Artikel

Jalur Rempah, Jalur Budaya, dan Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022

admin | 30 Mei 2022

Analogi “bahtera” dalam frasa rumah tangga sudah lazim digunakan sejak dulu dan populer digunakan oleh masyarakat. “Bahtera” dalam KBBI berarti perahu, kapal. Tentu diksi yang satu ini tepat apabila ditujukan dalam konteks kebaharian, lautan, dan sebuah proses untuk menuju sebuah tempat dengan mengarungi lautan luas, melawan ombak, dan badai. Dalam frasa “bahtera rumah tangga”, keluarga layaknya perahu yang semua anggotanya bekerja sama untuk mencapai tujuan. Begitu pula dengan perahu, yang di dalamnya terdapat mesin, nakhoda, dan lain-lain untuk sampai ke destinasi. 

Melalui satu diksi di atas, kita bisa melihat lebih jauh tentang tradisi bahari nenek moyang Nusantara yang masih terbawa hingga kini. Di abad ke-8, perkapalan Nusantara mencapai puncak kejayaannya ketika orang Jawa berhasil membuat kapal terbesar dalam sejarah dunia. Orang Jawa menyebutnya “jung”, yang dalam bahasa Jawa kuno berarti perahu. Hadirnya kapal raksasa ini turut tercatat dalam laporan sejarah abad 16 yang ditulis oleh Gaspar Correia yang menceritakan tentang kapal raksasa dari Jawa yang tidak mempan ditembak meriam terbesar. Dari empat lapis papan kapal, hanya dua saja yang bisa ditembus. 

Pada masa itu pula, penjelajahan orang-orang Nusantara mencapai prestasi terbesarnya. Sebab, hampir semua komoditas rempah-rempah dari Asia ditemukan di Jawa. Selain itu, Junus Satrio Atmojo dalam webinar bertajuk “Teknologi dan Transportasi Jalur Rempah” menekankan bahwa kemampuan orang Portugis dalam membuat peta tidak bisa dilepaskan dari pengaruh pelaut Nusantara, khususnya orang Melayu dan Jawa. “Pada abad ke-16, peta sudah dibuat, dan yang membuat pertama kali adalah orang Portugis. Pertanyaannya, dari mana mereka bisa membuat peta? [peta] Jawa, Sumatra, Kalimantan[?] Ternyata dari orang-orang Melayu dan dari orang-orang Jawa. Orang-orang Jawa itu sudah sangat pandai membuat peta, dari situlah mereka belajar.“ 

Kejayaan peradaban maritim Nusantara juga tercermin dari Makassar yang membentuk syahbandar sebagai pusat perdagangan rempah dan berfokus pada maritim di era Raja Gowa ke-9. Hal ini lah yang menjadi titik pijak kebangkitan orang-orang Makassar dalam percaturan jalur perdagangan. Pada masa itu, karena diperlukan sistem pencatatan, diciptakan Aksara Lontara untuk kebutuhan mencatat aktivitas lalu lalang kapal dan perdagangan di bandar-bandar Makassar, serta dibentuknya suatu hukum laut dan undang-undang laut yang disebut Amanna Gappa. Peta dan hukum laut ini merupakan sumbangsih besar dari para pelayar Sulawesi Selatan, yakni orang Makassar, Bugis, dan Mandar untuk Jalur Rempah. Melalui peta ini, kita dapat melihat rute-rute pelayaran mereka, dari mulai titik, hingga tujuan. Hal yang bisa dipastikan sebagai rute perniagaan dan jejak Jalur Rempah pada masa itu.

Berbeda dengan tradisi bahari orang Makassar, masyarakat Buton memiliki tradisi maritim dan migrasi yang hingga kini menjadi kekuatan budaya. Menurut Tasrifin Tahara dalam Jurnal Nusantara Vol. 04 November 2016, terdapat tradisi penting migrasi orang-orang Buton ke Maluku dan dinilai menjadi kekuatan jiwa orang Buton sebagai pengarung samudra. Tradisi ini mengukuhkan bahwa orang Buton, seperti halnya orang Bajo, Bugis, Mandar, dan Madura, yang juga merupakan suku bangsa bahari Indonesia (Horridge, 1986). Mereka melakukan pelayaran dari satu pulau ke pulau lainnya dengan melintasi samudra dan mengenal lebih dekat dengan komunitas dan terjadinya interaksi budaya sekaligus ruang mencari nafkah hingga menetap. Maluku menjadi salah satu tujuan pelayaran orang Buton untuk membeli kopra, cengkeh, jambu mete, yang kemudian diangkut dan dijual di Jawa dan Singapura. 

