Artikel

Jejak Historis Pelabuhan Semarang dan Peran Penting dalam Lintasan Jalur Rempah

admin | 23 Juli 2021

Cukup sulit menceritakan bagaimana gambaran pelabuhan Semarang di era perdagangan berabad-abad silam. Hal ini karena hingar-bingar keramaian yang pernah terjadi di masa tersebut telah lama menghilang dan beberapa di antaranya tidak meninggalkan jejak apapun.

Salah satunya adalah pelabuhan Bergota, sebuah pelabuhan di Semarang yang disebut sebagai salah satu bandar sibuk pada masa Kerajaan Mataram Kuno atau Mataram Hindu. Kehidupan pelabuhan ini diperkirakan telah muncul sedari abad ke-9 dan hari ini, ia tak menyisakan apapun selain catatan dalam buku sejarah.

Dalam webinar “Romansa Kekayaan Rempah Jawa". Tavip Supriyanto, eks Pjs Wali Kota Semarang, menjelaskan bahwa pelabuhan Bergota pada masa lampau turut menjadi tempat menyalurkan bahan makanan guna keperluan pelayaran. Sayangnya, pengendapan yang terjadi membuat pelabuhan Bergota semakin dangkal sehingga garis pantai pun bergeser ke utara. Jejak kejayaan pelabuhan Bergota lantas hilang bersamaan dengan pengendapan tersebut. Ia membentuk sebuah daratan, bahkan pada masa kini, berganti menjadi tanah makam yang sangat luas.

Hal senada disampaikan oleh Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, sejarawan maritim dan pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, bahwa pada saat itu pelabuhan Bergota merupakan pelabuhan penting bagi Kerajaan Mataram Hindu, ia berfungsi sebagai meeting point antara masyarakat lokal di Jawa dengan pengaruh dari luar yang dibawa bangsa asing.

Pada era selanjutnya, perkembangan pelabuhan Semarang mulai kembali hidup pada awal abad ke-15. Posisinya diperkirakan berada di daerah Pasar Bulu yang memanjang masuk ke Simongan. Daerah pesisir Semarang tersebut ramai didatangi oleh pedagang asal Tiongkok.

Semarang juga diketahui menjadi salah satu titik singgah dari rangkaian perjalanan armada Cheng Ho, penjelajah asal Tiongkok, ketika mengunjungi beberapa kota di Pantai Utara Jawa. Legenda kedatangan yang monumental itu diabadikan dalam sebuah bangunan yang dikenal dengan nama Kelenteng Sam Poo Kong.

Hadirnya armada Cheng Ho menjadi cikal bakal berkembangnya pemukiman masyarakat muslim-tionghoa yang menetap di daerah Simongan. Mereka turut meramaikan kegiatan perdagangan di pelabuhan. Tidak hanya bertukar komoditas, para pedagang juga membawa kebudayaan yang berbaur dengan kebudayaan lokal sehingga proses asimilasi budaya pun menjadi hal yang tidak terelakkan. Hal tersebut menjadi data sejarah yang membuktikan bahwa corak Semarang yang multikultur bermuara dari munculnya perdagangan lintas bangsa di pelabuhan ini.

 

kelenteng sam poo kong, semarang, jalur rempah, jejak jalur rempah, spice routes, the trace of spice routes, central java

Kelenteng Sam Poo Kong, jejak pluralisme di Semarang.

 

Dari Jepara ke Era Keemasan Pelabuhan Semarang

Abad ke-16 menjadi salah satu era kegemilangan Semarang. Pada masa ini, pelabuhan Jepara yang semula berperan sebagai pelabuhan dagang Nusantara mulai digantikan fungsinya oleh bandar Semarang. Sebagaimana pelabuhan Bergota, pendangkalan pelabuhan Jepara tidak lagi memadai untuk menjadi tempat berlabuh bagi kapal besar. Bahkan pada periode berikutnya, Semarang menggantikan basis pertahanan VOC yang sebelumnya berada di Jepara.

Alasan menarik mengapa Semarang kemudian lebih ramai dari pelabuhan Jepara adalah karena letak geografis ideal dan didukung dataran subur yang mengelilinginya. Semarang selanjutnya menjadi pintu keluar-masuk berbagai komoditas hasil bumi dari wilayah pedalaman di Jawa Tengah. Pelabuhan Semarang pada masa ini begitu ramai oleh para saudagar lokal maupun asing, serta turut disinggahi kapal-kapal dari dalam dan luar Nusantara.

Bersama Malaka, Johor-Siak, Batavia, Cirebon dan Makassar, Semarang memainkan peran penting dalam pusaran niaga abad 15-16 di Nusantara. Sederet kota pelabuhan tersebut terhubung dalam jaringan perdagangan internasional hingga ke Tiongkok maupun Eropa.

Prof. Dr. Singgih dalam wawancaranya dengan redaksi Jalur Rempah (26/4) mengatakan, “Pelabuhan Semarang itu perkembangannya tidak bisa dilepaskan dari perkembangan pusat-pusat ekonomi dan politik di kepulauan Indonesia, kawasan Asia Tenggara dan bahkan juga lebih jauh di dalam konteks regional, di dalam hubungan Cina [Tingkok] dengan India.”

 

jalur rempah, pelabuhan semarang, jejak jalur rempah, spice routes, the trace of spice routes, semarang, central java

Semarang pada abad ke-19.

 

Komoditas Perdagangan

Meskipun Semarang dikenal sebagai salah satu titik rempah penting di Nusantara, ia tidak menghasilkan rempah, seperti Maluku. Andil Semarang dalam era pelayaran adalah menyuplai kebutuhan pokok sebagai perbekalan kapal-kapal untuk pelajaran jarak jauh dengan beras, buah-buahan, air tawar, dan kebutuhan lainnya. Pelabuhan Semarang juga diketahui sebagai lokasi pengangkutan komoditas, pertukaran barang, dan hingga budaya.

