Artikel

Online Marketplace Masa Lalu: Kisah Bandar di Sunda Kelapa dan Banten

admin | 7 Januari 2021

Seperti lokapasar daring (online marketplace), bandar menghubungkan pembeli dan penjual agar bisa bertransaksi. Bandar juga memungkinkan perjumpaan kebudayaan sebagaimana media sosial saat ini. Bandar Sunda Kelapa dan Banten adalah lokapasar dan media sosial masa lalu. 

Bandar Sunda Kelapa dan Banten merupakan dua bandar terbesar yang pernah ada di belahan Barat Nusantara. Pernah mengalami tiga masa, dua bandar ini tetap eksis melayani pelbagai kebutuhan pelayaran dan perdagangan.

Posisi Sunda Kelapa dan Banten sangat strategis sebab menjadi simpul-simpul dalam pesatnya lalu-lintas di Jalur Rempah. Selain itu, Kerajaan Sunda memiliki empat buah bandar lain di samping dua bandar yang tersebut di atas, yakni Pontang, Cigede, Tamgara, dan Cimanuk. Via bandar-bandar tersebut, berbagai sumber daya yang dihasilkan di kawasan pendalaman, dialirkan ke penjuru dunia. 

Sebagai kota niaga, bandar-bandar ini bertindak sebagai lokapasar. Banten cukup percaya diri dengan beras dan lada yang dijualnya. Pasar mereka tercatat sampai ke wilayah Sumatera dan kepulauan Maladewa. 

Sementara itu, di Sunda Kelapa disalurkan pula aneka komoditi selain bahan makanan dan lada. Hubungan dagang yang terjadi di Sunda Kelapa agaknya lebih luas daripada yang terjadi di bandar-bandar lainnya, antara lain perdagangan hingga mencapai Palembang, Lawe, Tanjung Pura, Malaka, Makassar, Jawa, dan Madura, sedangkan para saudagar berdatangan dari Malaka, India, Cina, Arab, dan Portugis.

Tidak sedikit para pedagang lokal dari seluruh kerajaan berdatangan ke bandar ini. Dapat dikatakan, Sunda Kelapa telah dikembangkan sebagai sebuah kota pelabuhan yang ramai, tertib, dan teratur. Bahkan, tercatat pula tentang adanya pengadilan lengkap dengan hakim serta panitera yang bertugas mengadili pelanggaran yang dilakukan penduduk kota.

Pedagang-pedagang Islam yang semula berdatangan ke Malaka, segan untuk berhubungan dengan pedagang Portugis yang beragama Kristen. Demikian pula orang Portugis lebih suka dengan pedagang yang beragama Hindu. Akibatnya, tidak sedikit pedagang Islam yang mengalihkan jalur dagangnya dari Selat Malaka ke arah selat Sunda melalui Jawa Barat (Burger 1962:44-5).

Secara makro, dalam jaringan perdagangan Internasional, Sunda Kelapa dapat pula dianggap sebagai industri hulu bagi distribusi lada ke mancanegara saat itu. Sedangkan secara mikro, keaktifan perdagangan yang terjadi di bandar ini mencerminkan pula peranannya sebagai industri hilir yang menyalurkan hasil produksi kawasan pedalaman.

Berdasarkan keterangan-keterangan yang terhimpun mengenai Sunda Kelapa dan Banten dapat diketengahkan bahwa pada mulanya, yaitu sekitar abad ke-9 sampai ke-15, kedua tempat ini termasuk dalam wilayah kekuasaan kerajaan Sunda yang beragama Hindu. Peranannya sangat besar dalam menunjang perekonomian kerajaan karena merupakan pusat perdagangan yang bersifat lokal, interlokal maupun internasional. Namun, di masa ini kedudukan Banten hanya merupakan bandar kedua terbesar setelah Sunda Kelapa (Chijs 1881:4).

Memasuki masa Islam, terutama semenjak Banten Girang berhasil dikalahkan oleh penguasa Muslim, terjadi peralihan kekuasaan terhadap kedua tempat tersebut. Kedudukan Sunda Kelapa sebagai bandar menjadi pudar, bahkan akhirnya, hanya menjadi bagian dari Kesultanan Banten.