A. B. Lapian juga menyatakan bahwa, “Pelaut Buton mampu menunjukkan eksistensinya. Aktivitas mereka sulit dikontrol, selain karena kepiawaian mereka membaca ruang samudra, juga karena kekuatan nilai budaya yang dianutnya. Bagi mereka, laut dan perahu merupakan representasi kehidupan, seperti halnya di darat, meminjam istilah dari Hamid (1994), bahwa perahu adalah sebuah desa kecil yang mengapung di laut.” Aktivitas pelayaran orang Buton semakin memperkuat jaringan mereka di berbagai wilayah Indonesia dan salah satu warisan tradisi bahari yang berlangsung cukup lama (Zuhdi, 2002).

Selain kecanggihan budaya maritimnya, Buton juga memiliki sistem pertahanan yang baik di wilayahnya. Kesultanan Buton telah membuat benteng yang terbuat dari batu karang dan disusun menurut besar pecahan batunya. Benteng Wolio merupakan simbol kejayaan kerajaan maritim masa silam. Posisi Buton yang strategis di jalur perdagangan rempah-rempah, sering kali menjadi incaran kerajaan sekitar. Oleh karena itu, Benteng Wolio pada masa itu dibangun sebagai benteng pertahanan, sekaligus pusat pemerintahan dan pusat kekuasaan kesultanan. Benteng Wolio menjadi benteng terbesar yang dibangun oleh Kesultanan Buton.

Jalur Rempah

Sejak berabad-abad silam, Indonesia sebagai negara kepulauan telah dikenal menguasai ekspedisi pelayaran dalam perdagangan. Berbagai kapal kargo dibuat untuk pelayaran komoditas rempah-rempah dari satu pelabuhan ke pelabuhan lainnya. Claudius Ptolemaeus, seorang astronom terkenal Yunani mengakui bahwa sebelum bangsa Eropa menguasai teknologi pelayaran, orang-orang Nusantara telah memiliki teknologi perkapalan yang canggih dari daerah Sumatra atau Jawa yang disebut juga kolandiaponta.

Pada abad ke-9 Masehi, raja dan penguasa di Jawa telah menyadari pentingnya perdagangan antarpulau. Perdagangan dengan bangsa Arab telah terjalin baik, di mana mereka sangat berminat terhadap kayu cendana dan rempah-rempah yang dihasilkan Indonesia bagian Timur, tepatnya dari daerah Nusa Tenggara. Pedagang-pedagang dari Jawa Timur pergi ke Indonesia bagian Timur untuk menukar beras dan produk lainnya dengan rempah-rempah kayu cendana. Mereka kemudian membawa barang-barang itu ke Sriwijaya dan menukarnya dengan barang-barang dari luar negeri, seperti emas, kain sutra, keramik dari Tiongkok, jubah dari India, dan dupa dari Arab.

Dari berbagai komoditas yang diperdagangkan dalam jalur perdagangan rempah, cengkeh menjadi salah satu rempah yang menarik diulas. Bagi bangsa Moor, cengkeh disebut dengan Calafur dan menjadi cikal-bakal sebutan komoditas ini dalam bahasa Latin, yakni cariofilum, sedangkan orang Spanyol menyebutnya gilope dan pedagang Portugis disebut dengan clou de girofle. Bagi orang Maluku sendiri, mereka menyebutnya dalam bahasa Melayu, yaitu cengkeh. Lalu, orang India menyebutnya lavanga. Dari variasi nama cengkeh tersebut, menjadi salah satu bukti yang menandakan bahwa komoditas endemik Maluku Utara memberikan pengaruh dalam keberagaman penggunaan bahasa, yang kemudian membentuk jalur dagang yang disebut dengan Jalur Rempah.

