Artikel

Satuan Bahar, Barter, dan Bukti Perdagangan Rempah yang Kosmopolit di Abad 16

Amos | 8 November 2022

Dunia modern hari ini mengutamakan kecepatan sehingga seluruh sistem ekonomi dan perdagangan dirancang sedemikian rupa agar cepat dan efektif. Penggunaan sistem bank virtual, ekonomi digital, hingga fenomena uang digital menandai sebuah era baru ekonomi dan perdagangan yang bertumpu pada kecepatan. Namun, sistem perdagangan hari ini sangatlah berbeda jauh dengan proses perdagangan di Nusantara pada lima abad lalu. Kita bisa melihat proses dan dinamika perdagangan Nusantara abad 16 melalui catatan Antonio Pigafetta.

Antonio Pigafetta adalah seorang ilmuwan yang ikut dalam penjelajahan samudra Ferdinand Magelhaens. Pigafetta mencatat perjalanan ini secara kronologis dan cukup akurat. Theodore J. Cachey Jr melihat catatan Pigafetta sebagai karya abad 16 yang akurat. Selain itu, banyak penulis juga terinspirasi oleh karya Pigafetta ini. Salah satunya adalah William Shakespeare yang mengutip salah satu bagian perjalanan Pigafetta dalam puisi-puisinya. Dalam karya drama yang berjudul “The Tempest”, Shakespeare sangat terpengaruh dengan penjelajahan Magelhaens yang tercatat oleh Pigafetta (Robles, 1985: 386-387). 

Tokoh bernama Caliban, Setebos, dan tokoh lainnya dalam drama “The Tempest” terinspirasi kisah-kisah penjelajahan abad 16, bahkan dalam beberapa bagian karyanya, Shakespeare terlihat samar-samar menggambarkan sebuah kawasan tropis yang subur seperti Taman Eden. Pada abad 16 memang penjelajahan itu menjadi salah satu batu loncatan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pencarian Eropa pada kawasan dunia yang asing bagi mereka. 

Tahun 1521, Pigafetta dan armada Magelhaens tiba di kawasan Maluku, mereka menyebut kawasan Maluku sebagai kepulauan rempah. Bahkan pada bagian awal catatan Pigafetta,  disebutkan bahwa tujuan mereka menyiapkan lima armada di Seville untuk menjelajahi samudra adalah untuk menemukan rempah-rempah di Maluku (Pigafetta, 2007: 3-4). Setelah melewati perjalanan yang panjang dengan segala rintangannya, pada tahun 1521 armada Portugis ini sampai di kepulauan Maluku. 

Seperti pada tujuan awal, mereka membeli dan membawa rempah-rempah dari Maluku ke negeri asal mereka di Eropa. Satu hal yang menarik, proses jual beli rempah yang terjadi antara armada Portugis dan masyarakat Maluku dilakukan dengan cara barter. Dalam catatan Pigafetta, dikisahkan armada Portugis menukarkan topi, kain berkualitas bagus, gelas, kapak, hingga perunggu untuk mendapatkan cengkeh. Menariknya, proses barter antara cengkeh dan barang-barang mewah dari Eropa diukur dengan satuan bahar. 

Satuan bahar bukan satuan ukur seperti kilogram, melainkan satuan ukur yang dikenalkan oleh para pedagang dari Arab, meski menurut glosarium yang disusun C. G Boxer, satuan bahar berasal dari Kalkuta, India (Boxer, 1967: 107). Satuan bahar ini sangat umum ditemukan di kawasan Asia tenggara, buktinya tercatat pada berbagai catatan kongsi dagang Eropa yang berdagang di asia Tenggara abad 16-17. Setiap kawasan di Asia Tenggara uniknya memiliki ukuran yang berbeda-beda pada satuan bahar. Portugis dalam catatan Pigafetta menghitung satuan bahar setara dengan empat ratus pon, dalam satuan kilogram sekitar seratus delapan puluh satu kilogram. 

Dalam catatan Pigafetta diceritakan bahwa pada bulan November 1521, armada Portugis sampai di Gilolo, sekarang Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara. Mereka disambut dan diterima dengan baik untuk berdagang oleh penguasa Jailolo, bahkan armada Portugis meninggalkan tiga orang pasukan armada untuk Jailolo, Pigafetta menulis tiga armada itu diberikan pada penguasa untuk “menjaga” Jailolo (Pigafetta, 2007: 145). Hubungan armada Portugis dengan penguasa dan rakyat Jailolo cukup baik seperti tercatat secara kronologis oleh Pigafetta. 