Selain itu, di samping bahan-bahan pangan, Semarang dan sekitarnya juga menjadi tempat pengumpulan beberapa kerajinan. Salah satunya adalah berbagai jenis kain, termasuk kain dari Jepara, yaitu kain troso dan berbagai jenis kain tenun.

Tidak hanya bahan-bahan tersebut, Prof. Singgih menambahkan komoditas lain yang ada di Semarang pada masa tersebut, “Setelah banyak imigran dari Tiongkok, Semarang juga merupakan salah satu pengekspor gula yang diproduksi dengan mesin modern,” ujarnya. Seorang Tionghoa terkenal yang lahir di Semarang, Oei Tiong Ham, mengakuisisi lima pabrik gula dan tercatat sebagai pengusaha gula terbesar di Hindia Belanda.

“Ada supply dan demand antara pelabuhan Semarang atau masyarakat Semarang dengan tempat-tempat lain di pusat-pusat perekonomian dunia. Demikian juga, Semarang mampu menghasilkan produk-produk yang bisa dimanfaatkan untuk perdagangan antarpulau maupun perdagangan global. Karena pada waktu itu, beras dan tenun menjadi salah satu alat tukar yang penting untuk memperoleh lada,” jelas Prof. Dr. Singgih.

Dari penjelasan di atas, semakin jelas peran Semarang sebagai tempat armada pembawa rempah dari Nusantara bagian timur untuk menukar rempah dengan beras atau komoditas lokal lainnya di sini. Hal yang tidak hanya melibatkan penduduk lokal, tetapi juga para pedagang Tiongkok dan India yang singgah di pelabuhan ini.

 

gereja bleduk, semarang, jalur rempah, jejak jalur rempah, spice routes, the trace of spice routes, central java

Gereja Blenduk, salah satu landmark Semarang.

 

Semarang pada Abad-17

Peningkatan aktivitas perdagangan di pelabuhan Semarang membawa perkembangan lebih lanjut pada tempat-tempat di sekitarnya. Terutama pasca terbentuknya Semarang sebagai wilayah pemerintahan serta adanya perjanjian antara Kerajaan Mataram dengan VOC. Sarana dan prasarana dibangun di sekitar pelabuhan untuk mendukung aktivitas perdagangan. Berbagai fasilitas masyarakat tersedia, mulai dari pemukiman, tempat ibadah, dan pertokoan.

Perdagangan rempah di Semarang juga turut menghadirkan berbagai akulturasi budaya antara pribumi dengan pendatang. Dari mulai memengaruhi aspek arsitektural (baik dari perencanaan hingga perancangan kota), kesenian, serta pola pikir masyarakat yang lebih modern dan mengikuti kebutuhan perkembangan zamannya.

Berkembangnya kawasan Kota Lama Semarang diketahui menjadi awal modernisasi Semarang. Dengan arsitektur yang khas, sejumlah bangunan peninggalan Belanda pun masih berdiri kokoh hingga kini. Masih di kawasan yang sama, salah satu gedung yang menjadi landmark Semarang, Gereja Blenduk, sampai saat ini masih digunakan sebagaimana fungsinya dan telah juga ditetapkan menjadi cagar budaya berperingkat nasional.

Aktivitas yang pernah terjadi pada masa silam juga meninggalkan banyak jejak di kawasan Pecinan. Berdirinya Kelenteng Tay Kak Sie, Kelenteng Sam Poo Kong, dan sejumlah kelenteng yang tersebar di Semarang, menjadi salah satu bukti warisan Jalur Rempah dalam keragaman budaya, hingga masyarakat majemuk di tempat ini, sekaligus memberi sekian banyak corak pada proses pertumbuhan Kota Semarang.

 

Sumber:


Wawancara Eksklusif bersama Rempah bersama Prof. Dr. Singgih Tri Sulistiyono, M.Hum., sejarawan maritim dan pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro.

Webinar “Romansa Kekayaan Rempah Jawa", diakses pada 15 Desember 2020

Sumber foto:

Koleksi Tropenmuseum


Naskah: Tiya S.

Editor: Doni Ahmadi

Bagikan:

Konten Populer

Pelabuhan Canggu Mojokerto Jawa Timur dan Peran Sungai Brantas Era Jalur Rempah pada Abad X-XIII

8 April 2022

Kepulauan Sunda Kecil, Titik Singgah Perbekalan Pedagang Timur & Barat

24 Oktober 2020

Kerja Sama Hitu dan Jepara dalam Politik dan Perdagangan di Jalur Rempah

15 November 2022

Konten Terbaru

Pesona Jalur Rempah: Arti Burung Rangkong dalam Catatan Tionghoa

6 Desember 2022

Kerja Sama Hitu dan Jepara dalam Politik dan Perdagangan di Jalur Rempah

15 November 2022

Satuan Bahar, Barter, dan Bukti Perdagangan Rempah yang Kosmopolit di Abad 16

8 November 2022

Konten Terkait

...

Pesona Jalur Rempah: Arti Burung Rangkong dalam Catatan Tionghoa

Adi Putra Surya Wardhana

6 Desember 2022

...

Kerja Sama Hitu dan Jepara dalam Politik dan Perdagangan di Jalur Rempah

Amos

15 November 2022

...

Satuan Bahar, Barter, dan Bukti Perdagangan Rempah yang Kosmopolit di Abad 16

Amos

8 November 2022