Artikel

Sambutan Kedatangan Arka Kinari di Fort Rotterdam Makassar

admin| 4 Oktober 2020

Setelah berlabuh di kawasan pantai Losari, Makassar, Sulawesi Selatan pada Senin (5/10), kru Kapal Arka Kinari bersama dengan Program Jalur Rempah melanjutkan perjalanan mereka menuju Fort Rotterdam. Kehadiran mereka disambut dengan dua tarian khas setempat, yakni Tari Angngaru dan Tari Pakanjara. 

Prosesi penyambutan kedatangan sembilan pelaut yang menyusuri titik jalur rempah nusantara ini dilanjutkan menuju Aula Fort Rotterdam Makassar. Sebelum melakukan napak tilas sejarah beberapa hari ke depan, terlebih dahulu Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Sulawesi Selatan, Denny Irawan Saardi, menjelaskan secara ringkas sejarah Makassar yang merupakan bandar perdagangan rempah terbesar di Indonesia Timur.

Acara pun dilanjutkan dengan membawa rombongan kru kapal Arka Kinari Makassar menuju Pameran Jalur Rempah yang diinisiasi oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sulawesi Selatan yang bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam Pameran yang dihelat di Gedung J Benteng / Fort Rotterdam Makassar ini, para pengunjung dapat melihat bukti-bukti sejarah Makassar sebagai bandar perdagangan rempah di masa lampau. Tak luput, para pengunjung pameran ini juga mendapat kesempatan untuk melihat rempah yang dahulu diperdagangkan di benteng ini dan juga mencicipi tiga kuliner khas Sulawesi Selatan yang dibuat dengan rempah, Di antaranya Bolu Rempah, Bubur Kacang Rempah dan Sarabba.

Pasca Pameran yang selesai pada pukul 15.00 WITA, acara penyambutan dilanjutkan pada malam hari dengan suguhan pentas seni dari seniman dan maestro seni Sulawesi Selatan. Lapangan di sisi barat Gedung P disulap menjadi panggung pertunjukan seni yang dimulai pada pukul 19.00 WITA.

Setidaknya ada tiga pertunjukan khas Sulawesi Selatan dalam pentas seni di Fort Rotterdam Makassar malam itu, adalah Kelong-kelong Tu Riolo, Pakkacaping, dan Sinrilik Kesok-Kesok dan ditutup dengan pertunjukan musik kru kapal Arka Kinari Makassar, Nova Ruth dan Grey Filestine. Sebelum menutup pertunjukan ini, Nova lebih dulu menceritakan secuil tentang perjalanannya menyusuri titik-titik jalur rempah nusantara ini, dan mengingatkan bahwa program jalur rempah ini adalah salah satu cara menyadari kekayaan dan mengeksploitasi bangsa kita tanpa perlu melakukan kerusakan di bumi.

Bagikan:

Artikel Populer

Raja Ampat Papua, Penghasil Rempah Pala di Luar Maluku

23 Oktober 2020

Banten: Entrep├┤t Perdagangan Rempah, Interaksi, & Peninggalan Sejarah

10 Januari 2021

Jejak Jalur Rempah dalam Sepotong Rendang Daging

10 Maret 2023

Artikel Terbaru

Telusuri Kekayaan Historis dan Budaya Kepulauan Selayar, Muhibah Budaya Jalur Rempah Kembali Digelar

24 November 2023

Ajak Nelayan Jaga Keberlangsungan Laut, Kemendikbudristek Gelar Lomba Perahu Layar Tradisional

24 September 2023

Antusias 140 Nelayan Adu Cepat dalam Lomba Perahu Layar Tradisional dan Upaya Regenerasi ke Anak Cucu

24 September 2023

Artikel Terkait

...

Jejak Jalur Rempah dalam Sepotong Rendang Daging

Muhammad Zukri Arsyad

10 Maret 2023

...

Eksploitasi Gambir Masa Kolonial di Minangkabau

Revi Handayani, M.Hum

14 Februari 2023

...

Pulau Aru dan Kei serta Jejak Jalur Rempah yang Mendunia

admin

17 Oktober 2020