Artikel

Rempah Nusantara: Atribut Sejarah dan Harapan Masa Depan

admin | 18 Maret 2022

“Maluku tidak memiliki rempah-rempah lain selain cengkih. Akan tetapi, dengan jumlah cengkih yang melimpah sebagaimana terlihat, Maluku dapat memenuhi kebutuhan cengkih untuk seluruh dunia. Demikian ungkapan Linschoten ketika menggambarkan Maluku sebagai produsen cengkih terbaik dunia, yang tertuang dalam Itinerario.

Kemasyhuran rempah Nusantara sudah banyak dicatat dalam manuskrip kuno sebagai salah satu bagian penting yang menyimpan memori kolektif dalam ikhtiar membangun peradaban dunia. Nusantara, sebutan Indonesia saat itu, dikenal seluruh dunia sebagai negeri penghasil rempah terulung. Berawal dari sana juga, Nusantara memiliki sejarah yang membanggakan sekaligus memilukan. Kejayaan Rempah Nusantara pada masa lampau setidaknya membuktikan bahwa Indonesia adalah bangsa yang kaya. Indonesia pernah menjadi juru kunci perdagangan maritim dunia dengan jalur rempah sebagai poros. Di lain sisi, kekayaan rempah yang dimiliki Nusantara banyak menggiurkan bangsa lain untuk terus mengkaji atau bahkan menguasainya. Nyatanya rempah menjadi rebutan berbagai negara di dunia yang pada akhirnya berujung pada laku kolonialisme, monopoli dagang, dan eksploitasi alam (rempah), khususnya bangsa Eropa. 

Hingga kini, Indonesia di usianya yang ke-76, harus merindu momen-momen indah itu. Rempah Nusantara yang langgeng dikenal seperti pohon cengkih (Syzygium aromaticum) merupakan tanaman asli (endemik) Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan. Sementara, pohon pala (Myristica fragrans) adalah tanaman endemik Pulau Banda. Beberapa komoditas penting lainnya, seperti kayu manis (Cinnamomum burmanii), lada (Piper nigrum), kemenyan (Styrax benzoin), kamper/kapur (Cinnamomum camphora dan Dryobalanops aromaticum) adalah tanaman endemik Sumatra. Kemiri, kapulaga, dan cendana (Santalum Album L.) banyak diproduksi di Nusantara bagian Timur. 

Rempah: Tilikan Kegunaan

Dalam konteks kebudayaan, rempah diyakini para sejarawan akan nilai yang dibawa (value) dan menjadi gaya hidup (life style). Hasil pengkajian arkeologis menunjukkan bahwa rempah telah dimanfaatkan sejak zaman Romawi atau Mesir Kuno. Dalam masa itu, rempah-rempah adalah simbol eksotisme, kekayaan, prestise, dan sarat dengan kesakralan.  Catatan kuno di Mesir, Tiongkok, Mesopotamia, India, Yunani, Romawi, serta Jazirah Arab, menunjukkan bahwa rempah-rempah mulanya hanya dipercaya sebagai panacea (obat penyembuh) daripada penyedap rasa makanan. Hal ini diungkap oleh filsuf Theophrastus (sekitar 372 ± 287 M) bahwa rempah-rempah seperti lada masih banyak digunakan tabib daripada juru masak. (Turner, 2011: 59). Selain Theophrastus, Hippocrates (460—377 SM) juga pernah  menulis tentang rempah dan herbal termasuk safron, kayu manis, merica, mint, dan marjoram. Hippocrates menegaskan bahwa rempah harus mendapat perhatian penuh. Secara medis, rempah diolah menjadi obat-obatan herbal untuk pengobatan. 

Rempah pun berkembang menurut kegunaannya menjadi penyedap rasa dan mengurangi bau tidak sedap dari makanan. Abad ke-15 dikatakan sebagai “abad rempah-rempah”. Apabila pada abad-abad sebelumnya rempah-rempah kerap disandingkan sebagai bahan medis, maka sejak abad ke-15 citranya bergeser sebagai penguat cita rasa hidangan di lingkungan kerajaan Eropa. Pada masa itu, mulai terbangun kesadaran membarui citra kelam makanan selama abad pertengahan yang tidak berselera. Seiring itu, buku-buku masak mulai bermunculan di Eropa (Freedman, 2008: 19—20).

Dari sini, bisa ditarik mafhum bahwa rempah adalah komoditas yang eksotis plus mewah yang memengaruhi kebudayaan masyarakat kuno. Mengingat pemanfaatannya yang dominan, tidak mengherankan jika rempah-rempah pernah dihargai setara dengan emas. 