Oleh karena hubungan politik dan sosial yang cukup baik antara armada Portugis dengan Jailolo, maka proses perdagangan pun berjalan lancar. Pigafetta mencatat dengan detail dan rinci, terkait apa saja komoditas yang berhasil Portugis dapatkan dalam proses barter itu. Armada Portugis memberi lima belas kapak, seratus lima puluh pisau, lima puluh pasang ginting, empat puluh topi, sepuluh potong kain mewah dari Gujarat, masing-masing ditukarkan dengan satu bahar cengkeh (Pigafetta, 2007: 146-147). Selain sekadar barang-barang mewah, ada juga satu kuintal perunggu yang dihargai dengan satu bahar cengkeh. Barter antara Portugis dan Jailolo adalah salah satu titik tolak penting pada abad 16, di mana selama periode ini para pedagang Portugis mulai melakukan aktivitas dagang yang lebih masif. 

Proses dan dinamika perdagangan pada abad 16 sangat menarik karena membuktikan bahwa Nusantara adalah salah satu pusat perdagangan di Asia Tenggara yang kosmopolit dan maju. Hal ini sesuai dengan pernyataan Denys Lombard bahwa pada era perniagaan di Nusantara, kota-kota pelabuhan dan pusat-pusat komoditas telah menjadi kawasan yang sangat maju di kawasan Asia (Lombard, 1996: 171). Seluruh bangsa dari berbagai penjuru dunia berdagang dan bertukar budaya di kawasan Indonesia sehingga sudah terdapat sistem perdagangan, ekonomi, politik, dan sosial di Nusantara pada era itu yang kosmopolit. Nusantara menjadi kawasan dimana bangsa-bangsa lain dari berbagai kawasan berjumpa dan berinteraksi secara dinamis. 

 

_________

Referensi: 

Boxer, C. R. 1967. Francisco Vieira de Figueiredo: A Portuguese Merchant-Adventurer in South East Asia, 1624-1667. Amsterdam: Brill, 1967, halaman 107–10. 

E. Robles, Humberto. 1985. The First Voyage Around the World: From Pigafetta to Garcia Marquez. History of European Idea, Vol 6, No 4. Halaman 385-404. 

Pigafetta, Antonio. 2007. The First Voyage Around the World, 1519-1522: An Account of Magellan’s Expedition. Toronto: University of Toronto Press. 

Pigafetta, Antonio. 1887. The First Voyage Round the World by Magellan. London: Hakluyt Society. 

Lombard, Denys. 1996. Nusa Jawa Silang Budaya: Kajian Sejarah Terpadu (Jilid III). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

_________

Amos adalah seorang mahasiswa Ilmu Sejarah yang berkuliah di Universitas Negeri Yogyakarta. Sedang aktif mengurus Lingkar Studi Sejarah (LSS) Arungkala dan Lingkar Studi Filsafat - Teologi (LSFT) Dianoia. Ia sudah melakukan publikasi karya ilmiah dalam beberapa jurnal dan konferensi, salah satunya dalam Spice Route International Forum 2021 yang diadakan oleh Maranatha Christian University dengan ICOSMOS, CCDS, Fujian Normal University, dan Yayasan Negeri Rempah.

Ditulis oleh Amos (amoskampus@gmail.com), Laskar Rempah Jawa Barat.

Editor: Tiya S.

Sumber gambar: Ilustrasi ini merupakan ilustrasi asli dari buku Antonio Pigafetta yang buku aslinya terbit tahun 1525.

Konten ini dibuat oleh kontributor website Jalur Rempah.
Laman Kontributor merupakan platform dari website Jalur Rempah yang digagas khusus untuk masyarakat luas untuk mengirimkan konten (berupa tulisan, foto, dan video) dan membagikan pengalamannya tentang Jalur Rempah. Setiap konten dari kontributor adalah tanggung jawab kontributor sepenuhnya.

Bagikan:

Konten Populer

Rempah dalam Praktik Pengobatan Tradisional Sulawesi Selatan: Tuturan Dua Sanro di Pangkajene dan Kepulauan

27 Desember 2021

Laskar Rempah Pelajari Pelestarian Tenun dan Pentingnya Pohon Cendana

26 Juni 2022

Pelabuhan Canggu Mojokerto Jawa Timur dan Peran Sungai Brantas Era Jalur Rempah pada Abad X-XIII

8 April 2022

Konten Terbaru

Pesona Jalur Rempah: Arti Burung Rangkong dalam Catatan Tionghoa

6 Desember 2022

Kerja Sama Hitu dan Jepara dalam Politik dan Perdagangan di Jalur Rempah

15 November 2022

Satuan Bahar, Barter, dan Bukti Perdagangan Rempah yang Kosmopolit di Abad 16

8 November 2022

Konten Terkait

...

Satuan Bahar, Barter, dan Bukti Perdagangan Rempah yang Kosmopolit di Abad 16

Amos

8 November 2022

...

Kerja Sama Hitu dan Jepara dalam Politik dan Perdagangan di Jalur Rempah

Amos

15 November 2022

...

Pesona Jalur Rempah: Arti Burung Rangkong dalam Catatan Tionghoa

Adi Putra Surya Wardhana

6 Desember 2022