Artikel

Kepulauan Nusantara, Negeri Bahari dan Pusat Interaksi Bangsa-Bangsa

admin | 1 Desember 2020

Negeri Bahari, dikelilingi oleh lautan dan memiliki begitu banyak sungai yang tersebar di berbagai penjuru negeri, Kepulauan Nusantara atau Indonesia sering kali dikatakan sebagai Negeri Bahari. Namun, faktor apa saja yang menjadikan sebutan Negeri Bahari melekat pada Indonesia?

Membicarakan kebaharian Indonesia tentu tak bisa lepas dari konteks situasi lingkungan dan sejarah yang mengiringinya. Jika dilakukan kilas balik, Kepulauan Indonesia baru terbentuk mendekati saat ini, yakni pada 10.000 tahun yang lalu. Sebelumnya, lebih dari separuh wilayah Indonesia masih tertutup es. 

Hanya wilayah Wallace (wilayah di bagian tengah dari Tanah Sunda sampai Sahul) yang tak pernah memiliki daratan. Wilayah ini pulalah yang memiliki pengalaman lebih banyak berkaitan dengan kemaritiman, jika dibandingkan dengan wilayah lain. Pelayaran pun mulai terjadi setelah es mulai mencair, dan inilah jalan satu-satunya yang dapat ditempuh untuk sampai menuju Kepulauan Nusantara. 

Selain faktor yang berkenaan dengan perairan, letak Kepulauan Nusantara di wilayah ekuator yang menyebabkan adanya dua musim dan zona hutan hujan tropis dengan keanekaragaman hayati yang tinggi juga berpengaruh terhadap sebutan negeri bahari. Daerah Wallace menjadi salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati yang paling menyita perhatian, salah satunya dengan ditemukannya berbagai tanaman endemik di wilayah ini, seperti cengkeh dan pala. 

Namun, keanekaragaman hayati Indonesia tak hanya berasal dari tanaman endemik, seperti pala dan cengkeh. Banyak juga bibit-bibit tanaman dari wilayah lain yang tumbuh subur di Indonesia, misalnya lada yang berasal dari India. 

Satu lagi faktor penting, yaitu iklim. Adanya angin muson juga turut serta membentuk keanekaragaman hayati. Selain itu, angin muson juga membentuk budaya bahari, dengan banyak terjadinya pelayaran ke wilayah Indonesia yang menjadi pusat angin muson. 

Pada abad ke-15 hingga 17 muncul istilah dari orang-orang Timur Tengah yang disematkan pada wilayah Kepulauan Indonesia, yaitu Tanah di bawah Angin. Ungkapan ini muncul karena Indonesia merupakan tempat terjadinya perubahan angin. Kepada bangsa asing, raja-raja yang memerintah di kawasan Indonesia pun memperkenalkan diri mereka berasal dari ‘negeri di bawah angin’. 

Pusat Interaksi Bangsa-Bangsa

Indonesia berada pada wilayah yang menjadi pusat pelayaran dan interaksi segala bangsa. Abad ke-15 hingga 17 menjadi puncak dari interaksi ini. Namun, pelayaran ini telah terjadi jauh sebelumnya. Pada abad ke-1 misalnya, telah ditemukan peradaban yang berkaitan erat dengan rempah-rempah di Timur Tengah. Selain itu, telah terjadi juga interaksi penting antara India dengan Asia Tenggara dan juga Cina dengan Asia Tenggara. 

Interaksi yang berkenaan dengan wilayah Indonesia sendiri masih belum banyak terungkap. Sumber yang ditemukan di Indonesia cenderung lebih banyak mengarah kepada sumber lisan. Maka dari itu, peninggalan-peninggalan sejarah menjadi salah satu bukti penting untuk mengungkap hal ini. 

Di Sri Lanka, ditemukan sisa-sisa cengkeh dari abad ke-2 M. Seperti kita tahu, rempah cengkeh diketahui merupakan tanaman endemik yang berasal dari Kepulauan Maluku. Penemuan lain yang tak kalah menarik datang dari berbagai perairan Indonesia, di antaranya Cirebon, Bali, Selayar, Natuna, dsb. 

Penemuan-penemuan ini didapat dari bawah laut, di kapal yang karam pada masa lalu. Selain rempah seperti cangkang kemiri, ada juga penemuan barang-barang lain, seperti keramik berkualitas tinggi, alat penggerus lada, dan botol. Ketika rempah diperdagangkan kepada bangsa-bangsa asing, barang-barang seperti keramik ini masuk ke wilayah Indonesia. 

Hal ini menunjukkan bahwa Kepulauan Nusantara menyimpan daya tarik tersendiri bagi berbagai bangsa di dunia untuk berlayar dan berdagang sampai ke sini, yang pada akhirnya menuntun pada terjadinya interaksi antarbangsa. 

 

Sumber:


Webinar Narasi Kebaharian di Jalur Rempah, paparan dari Ph. D, Sonny C Wibisono


Naskah: Dhiani P.

Editor: Doni Ahmadi

Bagikan:

Konten Populer

Bukti Linguistik Muasal Pala dan Cengkih

29 September 2021

Pameran Kolaborasi Rempah Nusantara Resmi Dibuka pada Simposium Internasional UNUSIA 2021

31 Agustus 2021

Minyak Kemiri, Materi Dasar Pewarnaan Kain Tenun Gringsing

8 Agustus 2021

Konten Terbaru

Bukti Linguistik Muasal Pala dan Cengkih

29 September 2021

Pameran Kolaborasi Rempah Nusantara Resmi Dibuka pada Simposium Internasional UNUSIA 2021

31 Agustus 2021

Minyak Kemiri, Materi Dasar Pewarnaan Kain Tenun Gringsing

8 Agustus 2021

Konten Terkait

...

Bukti Linguistik Muasal Pala dan Cengkih

Gufran A. Ibrahim

29 September 2021

...

Pameran Kolaborasi Rempah Nusantara Resmi Dibuka pada Simposium Internasional UNUSIA 2021

admin

31 Agustus 2021

...

Minyak Kemiri, Materi Dasar Pewarnaan Kain Tenun Gringsing

admin

8 Agustus 2021