Artikel

Pulau Tidore, Penghasil Cengkeh & Perannya dalam Perdagangan Dunia

admin | 22 Oktober 2020

Dari lima pulau kecil yang terletak di sebelah barat Pulau Halmahera, Tidore merupakan salah satu tanah penghasil utama cengkeh, di antara Ternate, Moti, Makian, dan Bacan. Dibandingkan kembarannya, yakni Ternate, Tidore memiliki wilayah yang lebih luas, yaitu 1.550 km². Pulau Tidore didominasi oleh Kie Matubu, gunung berapi tua dengan ketinggian 1730 meter di atas permukaan laut. 

Seperti masyarakat di Kepulauan Banda, untuk kebutuhan sehari-hari, masyarakat Tidore sangat bergantung sepenuhnya pada bahan makanan yang diimpor dari kepulauan lain. Hal ini dikarenakan tenaga mereka telah terkonsentrasi dengan tanaman cengkeh. Mereka berasumsi bahwa bahan makanan lain bisa diperoleh apabila cengkeh berhasil dijual. 

Meskipun sejarah mencatat bahwa Tidore merupakan penghasil cengkeh dan memegang peranan penting dalam perdagangan rempah dunia, namun budi daya tanaman tersebut baru dimulai perempat pertama abad ke-16. Pada masa itu, meski sama sekali tidak memiliki pelabuhan yang digunakan sebagai tempat kapal-kapal berlabuh, namun Tidore berhasil menghasilkan sekitar 1400 bahar cengkeh setiap tahunnya. Penguasa Tidore kala itu, memindahkan ibu kotanya ke pesisir, tidak lama sebelum kedatangan penjelajah Portugis, dengan alasan jalur pesisir berkaitan dengan melesatnya pemasukan perdagangan.

Pada masa Sultan Al Mansur berkuasa, ibu kota Tidore berada di Mareku dan menjadi pusat kekuasaan. Masyarakat Tidore memandang kota ini memiliki harkat tersendiri sebagai sumber kegiatan sultan. Mareku juga dipandang sebagai pusat kesaktian para sultan. Produksi rempah-rempah dan kemajuan perdagangan, berikut berakar dengan kuatnya agama Islam, menjadikan Tidore dikenal sebagai pusat cengkeh di Maluku yang utama

Saking suburnya cengkeh yang tumbuh di Tidore, masyarakat dari Kepulauan Banda pun sering kali berlayar dan berlabuh di kota Mareku untuk mendapatkan cengkeh yang ditukarkan dengan kain Gujarat. Para pedagang Tidore juga membantu saudagar Banda dalam mendapatkan simpanan cengkeh. Tercatat, barang dagangan cengkeh menjadi simpanan orang Banda dalam pertukaran dengan saudagar Teluk Persia dan pesisir Arabia pada abad ke-14.

Namun, masa kejayaan Tidore sontak hilang ketika Sultan Al Mansur mulai bersekutu dengan orang-orang Spanyol dalam mendirikan pasar untuk kepentingan transaksi perniagaan. Tidore yang sebelumnya bernama Tadore pada tahun 1521, menjalin aliansi perdagangan eksklusif dengan Spanyol. Di tahun sebelumnya pula, Tidore telah menjadi musuh berbuyutan Ternate yang telah bersekutu dengan Portugis dan telah mereka izinkan mendirikan benteng di Ternate. 

Hingga saat ini, jejak Jalur Rempah di Tidore yang terjadi di masa lampau, juga masih bisa kita rasakan. Hal ini bisa kita lihat dari peninggalan-peninggalan sejarah, seperti Benteng Tahoela, Masjid Sultan Tidore, Benteng Tsjobbe, hingga Dermaga Sultan Tidore, yang ditetapkan sebagai cagar budaya. 

 

Sumber:


Razif & M. Fauzi. 2017. Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Adat Abad X-XVI: Kepulauan Banda, Jambi dan Pantai Utara Jawa. Direktorat Sejarah.


Naskah & Editor:

Tiya Septiawati

Bagikan:

Konten Populer

Gerak Sigap Pemerintah Aceh untuk Program Jalur Rempah

13 Desember 2020

Pulau Aru dan Kei serta Jejak Jalur Rempah yang Mendunia

17 Oktober 2020

Sejarah Makassar: Pengekspor Pakaian Hingga Pusat Perdagangan

13 Oktober 2020

Konten Terbaru

Malam Puncak Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia

30 Oktober 2021

Bukti Linguistik Muasal Pala dan Cengkih

29 September 2021

Pameran Kolaborasi Rempah Nusantara Resmi Dibuka pada Simposium Internasional UNUSIA 2021

31 Agustus 2021

Konten Terkait

...

Malam Puncak Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia

admin

30 Oktober 2021

...

Pameran Kolaborasi Rempah Nusantara Resmi Dibuka pada Simposium Internasional UNUSIA 2021

admin

31 Agustus 2021

...

Bukti Linguistik Muasal Pala dan Cengkih

Gufran A. Ibrahim

29 September 2021