Artikel

Pelajaran Toleransi dari Batik Tiga Negeri

admin | 28 Februari 2022

Indonesia diberkahi Tuhan tanah yang mampu menumbuhkan aneka tanaman rempah. Ragam hasil tanaman ini, telah menjadi komoditas mahapenting dalam jalinan tali-temali perniagaan dunia sejak ribuan tahun silam. Ada suatu masa ketika rempah dihargai setara dengan harga emas dan permata. Pada abad ke-14, di Eropa 0,45 kilogram pala dihargai setara tujuh ekor lembu gemuk.

Cerita keagungan rempah tak selesai pada harganya yang fantastis berabad lampau. Keluhuran rempah juga hadir pada tapak-tapak sejarah yang ditinggalkannya ketika ia didistribusikan ke seluruh penjuru Nusantara dan dunia. Dari tempat asalnya, rempah diperjalankan menggunakan kapal-kapal melintasi pulau-pulau dan menyinggahi banyak pelabuhan.

Nyatanya, perjalanan rempah kala itu bukan sekadar perjalanan perniagaan. Lebih daripada itu, perjalanan rempah adalah laku budaya. Bagaimana rempah dan budaya dapat berkelindan, tentu tak dapat dilepaskan dari sosok-sosok yang memperniagakannya. Ya, perdagangan rempah melibatkan orang-orang dari beragam suku di Nusantara, juga pedagang dari berbagai negeri. Di setiap pelabuhan yang mereka singgahi, mereka saling bertemu dan berinteraksi. Pembauran budaya pun menjadi sebuah keniscayaan, membentuk peradaban Nusantara yang terus berkembang dan menjadi legasi dengan nilai tiada banding hingga hari ini.

Jalur pelayaran dan perdagangan rempah Nusantara yang pada masa silam menghubungkan kota-kota dan ragam budaya itulah, yang hari ini kita kenal sebagai Jalur Rempah. Berbicara mengenai rajutan benang-benang sejarah Jalur Rempah, Lasem menjadi salah satu simpul yang tak mungkin dilepaskan, apalagi ditanggalkan.

Lasem adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah. Sebelum menjadi kota yang kita kenal hari ini, Lasem telah melewati perjalanan sejarah yang sangat panjang dan dinamis. Catatan sejarah mengabarkan bahwa Lasem telah dihuni manusia sejak masa prasejarah. Dalam perkembangannya, Lasem pernah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan beberapa kerajaan.

Lasem telah menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Majapahit setidaknya sejak 1351 Masehi (1273 Saka). Ketika itu, Majapahit diperintah oleh Raja Hayam Wuruk, sedangkan Lasem diperintah oleh Dewi Indu, adik sepupu Hayam Wuruk. Setelah runtuhnya Majapahit, lalu berdiri Kerajaan Demak, Lasem pun menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Demak. Ketika Kerajaan Demak runtuh, kemudian muncul Kerajaan Pajang, Lasem berada di bawah kekuasaan Kerajaan Pajang. Ketika kekuasaan Pajang digantikan Mataram Islam, Lasem pun menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Mataram Islam.

Sebagai salah satu kota pelabuhan di pantai utara Jawa, di masa lalu Lasem memegang peran penting dalam perniagaan rempah Nusantara. Pelabuhan Lasem ramai disinggahi kapal-kapal dagang dari berbagai wilayah Nusantara. Kapal dagang dari negeri-negeri asing juga banyak yang singgah di pelabuhan Lasem, seperti Tiongkok, India, dan Arab. Mereka datang ke Lasem untuk menjual barang-barang dagangan tertentu. Selain menjual, di Lasem mereka juga membeli barang-barang dagangan untuk dijual di tempat lain.

Kapal-kapal dagang yang datang dari Malaka biasanya membawa barang-barang, seperti kain dari India dan keramik dari Tiongkok. Sementara itu, kapal-kapal dagang dari Nusantara bagian timur membawa aneka rempah. Dari Lasem, kapal-kapal dagang tersebut membawa berbagai produk pertanian dan hasil laut, seperti beras, jagung, kapas, garam, dan ikan kering.

Orang-orang yang datang ke Lasem tidak semuanya sekadar singgah. Banyak di antara mereka yang akhirnya menetap di sana. Jadilah Lasem dihuni orang-orang dari berbagai bangsa dan suku. Salah satu etnik yang banyak menetap di Lasem adalah etnik Tionghoa. Bahkan, pada abad 14 hingga 15, Lasem menjadi salah satu tempat berkembangnya pendatang Tiongkok terbesar di Jawa.