Dari Eksplorasi hingga Hyper Eksploitasi 

Dalam upaya mengenalkan rempah Nusantara pada dunia, ribuan tahun silam, nenek moyang kita telah melakukan perdagangan rempah. Pada masa lampau, kerja sama perdagangan rempah terbentuk dengan baik antara kerajaan-kerajaan di Nusantara dan mancanegara melalui transportasi kemaritiman tradisional. Melalui pelayaran, nenek moyang kita menjelajahi dunia dan berhasil menjalin hubungan antarpulau, ‎suku, bangsa dengan membawa hasil alam khas, seperti cengkih‎, lada, kayu manis, pala, dan cendana untuk ‎kebutuhan ekonomi ataupun membangun persahabatan. Mereka berdagang ke ‎Tiongkok, India, Asia Selatan, Asia Barat, hingga Afrika Timur. Juga dari jalur rempah tersebut, banyak sejarawan berpretensi adanya asimilasi budaya yang terbentuk di setiap persinggahannya. Hingga pada akhirnya, jalur rempah inilah yang kemudian disebut sebagai penghubung ‎Nusantara dengan dunia melalui berbagai titik atau simpul peradaban. Berawal dari sini pula, negeri Nusantara yang khas dengan kemolekan rempah pun mengundang ketertarikan lebih lanjut dan perhatian para pedagang rempah ulung dunia kala itu.

Anthony D. Smith (1991: 14), misalkan, mengatakan bahwa rempah sebagai identitas keindonesiaan yang kerap merujuk pada kawasan bersejarah (an historic territory) serta mitos bersama, dan ingatan-ingatan historis (common myth and historical memories). Hingga abad ke-18, Nusantara merupakan kawasan bersejarah yang menyimpan banyak mitos terkait dengan jalur rempah. Jalur ini menjadikan Nusantara sebagai emporium global di mana bangsa-bangsa dari berbagai penjuru dunia yang semula hanya membayangkan mitos surga rempah-rempah, lantas melakukan aktivitas jelajah bahari untuk mencapai surga rempah itu berada. 

Eksplorasi bangsa Eropa menuju surga “rempah-rempah” mulai menemui titik terang dengan ditemukannya rute maritim menuju Timur dengan memutari Afrika. Bangsa Eropa mulai menginjakkan kakinya di Nusantara setelah pasukan Portugis di bawah komando Alfonso de Albuquerque menaklukkan Malaka pada 24 Agustus 1511. Setelah keberhasilan tersebut, Alfonso mempelajari lokasi keberadaan Kepulauan Maluku yang dikenal sebagai pulau cengkeh (Spice Islands). Portugis memperdagangkan rempah Nusantara: lada dari Sumatra sudah diperdagangkan ke Cina, dan terus memperdagangkan rempah ke seluruh penjuru dunia. Kurang lebih selama satu abad bangsa Portugis menduduki Nusantara dan melakukan monopoli rempah di Nusantara. Kegemilangan bangsa Portugis akhirnya memantik rasa penasaran bangsa Eropa lainnya sebagai pesaing. 

Belanda akhirnya menyusul Portugis dan berhasil merebut Nusantara. Nusantara di genggaman bangsa Belanda, rempah-rempah menjadi komoditas ulung dalam monopoli perdagangan internasional. Belanda juga membentuk sebuah kongsi dagang yang bertujuan untuk memonopoli perdagangan di Asia, yang biasa masyhur dengan nama “Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC)”. 

Ketika Belanda tiba, VOC mengusir para pesaingnya yang masih menetap di wilayah Nusantara. VOC turut mengatur iklim perekonomian dan produksi rempah dengan melarang masyarakat Maluku menjual hasil bumi, misal rempah, kepada pihak selain Belanda. VOC juga mengatur terkait jumlah tanaman rempah-rempah beserta lokasi lahan yang akan ditanami. VOC mempunyai hak ekstirpasi yang merupakan hak kekuasan untuk menebang atau memusnahkan tanaman rempah-rempah saat hasil produksinya melebihi ketentuan.

Tujuan dari penerapan hak ekstirpasi ini adalah untuk mencegah harga rempah-rempah merosot di pasaran. Di samping itu, VOC melakukan pemantauan ketat terhadap pelayaran Hongi agar tidak terjadi tindakan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Berbeda lagi dengan kebijakan oktroi yang secara total sangat merugikan perekonomian rakyat Indonesia.

Sebuah Rekomendasi

Setelah kemerdekaaan diraih oleh Indonesia, ada keironian yang tegang akan pengelolaan dan kebijakan jalur rempah. Pasca-kemerdekaan, pemerintah Belanda melakukan blokade ekonomi sehingga perdagangan nasional dan internasional terhenti, termasuk jalur perdagangan rempah yang berdampak krisis keuangan pada pemerintahan Republik Indonesia. Pada masa itu, lalu lintas perdagangan internasional rempah dan hasil bumi lainnya dari Nusantara ke mancanegara mengalami keterpurukan. Akibatnya, pemerintah Indonesia saat itu harus disibukkan untuk menata kembali perekonomian dalam negeri. Artinya, pergolakan rempah-rempah sebagai ujung tombak perekonomian Indonesia mengalami keredupan atau kesuraman. 