Di Kepulauan Banda, kontak dagang dengan pulau-pulau sekitar dibangun atas adanya kebutuhan komoditas sagu oleh orang-orang Banda, dan kebutuhan pala serta fuli oleh masyarakat Maluku, Kei, dan Aru. Banda sangat bergantung pada produksi makanan yang datang dari luar daerahnya karena mereka enggan mengurangi lahan perkebunan pala untuk diganti dengan lahan pertanian lain. Dari wilayah Bugis dan Buton, para pedagang membawa alat besi, seperti kapak, pisau, arit, dan mata tombak yang diproduksi di Sulawesi Tengah. Para pedagang Jawa menjual pakaian, bahan makanan (beras, garam, dan lada), perkakas, serta alat musik. Selain berdagang, mereka turut menyebarkan agama Islam ke Banda. Kemudian, temuan pecahan keramik dan koin masa Dinasti Sung (960–1279 M) di Labbatekka menunjukkan bahwa Banda sudah masuk dalam jaringan perdagangan Tiongkok sejak abad ke-10. Telah tercipta jalur perdagangan akibat rempah dan Banda menjadi tempat pertemuan berbagai suku dari penjuru Nusantara dan dunia.

Di abad pertengahan terjadi perkembangan perdagangan laut sejalan dengan peningkatan akses para pedagang ke berbagai tempat endemik rempah-rempah. Hal ini melahirkan berkembangnya pelabuhan yang awalnya kecil dan terbatas, menjadi besar, dan membentuk kota kosmopolitan dengan jaringan perdagangan yang membentang di sepanjang pesisir Asia Selatan, Teluk Benggala, Teluk Siam, dan Nusantara. Dengan menguatnya kehadiran kerajaan Islam menjelang akhir abad pertengahan, pertumbuhan kota dagang meningkat dengan signifikan, seperti Goa, Coromandel, Malaka, Aceh, Banten, hingga Makassar. Di abad ke-16 hingga 17, para saudagar singgah untuk membeli beras, khususnya di Banten dan Makassar. Mereka umumnya tinggal di perkampungan bersama para pelaut setempat, dan perlahan-lahan pemukiman tersebut membentuk kosmopolitan di kota-kota dan melahirkan keberagaman budaya.

Interaksi Budaya

Perdagangan rempah cengkeh di Maluku Utara, pala dan fuli di Banda, serta cendana di Nusa Tenggara dengan berbagai suku di Nusantara telah menciptakan jalur perdagangan rempah. Tak hanya masyarakat lokal, Jalur Rempah ini juga digunakan oleh orang Melayu, Arab, dan Tiongkok. Ketersambungan antarwilayah ini menciptakan berbagai interaksi budaya karena kebhinekaan tradisi dan kepercayaan di setiap wilayah.

Bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar/pergaulan (basantara) yang sangat penting bagi para pedagang untuk saling berkomunikasi. Para pedagang dan pelaut yang umumnya adalah laki-laki menjalin ikatan perkawinan dengan perempuan setempat sehingga membentuk keluarga-keluarga dari wilayah yang berbeda dan menghasilkan interaksi budaya.

Bentuk lain interaksi budaya yang terjadi adalah tradisi kebersihan, berpakaian, dan gaya hidup orang-orang tua di Banda yang sedikit terpengaruh orang Belanda dulu. Seiring waktu, sisa-sisa budaya Belanda ini berasimilasi dengan budaya Islam, Melayu, dan unsur-unsur budaya lokal lain sehingga membentuk budaya Banda seperti sekarang. Tradisi Buka Kampung, Tari Cakalele, Buka Puang, Belang Adat, dan banyak tradisi lain sedikit banyak merupakan produk interaksi budaya berbagai pendatang yang tinggal di Kepulauan Banda.

Pada upacara Pakande-kandea atau yang berarti makan-makan dalam bahasa Wolio, terdapat beberapa asimilasi budaya Islam dalam bentuk dakwah dan tradisi pantun dari Melayu. Pakande-kandea ini awalnya merupakan tradisi yang dilakukan untuk menyambut para pejuang Buton yang baru sampai dari medan perang. Sekarang, tradisi ini masih dilakukan untuk mempererat silaturahmi dan penyambutan tamu. Tradisi ini juga menunjukkan interaksi budaya masyarakat Buton dengan pendatang dari berbagai daerah.

Keberagaman budaya yang ada di penjuru Nusantara merupakan hasil interaksi budaya yang terjadi akibat adanya perdagangan rempah. Kebudayaan masyarakat asli dengan pendatang berakulturasi dan berasimilasi satu sama lain hingga menghasilkan tradisi-tradisi baru, yang hingga kini kita kenal sebagai kebudayaan Indonesia.