Orang-orang Tionghoa yang menetap di Lasem tentu membawa serta kebudayaan dari tanah leluhurnya. Kebudayaan bernuansa Tiongkok pun, akhirnya berkembang di Lasem dan memperkaya serta mempercantik wajah kota ini. Rupa-rupa kebudayaan bernuansa Tiongkok yang berkembang di Lasem tersebut, seperti bangunan tempat tinggal dan kelenteng. Kentalnya nuansa budaya Tiongkok di Lasem inilah yang membuat Lasem, kemudian dijuluki sebagai Tiongkok Kecil.

Selain permukiman pecinan dengan bangunan khas Tionghoa dan kelenteng, masih ada wujud kebudayaan lain yang berkembang di Lasem, yang mendapatkan pengaruh dari budaya Tiongkok, yaitu batik. Berdasarkan catatan sejarah, perkembangan seni batik di Lasem memiliki pertalian erat dengan kedatangan rombongan Laksamana Cheng Ho ke Lasem pada 1413 Masehi. Di dalam rombongan itu, ada seorang anak buah Laksamana Cheng Ho yang bernama Bi Nang Un.

Ketika menginjakkan kaki di tanah Lasem, Bi Nang Un sedemikian terpikat pada keindahan alam tempat itu dan keramahan para penduduknya. Bi Nang Un pun memutuskan untuk menetap di Lasem. Ia mengajak serta sang istri yang bernama Na Li Ni. Setelah bermukim di Lasem, Na Li Ni mulai membatik motif-motif bernuansa Tiongkok, seperti burung hong, naga, banji, kupu-kupu, bunga seruni, singa, dan bunga teratai. Motif-motif inilah yang kemudian menjadi motif khas batik Lasem, dengan warna dominan berupa warna merah darah ayam (abang getih pitik).

Seiring berjalannya waktu, batik Lasem terus berkembang dan mencapai masa kejayaan. Batik Lasem dipasarkan ke seluruh wilayah Nusantara. Bahkan, pada awal abad ke-19, batik Lasem dipasarkan hingga mancanegara, seperti Thailand dan Suriname.

Narasi batik Lasem takkan menjadi kisahan yang paripurna tanpa menyebut nama batik tiga negeri di dalamnya. Batik tiga negeri? Apakah gerangan itu? Mengapa namanya terdengar sarat enigma?

Sejatinya, batik tiga negeri bukan sekadar lembaran-lembaran kain bergambar. Batik tiga negeri laksana helaian-helaian kanvas yang menghadirkan lukisan wajah Nusantara di masa silam. Merah, biru, dan cokelat soga yang menjadi identitas batik tiga negeri bukan sekadar komposisi warna yang dipilih demi terciptanya keindahan sebuah karya seni. Motif yang disuguhkan pada batik ini pun tak semata susunan gambar yang ditorehkan demi memuaskan hasrat visual pembuatnya. Gambar dan warna itu adalah bahasa yang menyimpan banyak makna.

Telah dikenal sejak akhir abad ke-19, batik tiga negeri disebut-sebut sebagai hasil daya cipta nan gemilang dari para pembatik peranakan Cina di wilayah pesisir utara Jawa dan Solo. Batik tiga negeri adalah jenis wastra yang dibangun dari elemen-elemen yang sarat keunikan, lalu untuk kurun waktu yang lama mampu berdiri layaknya bangunan kukuh dengan fondasi berupa spirit menghargai keragaman.

Proses pembuatan batik ini sangat tidak mudah. Ada tahapan-tahapan tak biasa yang harus dilewati untuk menghasilkan selembar wastra bernama batik tiga negeri. Tanpa kehendak yang kuat dan kerelaan tak terbatas untuk mau berlelah-lelah di setiap prosesnya, mustahil batik tiga negeri tercipta.

Betapa tidak, pewarnaan batik ini harus dilakukan di tiga kota. Pewarnaan pertama untuk mendapatkan warna merah dilakukan di Lasem. Dari Lasem, kain batik dibawa ke Pekalongan untuk diberi warna biru. Perjalanan belum usai. Masih ada warna ketiga yang harus dihidangkan pada batik ini, yakni warna cokelat soga, yang proses pewarnaannya dilakukan di Solo. Proses pembuatan batik yang melibatkan tiga kota inilah yang membuat kain batik ini dikenal sebagai batik tiga negeri.