Selanjutnya, upaya merekonstruksi atau bahkan merevitalisasi jalur rempah sebagai poros perdagangan maritim dunia rasanya agak sulit. Tetapi hal ini, penulis amini bukanlah sekadar utopis belaka. Di sini penulis sepakat dengan Andi Arman Sulaiman, dkk. dalam bukunya Membangkitkan Kejayaan Rempah Nusantara bahwa untuk mengembalikan kejayaan rempah Nusantara bisa diwujudkan dengan mempertimbangkan berbagai dimensi lingkungan (baik domestik maupun global) yang memiliki andil besar dalam pengaruh komoditas rempah. 

Pertama, andal (reliable). Artinya, mampu menjamin ketersediaan berbagai produk yang dihasilkan, fleksibel, dan mampu mengatasi berbagai risiko produksi dan pasar akibat bencana alam, gangguan OPT, dan gangguan eksternal lain (termasuk perdagangan internasional). Kedua, inklusif (inclusive). Artinya, rempah harus memadai dan selalu stabil (pada produksi primer, tahap peningkatan nilai tambah, dan industri hilir dari rantai nilai komoditas). Ketiga, kompetitif (competitive). Rempah harus mampu mencapai tingkat produktivitas tinggi dan berkelanjutan dalam penggunaan tenaga kerja, SDA, energi, dan infrastruktur. Rempah harus menjamin ketersediaan berbagai kebutuhan lokal maupun global. Keempat, sensitif lingkungan (environmentally sensitive). Rempah diwajibkan menjaga, mengurai, dan merehabilitasi dampak lingkungan dalam produksi dan distribusi komoditas serta sedapat mungkin berkontribusi positif terhadap penyediaan jasa lingkungan. 

Namun, yang harus digaris bawahi di sini adalah tentang rebranding. Sejarah menunjukkan bahwa pada masa lalu produk rempah Nusantara telah memiliki merek tersendiri di pasar rempah global. Lebih-lebih, Indonesia memiliki gelar “Ibu Rempah” karena perannya sebagai produsen utama dari beberapa komoditas rempah. Apalagi, Maluku telah diakui sebagai daerah asal dari cengkeh dan lada yang saat ini telah berkembang di berbagai negara.

Hal lainnya yang juga perlu terus dikembangkan untuk membangun branding komoditas, yakni mencakup aspek yang luas. Pertama, dari sisi produksi perlu ditempuh upaya mewujudkan sistem produksi rempah yang memiliki empat karakteristik seperti dibahas di atas. Adalah kemustahilan sekaligus kenihilan jika ingin membangun branding rempah, tanpa disertai pengembangan sistem produksi yang sesuai dengan kaidah-kaidah yang standar. Kedua, branding perlu menjadi bagian dalam kegiatan promosi pemasaran dan perdagangan, baik pasar domestik maupun pasar global. Ketiga, komunikasi publik yang seluas-luasnya untuk menekankan bahwa Indonesia memiliki branding produk rempah spesifik yang diunggulkan. Dalam konteks ini, teknologi transportasi dan komunikasi yang canggih mesti dimanfaatkan dengan baik. Pemerintah perlu terus memberikan pelayanan yang kreatif dan menarik. Selain itu, pemerintah juga dapat memberi motivasi untuk mendorong kerja sama pengembangan rempah di wilayah existing dan potensial menjangkau pasar internasional, baik wilayah pasar tradisional maupun pengembangan pasar baru.

_______

Naskah ini merupakan karya pemenang pilihan dalam Lomba Penulisan Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia 2021 kategori Pelajar. Naskah telah melewati proses penyuntingan untuk kepentingan publikasi di laman ini.

_______

Penulis: Hidayatullah, siswa kelas akhir prodi Ilmu Sosial MA 1 Annuqayah.

Editor: Tiya S.

Sumber gambar: Manuskrip koleksi The Metropolitan Museum of Art, New York. Nomor akses: 57.51.21. dalam Pameran Jalur Rempah Nusantara.

Bagikan:

Konten Populer

Jalur Rempah, Jalur Budaya, dan Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022

30 Mei 2022

Saling Silang Bahasa di Nusa Ambon

3 Januari 2022

Sastra untuk Rempah dan Nusantara

17 Januari 2022

Konten Terbaru

Pesona Jalur Rempah: Arti Burung Rangkong dalam Catatan Tionghoa

6 Desember 2022

Kerja Sama Hitu dan Jepara dalam Politik dan Perdagangan di Jalur Rempah

15 November 2022

Satuan Bahar, Barter, dan Bukti Perdagangan Rempah yang Kosmopolit di Abad 16

8 November 2022

Konten Terkait

...

Satuan Bahar, Barter, dan Bukti Perdagangan Rempah yang Kosmopolit di Abad 16

Amos

8 November 2022

...

Pesona Jalur Rempah: Arti Burung Rangkong dalam Catatan Tionghoa

Adi Putra Surya Wardhana

6 Desember 2022

...

Kerja Sama Hitu dan Jepara dalam Politik dan Perdagangan di Jalur Rempah

Amos

15 November 2022