Publikasi

Kota Bau-Bau dalam Jalur Rempah di Indonesia Timur

Haliadi | 3 Desember 2021

Kota Bau-Bau dalam Jalur Rempah di Indonesia Timur

Haliadi*, Ismail*, dan Windayanti*

haliadisadi@gmail.com

 

Abstrak

Bau-Bau sebagai kota pantai pernah disentuh oleh sebuah peradaban Kesultanan Buton dan peradaban bahari yang terkait dengan perdagangan rempah-rempah (jalur rempah) karena letaknya yang strategis di Teluk antara Pulau Muna dan Pulau Buton. Kota Bau-Bau sebagai bagian dari wilayah Kesultanan Buton tumbuh dan berkembang sebagai kota pantai dan Pelabuhan penting di Nusantara.

Secara metodologis, tulisan ini akan menggunakan sumber-sumber Kabanti Bula Malino karya Sultan Buton Muhammad Idrus Qaimuddin (1824-1851) sebagai memori kolektif masyarakat. Sumber pelayaran dan perdagangan lokal maupun Kolonial Belanda yang membuktikan adanya jalur pelayaran dan perdagangan yang memasarkan rempah-rempah (jalur rempah) dari dan ke Bau-Bau, Buton.

Berdasarkan telaah sejarah naskah Kabanti Bula Malino ditemukan spirit terbentuknya Kota Bau-Bau. Syair ini membentuk semangat hidup dan kehidupan masyarakat Buton untuk tinggal dan menetap di Bau-bau. Pemukiman Bau-Bau sebagai destinasi pedagang luar dengan masyarakat Buton. Kata Bau (Pedagang Bugis) dan kata Wale (Rumah Tinggal sementara) menjadi penanda toponimi asal usul Kota Bau-Bau. Kedatangan Orang Bugis di Kota Pantai Bau-Bau memperjelas kota ini sebagai pelabuhan jalur persimpangan perdagangan di Nusantara. Penggunaan rempah-rempah untuk obat dan bumbu makanan menjadi penanda penting Kota bau-Bau sebagai salah satu dalam jalur perdagangan rempah di Nusantara.

Kata kunci: rempah, bula malino, dan Kota Bau-Bau

 

Abstract

The Buton Sultanate and Nautical civilizations once existed in Bau-Bau as a coastal city, associated with the spice trade (Spice Routes) because of its strategic location on a bay between Muna Island and Buton Island. As a part of the Buton Sultanate, Bau-Bau grew and developed as a coastal city and an important port in Nusantara. 

Methodologically, the journal will use Kabanti Bula Malino sources written by the Sultan of Buton Muhammad Idrus Qaimuddin (1824-1851) as a community's collective memory. The local shipping and trade and Dutch colonial proved the shipping and trade routes that marketed the spices (Spice Routes) from and to Bau-Bau, Buton. 

Based on the historical research of the Kabanti Bula Malino script, the spirit of the Bau-Bau formation was found. The verse shaped the spirit of life and the life of the Butonese to live and settle in Bau-Bau. Bau-Bau settlement as the destination of traders from outside with the Butonese. The word Bau (Bugis trader) and Wale (temporary residence) marked the toponymy of the origin of Bau-Bau. The arrival of Bugis people in the coastal city of Bau-Bau explained the city as the port of the trade cross route in Nusantara. The use of spices as a medicine and food seasoning became a significant mark of Bau-Bau as one of the trade routes in Nusantara. 

Keywords: spice, bula malino, Bau-Bau

_________

*Dosen Universitas Tadulako

Editor: Moh. Atqa dan Doni Ahmadi

Sumber gambar: Anwar sadad/Shutterstock

Download PDF

Konten ini dibuat oleh kontributor website Jalur Rempah.
Laman Kontributor merupakan platform dari website Jalur Rempah yang digagas khusus untuk masyarakat luas untuk mengirimkan konten (berupa tulisan, foto, dan video) dan membagikan pengalamannya tentang Jalur Rempah. Setiap konten dari kontributor adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.

Bagikan:

Publikasi Populer

Publikasi Terbaru

Publikasi Terkait

Berbagai upaya dilakukan untuk melestarikan jalur rempah, salah satunya dengan melakukan berbagai kegiatan.