Sungguh perjalanan panjang untuk proses pewarnaan satu jenis wastra. Di tengah keterbatasan sarana transportasi masa itu, tak kurang dari 650 kilometer ditempuh demi merangkai tiga warna dalam susunan nan harmonis. Kabarnya, pengiriman batik dari Solo ke Lasem, dilanjutkan ke Pekalongan, hingga kembali ke Solo menghabiskan waktu sekitar tiga bulan.

Pewarnaan hanyalah salah satu tahapan dalam pembuatan batik tulis. Masih banyak tahapan lainnya, mulai penyiapan kain (pemotongan, pencucian, penganjian, dan penghalusan permukaan kain), hingga pemalaman (ngrenreng, ngisen-iseni, nerusi, nembok, nonyok). Sedemikian banyak pekerjaan yang harus dituntaskan. Maka, dapat dibayangkan betapa banyak energi yang harus disiapkan, semangat yang harus didedikasikan, dan waktu yang diperlukan sebelum batik tiga negeri dapat menjura di hadapan para pencintanya.

Pewarnaan kain batik yang dilakukan di tiga kota tentu saja bukanlah tindakan yang niralasan. Atau, sebatas ambisi untuk dapat mencatatkan diri di panggung sejarah sebagai pembatik yang mampu melahirkan mahakarya dari pemikiran out the box. Sama sekali tidak seperti itu. Pewarnaan kain batik yang membutuhkan banyak waktu dan biaya ini dilakukan atas dasar keyakinan yang solid dan pengetahuan yang mumpuni.

Pewarnaan batik tiga negeri tidak dapat dilakukan di satu tempat karena adanya keyakinan bahwa kandungan mineral pada air di satu daerah berbeda dengan daerah lainnya. Perbedaaan kandungan mineral inilah yang membuat efek pewarnaan pada kain batik yang dilakukan di satu daerah, hasilnya akan berbeda dengan jika dilakukan di tempat lain.

Para pembuat batik tiga negeri meyakini jika pencelupan warna tidak dilakukan di tempat yang seharusnya, hasilnya tidak akan sempurna. Misalnya, jika pencelupan warna merah tidak di lakukan di Lasem, tidak akan didapat warna merah khas Lasem. Begitu pula dengan pewarnaan biru dan cokelat soga. Jika tidak dilakukan di Pekalongan dan Solo, tidak akan didapatkan warna yang sempurna. Dan, faktanya memang seperti itu. Warna abang getih pitik khas Lasem misalnya, hanya dapat dibuat oleh para pembatik di Lasem. Warna ini tidak dapat ditiru daerah-daerah lain.

Dahulu, bahan-bahan yang digunakan untuk membuat pewarna batik tiga negeri adalah bahan alami. Pewarna merah dari Lasem dibuat dari mengkudu dicampur minyak jarak. Pewarna biru dari Pekalongan dibuat dari bahan daun indigo. Sementara itu, pewarna cokelat soga dari Solo dibuat menggunakan kayu pohon soga.

Kemegahan batik tiga negeri hadir bukan hanya karena perjalanannya menyinggahi tiga kota. Bagaimana kain batik ini mengusung semangat kebhinekaan adalah sisi lain yang menjadikan batik tiga negeri diakui sebagai sebuah mahakarya. Entahlah, rasanya sulit menemukan kata pujian yang sepadan untuk disematkan kepada para penggagas lahirnya batik tiga negeri. Kecerdasan dan semangat mereka untuk merangkum nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan dalam lembaran-lembaran kain batik, sungguh bukan sebuah kualitas main-main dan tak sembarang orang memilikinya.

Kain batik tiga negeri merupakan pengejawantahan sangat gamblang dari akulturasi beberapa budaya. Warna merah darah ayam (abang getih pitik) dari Lasem merupakan cerminan budaya Tionghoa. Dalam tradisi Tionghoa, warna merah menjadi simbol kebahagiaan dan kegembiraan. Itulah sebabnya, warna merah sering dikenakan dalam acara pernikahan. Warna biru yang didapatkan di Pekalongan merupakan pengaruh kebudayaan Belanda. Sementara itu, warna cokelat soga berasal dari budaya Jawa.

Kelindan harmonis nan artistik beberapa budaya yang berbeda juga tampak begitu terang benderang pada motif batik tiga negeri. Motif burung hong, naga, bunga teratai, bunga mawar atau koin uang adalah representasi dari kebudayaan Tionghoa. Kebudayaan Belanda mewarnai dengan motif bunga tulip. Kebudayaan Jawa pun hadir melalui motif parang dan kawung.