Terjadinya perpindahan pusat pemerintahan dari Banten Girang ke tepi pantai menjadi alasan Banten menjadi lebih berkembang dari Sunda Kelapa. Bandar Banten di pesisir yang berfungsi sebagai pusat politik maupun ekonomi dikembangkan dengan pesat. Tidak sedikit para pedagang yang datang untuk mengadakan transaksi jual beli berbagai komoditi. Beberapa studi menyebutkan bahwa pedagang internasional ramai memadati lokapasar ini. Mereka adalah pedagang Arab, Abesinia, Belanda, Cina, Denmark, Gujarat, lnggris, Perancis, Persia, Turki (Leur 1955:3-8; Roelofsz 1962:235:253).

Dagh-Register tahun 1631-1634 menyebutkan banyak kapal-kapal yang akan berlabuh di Banten membawa persediaan air minum dari pelabuhan lain terutama dari Batavia (Colenbrander 1898:18). Selain itu, bahan makanan berupa buah-buahan dan sayur-mayur melimpah ruah, serta arak yang diperjualbelikan oleh pedagang Cina merupakan daya tarik bagi Jayakarta terutama bagi kapal-kapal yang akan berniaga ke wilayah Maluku, gudang rempah yang banyak dikunjungi para saudagar (Hanna 1988:3). 

Kisah dua pelabuhan ini tercatat pernah berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda, Banten, hingga Kolonial Belanda. Studi dari Heriyanti Ongkodharma membandingkan perkembangan dua pelabuhan ini dari masa ke masa. Di Masa Hindu, Sunda Kelapa punya kinerja lebih baik dibanding Pelabuhan Banten. Sementara di masa Islam, Banten mampu mengungguli Sunda Kelapa. Sementara di era kolonial, Belanda fokus pada pembangunan Sunda Kelapa.

Faktor keinginan politik (political will) yang kuat menjadi penentu dari kinerja pelabuhan-pelabuhan ini. Selain itu, semakin dekat pelabuhan dengan pusat kekuasaan saat itu, maka semakin memberikan keuntungan bagi perkembangan sebuah bandar. Sunda Kelapa dan Banten bukanlah pengecualian.

 

Sumber:


Burger. D.H. 1962. Sejarah Ekonomis Sosiologis Indonesia. (Jakarta: Penerbit Pradjnaparamita)

Chijs. J.A. van Der. 1881. “Oud Bantam”, Tijdschrift voor Indische Taal-,Land-en Volkenkunde Vol. 26, h. 1-62.

Colenbrander, H.T. 1898. Dagh-Register Gehouden int Casteel Batavia Anno 1631-1634. (s.-Gravenhage: Martinus Nijhoff)

Hanna. A. Willard. 1988. Hikayat Jakarta. (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia)

Leur, J.C. Van. 1955. Indonesian Trade and Society: Essays in Asian Social and Economic History. (Bandung: W. Van Hoeve Ltd.)

Roelofsz, M. 1962. Asian Trade and European Influence in the Indonesia Archipelago between 1500 and about 1630. (The Hague: Martinus Nijhoff).


Naskah: Endi Aulia Garadian

Editor: Tiya Septiawati

Bagikan:

Konten Populer

Mengenal Lontar Bali Kuno: Fungsi dan Penggunaan Rempah dalam Pembuatannya

1 Agustus 2021

Benteng Nieuw Victoria: Cikal Bakal Kota Ambon Hingga Pusat Pemerintahan VOC

27 November 2020

Butuh Resep Minuman Rempah saat Pandemi? Yuk Simak!

16 Juli 2021

Konten Terbaru

Gigi Balang: Jejak Budaya Melayu di Tanah Betawi

28 September 2022

Seminar Internasional Dunia Melayu dalam Jaringan Perdagangan Rempah Dunia: Jalur Rempah, Perannya dalam Dunia Kesehatan, dan Peluang di Masa Depan

21 September 2022

Gali Kejayaan Peradaban Melayu, Kemendikbudristek Gelar Seminar Internasional Dunia Melayu dalam Jaringan Perdagangan Rempah Dunia

15 September 2022

Konten Terkait

...

Gigi Balang: Jejak Budaya Melayu di Tanah Betawi

Mohammad Resyad G. M.

28 September 2022

...

Gali Kejayaan Peradaban Melayu, Kemendikbudristek Gelar Seminar Internasional Dunia Melayu dalam Jaringan Perdagangan Rempah Dunia

admin

15 September 2022

...

Seminar Internasional Dunia Melayu dalam Jaringan Perdagangan Rempah Dunia: Jalur Rempah, Perannya dalam Dunia Kesehatan, dan Peluang di Masa Depan

admin

21 September 2022