiba di Maluku melalui rute Utara Selat Malaka, yang mana merupakan pelabuhan tempat transit keluar masuknya perdagangan di Asia Tenggara dan kemudian sampai di pulau Banda. Pada saat Portugis berada di kepulauan Maluku, kondisi saat itu tidak begitu baik, Kesultanan Maluku yaitu Ternate dan Tidore sedang berseteru dan bersaing ketat untuk menguasai pusat perdagangan rempah Maluku dengan membentuk kongsi dagang Uli Lima (Ternate) dan Uli Siwa (Tidore). Dalam waktu relatif singkat kedatangan Portugis kemudian disusul Spanyol yang merupakan pesaing dalam upaya menemukan kepulauan rempah. Sesampainya di Maluku, Spanyol dapat dengan mudah mempengaruhi warga lokal, namun mengalami kesulitan menghadapi Portugis untuk mendapat kewenangan dalam menangani kepulauan Maluku seutuhnya. Keduanya saling bersaing dan berupaya memperoleh dukungan juga legitimasi dari kerajaan-kerajaan lokal, hingga akhirnya Portugis bergabung dengan Ternate dan Spanyol bergabung dengan Tidore yang menyebabkan Maluku terpecah belah.

Bangsa Eropa makin mudah menguasai Nusantara karena konflik yang banyak terjadi di antara para penguasa Nusantara. Belanda merupakan negara yang kemudian sampai di laut Banda pada tahun 1599. Ketika Belanda akhirnya menemukan pulau Banda, mereka berupaya untuk melindungi rempah-rempah dengan melakukan monopoli perdagangan dan membentuk VOC pada tahun 1602, hingga akhirnya VOC berhasil menguasai perkebunan pala dan rempah-rempah mewah Nusantara. Terdapat tiga kekuasaan atas pulau Maluku saat itu, Ternate Utara dikuasai kerajaan Ternate, Ternate Tengah dikuasai VOC, dan Ternate Selatan juga Barat dikuasai Spanyol. Pada tahun 1663 Spanyol terpaksa meninggalkan Maluku karena harus melindungi negara jajahannya, Manila, dari serbuan bajak laut Tionghoa. Praktis menyebabkan wilayah Ternate Selatan dan Barat menjadi tidak bertuan dan hal ini kemudian dimanfaatkan Belanda untuk memperkuat keberadaannya di Maluku. VOC semakin gencar melakukan kegiatan monopoli perdagangan, apalagi dengan perginya Spanyol membuat seluruh tata niaga rempah-rempah di daerah Maluku berada di bawah kendali penuh Kompeni. Hingga terbentuk suatu perjanjian mengenai “hak monopoli Kompeni” atas tata niaga rempah-rempah di seluruh wilayah Maluku.

Namun saat itu monopoli perdagangan rempah VOC terhalangi oleh keberhasilan Inggris menguasai salah satu pulau di Banda bernama pulau Run. Pada tahun 1797, Inggris tiba di pulau Banda dan mencanangkan kolonialisme Inggris. Saat itu Inggris hanya mampu mempertahankan pulau Run selama 4 tahun, hingga akhirnya bisa dikuasai Belanda. Namun, tidak berhenti di situ. Inggris melakukan aksi balas dendam dengan merebut pulau Manhattan di New York yang disebut Belanda sebagai New Amsterdam sejak Prancis menduduki negeri Belanda. Hingga akhirnya kedua negara melakukan kesepakatan melalui perjanjian Breda yang mana dalam perjanjian tersebut diputuskan bahwa pulau Run yang sebelumnya dikuasai Inggris tetapi sedang diduduki Belanda menjadi milik Belanda. Sedangkan pulau Manhattan di New York yang merupakan tanah jajahan Belanda tetapi sedang diduduki Inggris, resmi diberikan kepada Inggris. Seiring berjalannya waktu, kedua pulau saat ini memiliki nasib berbeda. 

Pulau Run di Banda yang diperebutkan dan dahulu sangat berjaya karena menyimpan pala layaknya harta karun kini menjadi pulau terpencil dan terlupakan akibat kemunduran perdagangan dan anjloknya harga pala. Sedangkan di sisi lain, pulau Manhattan yang dahulu hanyalah pos dagang bulu binatang, kini menjelma menjadi kota yang paling maju di dunia bahkan menjadi salah satu pusat ekonomi global yang berada di kota New York.

Pulau Banda di Maluku hanyalah salah satu dari banyaknya jalur rempah Nusantara. Jalur rempah merupakan bagian dari khazanah budaya dan sejarah bangsa yang mana nilai-nilai istimewa di dalamnya perlu digali dan dipertahankan. Nilai-nilai yang diwariskan melalui asimilasi budaya menjadi kekayaan yang tidak tergantikan dan harus dilestarikan karena menjadi salah satu identitas bangsa. Melihat kemunduran rempah-rempah Indonesia dan jalur-jalur rempah yang kini mulai dilupakan meski pada sejarahnya menjadi incaran berbagai bangsa, dirasa sangat memprihatinkan. Terlebih lagi, saat ini kita dihadapkan dengan tantangan dan kemajuan zaman yang mengikis eksistensi sejarah dan budaya lokal, sehingga diperlukan upaya untuk menguatkan jati diri bangsa. Lalu bagaimana caranya agar dunia kembali menilik warisan budaya tersebut terutama jalur rempah di Maluku?

Seiring perkembangan zaman, pola hidup masyarakat juga mengalami perubahan. Tren gaya hidup holistik semakin menjamur di dunia, masyarakat terdorong untuk menerapkan kebiasaan hidup sehat karena maraknya gerakan wellness. Selain mulai memelihara kesehatan fisik dan memilih pengobatan herbal, menjaga pikiran tetap positif di era teknologi digital juga tak kalah penting untuk kesehatan jiwa. Menerapkan latihan meditasi, self healing, juga mindfulness dengan bantuan minyak atsiri mulai sering dilakukan masyarakat milenial bahkan menjadi tren yang tumbuh paling cepat di Amerika.