Jalur Rempah menjadi Warisan Budaya Dunia UNESCO dari Indonesia

Dalam webinar nasional “Jalur Rempah: Jalan Kebudayaan Menuju Sustainable Living”, Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan bahwa rempah endemik dan pengetahuan lokal merupakan potensi luar biasa sebagai upaya untuk menyasar global wellness economy yang meliputi wellness, kesehatan, pariwisata, kecantikan, hingga gaya hidup. 

Rempah pada awalnya diperdagangkan melalui jalur laut yang telah terjalin sejak ribuan tahun (milenium) dan berjaya jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Para pedagang dan pelaut di masa itu bergantung pada musim untuk menentukan arah angin. Mereka harus menunggu berbulan-bulan dan tidak sedikit dari mereka perlu mencari atau membangun tempat tinggal, termasuk pertemuan budaya melalui perkawinan. Pertemuan budaya ini menjadi semakin intens dan berulang, kemudian pertemuan terjadi antara individu-ke-individu (people-to-people). Pola tingkah laku, adat kebiasaan, bahasa, kepercayaan, mulai saling mengenal satu dengan yang lainnya yang terjadi selama puluhan hingga ratusan tahun. Pola interaksi ini kemudian membentuk hubungan antarkebudayaan. Jalur niaga ini kemudian berkembang dan berubah menjadi jalur budaya.

Berdasarkan hasil Laporan Riset Persepsi Masyarakat terhadap Jalur Rempah November 2020 yang diadakan oleh Kompas Data, sebanyak 15,8% masyarakat masih beranggapan bahwa rempah-rempah berkaitan dengan bumbu-bumbu, sedangkan menurut survei tersebut kata “Jalur Rempah” masih dikaitkan dengan perdagangan rempah (16,0%). Program Jalur Rempah yang diinisiasi oleh Kemendikbudristek bertujuan untuk mengangkat Jalur Rempah sebagai jalur kebudayaan yang merujuk kepada jalur-jalur budaya yang paling banyak dibicarakan dan paling luas wilayahnya. Lada di Aceh, Banten, dan Banjarmasin, pala “bulat” dan fuli di Banda, serta pala “lonjong” di Papua. Jalur Rempah mewakili hubungan antarbudaya yang terbentuk dari interaksi antardaerah yang mengikuti jalur perdagangan.

Dimulai pada tahun 2020, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi berkomitmen untuk melakukan kampanye Jalur Rempah sebagai ketersambungan jalur budaya dengan tujuan mendapat pengakuan UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Sebagai langkah awal, narasi Jalur Rempah direkonstruksi dengan menghubungkan warisan budaya (Cagar Budaya dan Warisan Budaya Takbenda) yang tersebar di semua provinsi. Berbagai kisah berkaitan dengan warisan budaya tersebut dijahit untuk membentuk narasi Jalur Rempah yang baru, membebaskan, dan mencerminkan para pemiliknya sebagai orang merdeka. Rekonstruksi narasi ini mengedepankan peran aktif para pelaut Nusantara dalam membentuk Jalur Rempah dan membutuhkan dukungan dari semua pihak untuk menjadikannya sebagai sebuah gerakan budaya. 

Untuk merekonstruksi narasi tersebut, tahun ini dilaksanakan Muhibah Budaya Jalur Rempah yang melibatkan 149 pemuda-pemudi terpilih dari 34 provinsi di Indonesia yang disebut Laskar Rempah, pemerintah daerah, komunitas lokal, dan budayawan. Di antara begitu banyak titik Jalur Rempah yang terbentang di Nusantara, tahun ini, beberapa titik yang telah dipilih sebagai lokus Muhibah Budaya Jalur Rempah adalah Surabaya, Makassar, Baubau dan Buton, Ternate dan Tidore, Banda Neira, serta Kupang. Keenam kota ini dipilih sebagai representasi kota endemik rempah, seperti cengkeh, pala, dan cendana. Selain itu, titik Surabaya dan Makassar meski bukan merupakan kota penghasil rempah, merupakan pusat perdagangan maritim dan menjadi penghubung antarpelabuhan. Juga Buton, yang menjadi wilayah dengan tradisi kebahariannya. 

