Artikel

Pengaruh Perdagangan Rempah dan Akulturasi Budaya dalam Rasa Rendang

merry kurnia | 3 Januari 2023

Dalam setiap gigitan rendang yang menggoyang lidah para penikmatnya, tersimpan narasi panjang perjalanan rempah. Rendang lahir dari perpaduan berbagai cita rasa makanan dari berbagai negara niaga belahan dunia yang terpisah oleh samudra. Para pedagang lintas bangsa datang dan berlabuh di pesisir pantai Nusantara mencari rempah yang nilainya setara dengan emas. Pesisir pantai Sumatra Barat menjadi salah satu titik perdagangan yang riuh oleh aktivitas niaga, orang-orang pesisir, pencari rempah, serta orang-orang pedalaman. Kamper, lada, emas, pala, dan gambir menjadi komoditas surgawi yang dicari.

Perniagaan yang melibatkan banyak suku bangsa tersebut melahirkan banyak hal, termasuk kuliner Nusantara di mana rendang menjadi salah satunya. Rendang diramu dengan berbagai rempah serta santan kental, kemudian dimasak dalam kuali hingga menghitam. Aromanya mengait-ngait hidung, kelezatannya membuat liur menetes. Teknik memasak dan cita rasa rendang menjadi kebanggaan orang Minang. Rendang diwariskan dari generasi ke generasi. Hingga kini, cita rasa rendang telah diadaptasi ke berbagai macam masakan, seperti mi rasa rendang, burger rasa rendang, keripik rasa rendang, dan lain-lain. Campuran bumbu yang terdapat di dalam rendang menghasilkan cita rasa yang khas dan nikmat, seperti halnya pluralisme di Indonesia yang menghasilkan keunikan dan persatuan. 

Makanan ini juga mengharumkan nama bangsa Indonesia setelah dinobatkan sebagai makanan terenak di dunia pada tahun 2011. Rendang menjadi hidangan peringkat pertama dalam daftar World’s 50 Most Delicious Foods (50 hidangan terlezat dunia) yang digelar oleh CNN International. Dua tahun kemudian pada 2013, rendang dinobatkan sebagai salah satu makanan yang masuk kategori Warisan Budaya Takbenda (WBTb).

Bicara rendang, akan menarik kita jauh pada ratusan tahun silam, memecahkan teka-teki dalam setiap suap kenikmatannya dan menghubungkan kepingan sejarah yang terpisah. Ratusan tahun lalu ketika Indonesia masih bernama Nusantara dengan bermacam kerajaan, orang-orang dari berbagai belahan dunia sudah berniaga ke sini, melintasi samudra, membelah ombak untuk mencari rempah-rempah. Sejak masa kuno, rempah sudah memiliki prestise yang tinggi. Di Romawi, rempah identik dengan kekayaan dan kekuasaan. Orang-orang Romawi gemar menghidangkan makanan lezat dengan bumbu rempah-rempah. Bahkan pada masa kejayaannya, lada mempunyai harga yang sama dengan emas.         

Sebagai wilayah maritim, kontak dagang pertama terjadi di pesisir pantai dan sangat masif. Pada abad XVII-XVIII Masehi, pantai barat Sumatra menjadi jalur yang ramai dikunjungi peniaga India dan Timur Tengah. Mereka membawa barang dagangannya yang kemudian ditukar dengan emas, lada, kapur barus, kemenyan, cengkeh, pala, dan hasil bumi lainnya. Komoditas ini menarik para musafir laut untuk datang karena wanginya yang semerbak tercium ke seluruh benua.

Interaksi dengan pedagang India dan Timur Tengah menjadi gerbang islamisasi di wilayah pesisir. Bukan hanya itu, perkawinan antara pedagang dengan penduduk juga melahirkan masyarakat yang multietnik, sesuai dengan pembahasan di atas, percampuran tersebut juga mengawinkan bermacam hal, termasuk kuliner rendang. Rendang sebenarnya bukanlah sebuah nama masakan, melainkan sebuah teknik memasak lauk berbahan dasar santan hingga kandungan airnya kering dan menghitam dengan bermacam rempah.  

Terkait rempah, Gusti Asnan pernah mengemukakan bahwa kelahiran rendang tidak luput dari pengaruh bumbu-bumbu dari India yang didapatkan dari pedagang Gujarat, India, yang mula singgah ke Sumatra pada abad XIII-XIV. Seorang pakar kuliner Nusantara, William Wongso menyebutkan tentang pemakaian santan yang berasal dari India Selatan sebab India Utara tidak memakai santan sebagai bahan pengental, tetapi mereka memakai yoghurt. India Selatan yang menjadikan santan sebagai pengentalnya semakin menguatkan pendapat bahwa kuliner Sumatra dipengaruhi India Selatan (Nani Darmayanti, 2017: 124). Bukan hanya pengaruh India, rendang sebenarnya juga erat dengan tradisi pengawetan makanan ala Portugis. Dalam hal ini, rendang memainkan peranan sebagai teknik memasak dengan cara mengawetkan makanan. (Rahman, 2020: 9). Rendang yang menjadi salah satu makanan favorit masyarakat, menyimpan cerita tentang identitas bangsa, bukan hanya rasanya yang nikmat, tetapi narasi di dalamnya juga hebat.

 

_________

Sumber Referensi

https://voi.id/lifestyle/177769/5-alasan-rendang-padang-sebagai-makanan-terenak-di-dunia#:~:text=4.%20Diakui%20sebagai%20warisan%20budaya,Delicious%20Food%20versi%20CNN%20International 

Rahman, Fadly, 2020. “Tracing The Origin of Rendang and Its Development”, Journal of Ethnic Food 7 (28): 1-21

Darmayanti, Nani, Hanifah, Hana, Afrizan, Robi Saputra, Ramadanthy, dan Gina Siti, 2017. “Relevansi Masakan Rendang dengan Filosofi Merantau Orang Minang”, Jurnal Meta Humaniora 7 (1): 119-127.

_________

Ditulis oleh Merry Kurnia (merrykurnia86@gmail.com)

Editor: Wardani Pradnya Dewi & Tiya S.

Sumber gambar: Ellinnur/Envato.com

Konten ini dibuat oleh kontributor website Jalur Rempah.
Laman Kontributor merupakan platform dari website Jalur Rempah yang digagas khusus untuk masyarakat luas untuk mengirimkan konten (berupa tulisan, foto, dan video) dan membagikan pengalamannya tentang Jalur Rempah. Setiap konten dari kontributor adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.

Bagikan:

Konten Populer

Jalur Rempah dan Komik Medan

10 Februari 2022

Gong Nekara Selayar, Jejak Jalur Rempah di Masa Lampau

11 Oktober 2020

Jalur Perdagangan Maritim Nusantara: Cerita dari Masa Lalu, Sebuah Upaya Bagi Masa Kini

21 Februari 2022

Konten Terbaru

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

26 Januari 2023

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

19 Januari 2023

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

12 Januari 2023

Konten Terkait

...

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

merry kurnia

12 Januari 2023

...

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

Achmad Khalik Ali

19 Januari 2023

...

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

Royas Aulia Subagja

26 Januari 2023