Artikel

Pulau Aru dan Kei serta Jejak Jalur Rempah yang Mendunia

admin| 17 Oktober 2020

Kepulauan Aru dan Kei merupakan gugusan pulau yang hari ini termasuk bagian wilayah Maluku. Kedua pulau ini terkenal sejak lama karena terlibat dalam distribusi rempah dan turut serta membentuk rute niaga yang disebut sebagai Jalur Rempah. Jalur perdagangan Pulau Aru dan Kei ini juga menciptakan rute perniagaan tradisional ke Kepulauan Banda.

Para pedagang dari pulau Aru dan Kei yang berlokasi di sebelah timur dari Kepulauan Banda memilih rute menyusuri pesisir selatan Laut Banda. Untuk produksi bahan makanan terpenting yang dibawa oleh kedua pedagang dari pulau ini adalah sagu. Sagu yang mereka bawa ini akan ditukar dengan kain tenun kasar dan tekstil yang didapat orang Banda dari orang Jawa dan Melayu yang mereka dapat dari hasil perdagangan rempah-rempah. 

Sagu yang dibawa dari Kepulauan Kei dan Aru ini sangat penting bagi Kepulauan Banda, dan diketahui pada abad ke-15 sagu ini juga digunakan sebagai alat pembayaran utama. Selain sagu, pedagang pulau Aru dan Kei juga membawa emas dan produk mewah lainnya ke Banda, misalnya burung nuri dan cenderawasih yang dikeringkan. Dua produk ini pun menjadi alat tukar dengan tekstil yang diperoleh orang Banda dari hasil perdagangan rempah mereka dari pedagang Cina. Dari titik ini kita bisa melihat bahwa perniagaan rempah melaui jalur ini pun menghasilkan produk lintas budaya yang mengesankan.

Produk mewah berupa burung nuri dan cendrawasih yang didapat oleh orang Banda dari pulau Aru dan Kei terus berpindah, bahkan sampai ke tangan orang Turki dan Persia. Di tangan dua negara terakhir ini, barang mewah tersebut pada akhirnya mereka pergunakan sebagai jambul penutup kepala. Selain itu, pedagang Kei juga tercatat turut memperdagangkan perahu kepada pedagang Banda. Perahu buatan orang Kei diminati oleh penduduk Banda untuk melakukan pelayaran jarak pendek, yakni untuk rute pelayaran dari Kepulauan Kei menuju Kepulauan Banda untuk perniagaan bahan pokok. Perahu-perahu tersebut dipertukarkan dengan tekstil atau rempah-rempah. Hal ini sekaligus membentuk hubungan yang erat dalam perniagaan tradisional yang menghubungkan tiga kepulauan ini.

Koneksi mereka juga terjalin erat hingga masa awal kolonialisme, ketika terjadi penaklukan orang-orang Banda oleh VOC di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen. Saat itu, ribuan penduduk Banda melarikan diri ke Kepulauan Kei dan berbondong-bondong meninggalkan Banda pada 1621. Orang-orang Banda ini seluruhnya menetap di Pulau Kei Besar (Nuhu Yuut). 

Hal ini pun mendorong terciptanya koloni orang-orang Banda di dua desa Kepulauan Kei., yakni desa Banda Eli (Wanda Eli) di bagian barat dan Banda Elat (Wanda Elat) di timur laut Pulau Kei Besar. Dua tempat ini merupakan bukti dan jejak sejarah dari betapa berpengaruhnya Jalur Rempah terkait persebaran masyarakat Nusantara pada masa lampau yang dampaknya masih bisa kita rasakan hingga kini

 

Sumber:


Razif & M. Fauzi. 2017. Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Adat Abad X-XVI: Kepulauan Banda, Jambi dan Pantai Utara Jawa. Direktorat Sejarah.


Naskah & Editor:

Doni Ahmadi

Bagikan:

Artikel Populer

Molabot Tumpe: Berawal dari Takhta Kerajaan hingga Lalu Lintas Pelayaran

8 Maret 2022

Menara Syahbandar Sleko: Menara Pengawas Jalur Perdagangan di Semarang

21 Maret 2023

Revitalisasi Ekonomi Politik Jalur Rempah Maritim

7 Februari 2022

Artikel Terbaru

Telusuri Kekayaan Historis dan Budaya Kepulauan Selayar, Muhibah Budaya Jalur Rempah Kembali Digelar

24 November 2023

Ajak Nelayan Jaga Keberlangsungan Laut, Kemendikbudristek Gelar Lomba Perahu Layar Tradisional

24 September 2023

Antusias 140 Nelayan Adu Cepat dalam Lomba Perahu Layar Tradisional dan Upaya Regenerasi ke Anak Cucu

24 September 2023

Artikel Terkait

...

Revitalisasi Ekonomi Politik Jalur Rempah Maritim

admin

7 Februari 2022

...

Eksploitasi Gambir Masa Kolonial di Minangkabau

Revi Handayani, M.Hum

14 Februari 2023

...

Pelabuhan Malaka: Pengaruh Angin, Komoditas Perdagangan, dan Kebijakan Penguasa

Dian Purnomo

15 Desember 2022