Muhibah Budaya Jalur Rempah diharapkan dapat menjadi salah satu pemicu bagi Laskar Rempah untuk memperluas wawasan, kecintaan, serta rasa memiliki terhadap Jalur Rempah yang akan diajukan sebagai salah satu warisan dunia UNESCO. Dengan kesamaan wawasan yang dimiliki oleh seluruh Laskar Rempah, informasi yang nantinya disebarkan melalui berbagai kanal media sosial mereka pun akan selaras dan berkesinambungan. Program ini diharapkan dapat menjaring komunitas-komunitas yang ada di 34 provinsi di Indonesia melalui Laskar Rempah, untuk menginisiasi berbagai program aktivasi terkait Jalur Rempah di daerahnya masing-masing. Masyarakat Indonesia dapat terlibat langsung dari inisiasi komunitas-komunitas tersebut untuk mengembangkan ekonomi dan budaya berkelanjutan melalui presentasi dan promosi warisan Jalur Rempah.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim mengatakan bahwa Muhibah Budaya Jalur Rempah yang kini menjadi salah satu program unggulan Direktorat Jenderal Kebudayaan merupakan upaya untuk menegaskan kembali kedaulatan Indonesia yang terbangun oleh ragam budaya yang dipersatukan melalui kehangatan rempah-rempah.

Laskar Rempah telah berkomitmen untuk menjadi perantara yang hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia, terutama di daerahnya masing-masing untuk memperkaya pemahaman serta meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa rempah memiliki historis atau ketersambungan sejarah. Berasal dari daerah yang berbeda, terdiri dari bermacam suku dan agama, dengan beragam budaya yang dimiliki, Laskar Rempah datang ke enam titik Muhibah Budaya Jalur Rempah untuk merasakan secara langsung interaksi budaya yang pernah terjadi saat nenek moyang kita melakukan perdagangan rempah di masa lampau. Napak tilas yang dijalani oleh Laskar Rempah diharapkan dapat menjadi refleksi baik untuk semakin mencintai, menghargai, serta menyebarluaskan cerita tentang kekayaan Jalur Rempah yang dimiliki Indonesia.

Setiap Laskar Rempah yang terlibat dalam Muhibah Budaya Jalur Rempah dapat turut ambil bagian dan berperan aktif sesuai dengan porsinya masing-masing. Misalnya, Rangga Tsalisul Albab, Laskar Rempah Jawa Tengah, yang telah membuat produk minuman berbahan dasar rempah dan memasarkannya melalui media sosialnya. Lalu, ada Mohammad Resyad, Laskar Rempah DKI Jakarta, membuat lagu berjudul “Mata Hati Rempah” dengan mengangkat tema bahwa rempah itu anugerah. Apa yang dilakukan keduanya merupakan sebuah kontribusi yang sangat bermanfaat untuk memelihara budaya Jalur Rempah, sekaligus membuatnya semakin dikenal oleh masyarakat luas dan memajukannya di masa depan. 


_________

Referensi:

Ahmadi, Doni. 2020. Jalur Rempah Nusantara: Interaksi Budaya, Ekonomi, Politik, dan Agama. diakses melalui https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/artikel/jalur-rempah-nusantara-interaksi-budaya-ekonomi-politik-dan-agama pada tanggal 29 Mei 2022.

Ahmadi, Doni. 2020. Kepulauan Banda: Dari Rempah Pala dan Apa-apa yang Terjadi Setelahnya. diakses melalui https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/artikel/kepulauan-banda-dari-rempah-pala-dan-apa-apa-yang-terjadi-setelahnya pada tanggal 29 Mei 2022.

Ahmadi, Doni. 2020. Kota Makassar: Beras dan Bandar Rempah Terbesar Asia Tenggara. diakses melalui https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/artikel/kota-makassar-beras-bandar-rempah-terbesar-asia-tenggara pada tanggal 29 Mei 2022.

Ahmadi, Doni. 2020. Aksara Lontara dan hukum Amanna Gappa: Jejak Jalur Rempah Makassar. diakses melalui https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/artikel/aksara-lontara-hukum-amanna-gappa-jejak-jalur-rempah-makassar pada tanggal 29 Mei 2022.

