Artikel

Benteng Somba Opu Makassar: Enterpot di Nusantara Bagian Timur

admin | 25 November 2020

Benteng Somba Opu Makassar adalah benteng kerajaan yang dibangun oleh Sultan Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumapa’risi Kallonna, pada tahun 1525. Pembangunan benteng ini tidak selesai dalam satu periode kekuasaan sehingga pembangunan kemudian dilanjutkan oleh Raja Gowa ke-12, Karaeng Tunijallo dan Sultan Alauddin. Benteng ini kemudian disempurnakan dan dijadikan benteng induk, pusat perniagaan tempat berlabuhnya kapal, serta pusat pemerintahan Kerajaan Gowa oleh Sultan Hasanuddin.

Benteng ini menjadi pusat perdagangan dan pelabuhan rempah-rempah yang ramai dikunjungi pedagang asing dari Asia dan Eropa pada pertengahan abad 16. Setelah Daeng Matanre Karaeng To Mapa’risi Kallonna pada tahun 1510 secara resmi memindahkan pusat kerajaan ke Somba Opu, yang terletak pada delta Sungai Jeneberang, benteng ini menjadi ibu kota pusat Kerajaan Gowa, yang sudah menyatu dengan Kerajaan Tallo. 

Benteng Somba Opu Makassar berkembang menjadi pusat pemukiman bahkan menjadi pusat kota. Penduduk yang tinggal di sekitar benteng tidak hanya merupakan warga Gowa saja, tetapi juga para pedagang dari segala penjuru dunia, seperti Denmark, Inggris, Portugis, hingga Gujarat. Pedagang-pedagang tersebut memiliki kantor sendiri bagi kegiatan dagang, mereka juga mendirikan loji. Kantor-kantor tersebut berlokasi di dekat benteng dan memiliki beberapa tempat yang berfungsi sebagai pasar dan pusat keramaian yang berlokasi di muara Sungai Je’neberang di mana kapal-kapal biasa berlabuh.

Sejak masa pra-kolonial, Pelabuhan Makassar (Somba Opu) sudah dikenal sebagai pintu menuju kawasan timur Indonesia. Kota yang terletak di selatan Pulau Sulawesi ini memiliki sejarah yang panjang sebagai bandar niaga yang masyhur. 

Meskipun begitu, hingga akhir abad 15, Makassar belumlah menjadi sebuah pusat perdagangan di wilayah Nusantara. Perubahan besar baru terjadi pada abad 16, waktu di mana terjadi perpindahan pedagang muslim dari Malaka yang direbut oleh Portugis pada tahun 1511. Padagang Malaka ini pindah menuju ke Makassar. Menetapnya para pedagang muslim di Makassar merupakan fondasi bagi terbentuknya sebuah pelabuhan entrepôt baru di Nusantara bagian timur. Di mana seorang pedagang Malaka diminta khusus untuk mengelola syahbandar. 

Kemajuan yang dicapai Makassar dengan sistem perdagangan ‘bebas’ menjadi ancaman VOC yang sedang gencar menegakkan sistem monopoli perdagangan rempah-rempah di Nusantara. Para pedagang Makassar mampu menembus monopoli Belanda yang telah diterapkan di Maluku. 

Butuh waktu puluhan tahun bagi Belanda untuk akhirnya berhasil menduduki Makassar. VOC baru berhasil menguasai Makassar dan perairan di sekitarnya pada tahun 1660-an dengan bantuan Kerajaan Bone. VOC yang dibantu oleh Bone berhasil menghancurkan pusat kekuasaan Gowa. Peperangan berakhir dengan Perjanjian Bongaya antara Sultan Hasanuddin dengan VOC, yang berakhir pada penghancuran seluruh benteng termasuk Benteng Somba Opu.

 

_________

Sumber:

Benteng Somba Opu – Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan. Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Selatan. (2020). Diakses pada 25 Oktober 2020 dari https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsulsel/benteng-somba-opu/.

Muhaeminah, Muhaeminah. (2016). Eksistensi Bata Kuno di Museum Benteng Somba Opu Memberi Suatu Makna. Al-Qalam. 20. 309. 10.31969/alq.v20i2.189.

_________

Naskah: Syahidah Sumayyah

Editor: Doni Ahmadi

Bagikan:

Konten Populer

Arka Kinari di Kepulauan Selayar, Titik Ketiga Program Jalur Rempah

1 Oktober 2020

Pulau Makian: Produsen Cengkeh Terbesar di Kepulauan Rempah

19 Oktober 2020

Pelajaran Toleransi dari Batik Tiga Negeri

28 Februari 2022

Konten Terbaru

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

26 Januari 2023

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

19 Januari 2023

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

12 Januari 2023

Konten Terkait

...

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

merry kurnia

12 Januari 2023

...

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

Achmad Khalik Ali

19 Januari 2023

...

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

Royas Aulia Subagja

26 Januari 2023