Artikel

Kepulauan Sunda Kecil, Titik Singgah Perbekalan Pedagang Timur & Barat

admin| 24 Oktober 2020

Jejak perniagaan dan rute jalur rempah di Indonesia Timur tidak terhenti hanya sampai di Kepulauan Maluku. Geliat pertukaran serta perdagangan komoditas juga terjadi di Kepulauan Sunda Kecil yang disinggahi oleh para pedagang domestik maupun internasional. Terletak di jalur selatan, kepulauan ini merupakan gugusan pulau-pulau kecil yang membentang di selatan Khatulistiwa, termasuk di dalamnya, yaitu Pulau Bali, Lombok, Sumba, Solor, Alor, hingga Pulau Timor.

Kepulauan Sunda Kecil memiliki pelabuhan dengan banyak persediaan air dan tersuguh perbekalan makanan yang mumpuni. Inilah yang membuat banyak pedagang dari Timur dan Barat kerap mampir ke kepulauan ini. Pedagang-pedagang yang menggunakan pelayaran rute kuno selatan senantiasa singgah di sini, termasuk pedagang dari Kepulauan Banda. Kepulauan ini, menjadi pusat pelabuhan yang tak hanya populer di wilayah Timur Indonesia, namun juga di Nusantara.

Dalam jejaring perniagaan dan jalur rempah, para pedagang yang berkunjung ke Kepulauan Sunda Kecil, terlebih dahulu berlabuh di Pelabuhan Sumbawa untuk alih muatan. Juga, pelabuhan ini dijadikan sebagai tempat penyegaran bagi para pedagang Melayu dan Jawa sebelum meneruskan pelayaran mereka ke Kepulauan Maluku. Pedagang dari Kepulauan Sunda Kecil juga sering kali berlayar ke Kepulauan Banda dan Maluku untuk membeli barang-barang, seperti pakaian. Menurut mereka, pedagang Banda menyediakan pakaian-pakaian yang berkualitas baik, terutama dari Gujarat.

Di bagian lain dari Kepulauan Sunda Kecil, seperti Sumbawa dan Bima, tersedia kayu pewarna yang dikenal dengan julukan kayu brazil untuk pedagang Malaka. Juga, Pulau Solor—yang dikenal sebagai Flores—merupakan daerah penghasil sulfur yang sangat penting bagi pedagang asing. Produk tersebut kemudian diperdagangkan melalui Malaka hingga ke tempat-tempat yang jauh, seperti Cochin Cina. 

Komoditas lain yang juga sangat tersohor dari salah satu gugusan Kepulauan Sunda Kecil adalah kayu cendana dari Pulau Timor. Kawasan ini sejak abad ke-16 populer sebagai penyedia kayu cendana kualitas wahid. Bahkan sebelum itu, kemasyhuran kayu cendana ini juga telah diketahui oleh orang Cina. Awal abad ke-14, kapal-kapal pedagang Cina secara periodik pergi ke Pulau Timor untuk memuat barang berharga ini. 

Sementara itu, orang Jawa dan Melayu memasarkan kayu cendana kepada orang India. Di India, kayu cendana digunakan untuk salep dan parfum. Demikian juga di Eropa, kayu cendana dipergunakan untuk obat-obatan. Kayu cendana memiliki peran besar dalam upacara kremasi. Menurut pedagang Malaka, kayu ini hanya dapat ditemukan di tanah Timor. Bahkan, mereka memiliki peribahasa yang mengatakan, “Tuhan membuat Timor untuk cendana, Banda untuk buah pala, dan Maluku untuk cengkeh.” Demikian juga tertuang dalam catatan Tomé Pires, menirukan kelakar yang kerap diucapkan para pedagang Malaka. 

Produk-produk Kepulauan Sunda Kecil tersebut dapat diperoleh dengan cara ditukar dengan kain Gujarat yang murah, benda-benda yang terbuat dari besi, seperti pedang, kapak, pisau, paku, serta manik-manik berwarna, porselen, timah, merkuri, dan timah hitam. Walaupun penduduk Kepulauan Sunda Kecil mengunjungi pelabuhan-pelabuhan pesisir Jawa menggunakan kapal-kapal kecil, pedagang dari Kepulauan Sunda Kecil tidak memperluas perdagangannya ke pelabuhan Malaka.

Para pedagang Malaka harus mengambil sendiri produk-produk ini ke Kepulauan Sunda Kecil. Demikian pula dengan pedagang-pedagang Banda yang melakukan pelayaran ke sana, melalui pesisir Pulau Babar, Kisar, Wetar, Alor dan tiba di Timor. Barang-barang yang diperdagangkan adalah tenun kasar, manik-manik, timah, alat-alat pertanian, seperti kapak, pisau, pedang, dan paku. Barang-barang itu kemudian dipertukarkan dengan kayu cendana, yang kemudian diperdagangkan oleh orang-orang Banda ke pedagang Gujarat dan Arab. Selain itu, pedagang Banda datang ke Timor juga untuk membeli budak. Perdagangan budak sangat ramai di seluruh kepulauan ini. Budak-budak yang dibeli pedagang Banda tersebut kemudian dipekerjakan di kebun-kebun pala. Kebanyakan, budak-budak itu berasal dari pedalaman Kepulauan Sunda Kecil, seperti Sumbawa dan Bali.

Kini, jejak Jalur Rempah di Kepulauan Sunda Kecil ini bisa dilihat melalui pelabuhan-pelabuhan peninggalan masa lalu. Pelabuhan-pelabuhan tersebut, antara lain ialah Ampenan dan Pelabuhan Buleleng.

 

_________

Sumber:

Razif & M. Fauzi. 2017. Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Adat Abad X-XVI: Kepulauan Banda, Jambi dan Pantai Utara Jawa. Direktorat Sejarah.

_________

Naskah: Tiya S.

Editor: Doni Ahmadi

Bagikan:

Artikel Populer

Hadirkan Pakar dari Berbagai Disiplin Ilmu, Kemedikbudristek Gelar Kajian Mendalam tentang Ketersambungan Jalur Rempah Nusantara dengan India, Timur Tengah, dan Cina

29 Agustus 2023

Memaknai Kembali Rumah Indonesia dari Rumah di Tanah Rempah

7 Maret 2021

Malam Puncak Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia

30 Oktober 2021

Artikel Terbaru

Muhibah Budaya Jalur Rempah di Sabang, Nostalgia KRI Dewaruci Menyambangi Perairan Aceh 70 Tahun Lalu

23 Juni 2024

Kemendikbudristek Lepas Pelayaran Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024

8 Juni 2024

Jelang Muhibah Budaya Jalur Rempah 2024, Kemendikbudristek Siapkan Pembekalan Materi Kepada Laskar Rempah

6 Juni 2024

Artikel Terkait

...

Malam Puncak Festival Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia

admin

30 Oktober 2021

...

Nelayan dan Perahunya di Pantai Utara Jawa

Yogi Susatyo

21 April 2023

...

Merayakan Sejarah Jalur Rempah di Balik Hidangan Lebaran

admin

10 Januari 2022