Ahmadi, Doni. 2020. Pulau Makian: Produsen Cengkeh Terbesar di Kepulauan Rempah. diakses melalui https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/artikel/pulau-makian-produsen-cengkeh-terbesar-di-kepulauan-rempah pada tanggal 29 Mei 2022.

Arofah, Haji Arif. 2018. ​​Kasubag TU Kota Cirebon: Rumah Tangga Disebut Bahtera Ada Alasannya. Diakses melalui https://jabar.kemenag.go.id/portal/read/kasubag-tu-kota-cirebon-rumah-tangga-disebut-bahtera-ada-alasannya

Ahmadi, Doni. 2020. Dari Jalur Rempah: Peta, Navigasi, dan Peran Pelaut Nusantara untuk Pengetahuan Hari Ini. diakses melalui https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/artikel/dari-jalur-rempah-peta-navigasi-dan-peran-pelaut-nusantara-untuk-pengetahuan-hari-ini pada tanggal 29 Mei 2022.

Butonmagz.id. 2018. Bagi Orang Buton, Perahu adalah Desa Kecil yang Mengapung di Laut. Diakses melalui https://www.butonmagz.id/2018/12/bagi-orang-buton-perahu-adalah-desa.html?m=1 pada tanggal 29 Mei 2022.

Hamid, Abd. Rahman. 2021. Karaeng Pattingalloang: Tokoh Intelektual di Jalur Rempah Nusantara. diakses melalui https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/artikel/karaeng-pattingalloang-tokoh-intelektual-di-jalur-rempah-nusantara pada tanggal 29 Mei 2022.

Komite Jalur Rempah. 2020. Rancangan Besar Program Jalur Rempah 2020-2024.

Kompas Data. 2020. Draft Laporan Riset Persepsi Masyarakat terhadap Jalur Rempah November 2020.

Proboshiwi, Dhiani. 2020. Kepulauan Nusantara, Negeri Bahari dan Pusat Interaksi Bangsa-Bangsa. diakses melalui https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/artikel/kepulauan-nusantara-negeri-bahari-dan-pusat-interaksi-bangsa-bangsa pada tanggal 29 Mei 2022.

Maulia, Yussi. 2020. ​​Jung Jawa, Kapal Raksasa Penguasa Lautan Nusantara yang Telah Hilang. ​​https://nationalgeographic.grid.id/read/132482851/jung-jawa-kapal-raksasa-penguasa-lautan-nusantara-yang-telah-hilang?page=all diakses pada tanggal 28 Mei 2022.

Suhardi, dkk. 1999. Kepulauan Banda dan Masyarakatnya. Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Subdit Lingkungan Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Yerry, Wayan. 2021. Rempah, Cengkeh, dan Terbentuknya Kota Pelabuhan di Asia. diakses melalui https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/artikel/rempah-cengkeh-dan-terbentuknya-kota-pelabuhan-di-asia pada tanggal 29 Mei 2022.

_________

Penulis: Jessika Nadya, Putri A. Fitriah, Salsabila M. Andriana, dan Tiya S.

Bagikan:

Konten Populer

Luwu dan Luwuk Banggai, Pengekspor Besi Tersohor di Masa Lampau

16 Oktober 2020

Pulau Aru dan Kei serta Jejak Jalur Rempah yang Mendunia

17 Oktober 2020

Rempah sebagai Sumber Pengobatan Lokal: Fasal Obat dalam Pengetahuan Lokal Naskah Kuno “Ramalan tentang Gempa, Obat, Doa, Azimat”

12 Oktober 2022

Konten Terbaru

Pesona Jalur Rempah: Arti Burung Rangkong dalam Catatan Tionghoa

6 Desember 2022

Kerja Sama Hitu dan Jepara dalam Politik dan Perdagangan di Jalur Rempah

15 November 2022

Satuan Bahar, Barter, dan Bukti Perdagangan Rempah yang Kosmopolit di Abad 16

8 November 2022

Konten Terkait

...

Satuan Bahar, Barter, dan Bukti Perdagangan Rempah yang Kosmopolit di Abad 16

Amos

8 November 2022

...

Kerja Sama Hitu dan Jepara dalam Politik dan Perdagangan di Jalur Rempah

Amos

15 November 2022

...

Pesona Jalur Rempah: Arti Burung Rangkong dalam Catatan Tionghoa

Adi Putra Surya Wardhana

6 Desember 2022