Benih akulturasi budaya dan semangat menghargai keragaman, bahkan telah tumbuh jauh sebelum batik tiga negeri ada sebagai sebuah produk kain batik. Kita dapat menemukannya pada sosok-sosok yang tidak terlibat langsung dalam pembuatan batik tiga negeri, tetapi kontribusinya pada produksi kain batik ini tak dapat dipandang sebelah mata. Batik tiga negeri merupakan kreasi pembatik peranakan Tionghoa di wilayah pesisir utara Jawa dan Solo. Sementara itu, kain yang digunakan untuk membuat batik ini didatangkan dari Inggris atau India.

Semua orang yang bekerja untuk terciptanya batik tiga negeri, dari hulu hingga hilir ibarat mata rantai yang terangkai dalam satu kesatuan. Jika salah satu mata rantai terlepas, batik tiga negeri yang mengagumkan itu niscaya tak akan pernah ada. Kerja sama di antara mereka dapat terjalin dengan baik, hingga memberikan hasil yang juga baik, tentu saja karena toleransi yang ditegakkan di atas aneka perbedaan di antara mereka. Hanya berkat kesanggupan untuk saling bertenggang rasa dan kemampuan memahami perbedaan yang telah dilakoni pendahulu kitalah, kini Indonesia mewarisi sebuah mahakarya bernama batik tiga negeri.

Ada suatu masa ketika batik tiga negeri menjadi primadona. Batik tiga negeri menjadi kain dengan harga jual selangit. Tidak heran, kain batik tiga negeri menjadi pilihan orang-orang kaya dari dari Arab, Belanda, dan Tiongkok. Batik tiga negeri juga menjadi barang berharga yang dijadikan seserahan dalam acara pernikahan.

Sayangnya, kejayaan batik tiga negeri telah berlalu. Bahkan, saat ini batik tiga negeri terancam punah karena perusahaan batik yang membuat batik ini sudah banyak yang berhenti memproduksinya. Jika suatu saat nanti batik tiga negeri benar-benar tidak ada lagi, sungguh ini akan menjadi kerugian amat besar bagi bangsa Indonesia. Hilangnya warisan agung menjadi kerugian besar pertama. Budaya adalah jembatan penyambung masa lampau dan masa kini. Ketika jembatan itu runtuh, tak ada lagi jalan untuk menyusuri tapak-tapak sejarah masa silam. Saat sejarah tak lagi dihikmati, bisa jadi kita akan kehilangan arah. Sebab, dari sejarah masa lalu kita dapat memeluk ajaran-ajaran luhur yang mampu menuntun kehidupan kita di masa kini dan masa depan ke arah yang lebih baik.

Kerugian nasional lain yang akan kita tanggung jika batik tiga negeri tidak lestari adalah rumpangnya salah satu titik Jalur Rempah Nusantara. Batik tiga negeri bukan hanya mengajarkan kita tentang indahnya toleransi atau eloknya keragaman. Batik tiga negeri yang lahir dari salah satu titik Jalur Rempah juga menjadi pengingat betapa rempah adalah karunia tiada banding dari Tuhan untuk Nusantara.

Selama ribuan tahun, rempah telah ikut menjaga kesehatan masyarakat Nusantara, memelihara kecantikan para wanitanya, dan memanjakan lidah mereka dengan aneka cita rasa penggugah selera. Perdagangan rempah adalah saksi betapa Indonesia adalah negara besar, dengan ribuan pulau. Perdagangan rempah mengabarkan kepada dunia kekuatan bahari negeri kita, dengan leluhur kita yang pelaut ulung dan kapal-kapal tangguh buatan mereka. Perdagangan rempah pula yang membentuk identitas Indonesia sebagai negara dengan kekayaan budaya yang sulit dicari tandingannya di belahan bumi mana pun.

Rempah bukanlah masa lalu. Rempah adalah masa depan kita. Masa depan Indonesia. Dengan kerja keras dari semua elemen bangsa, kejayaan rempah Indonesia dapat dikembalikan. Hingga rempah mampu menjadi pilar penopang kesejahteraan seluruh anak bangsa. Jalur Rempah adalah cawan kebhinekaan yang menaungi rupa-rupa budaya menjadi identitas Nusantara yang elok dan mampu menumbuhkan semangat nasionalisme. Sedemikian berharganya makna Jalur Rempah bagi kelangsungan hidup dan terjaganya identitas Indonesia. Oleh karena itu, setiap unsurnya harus dihargai, dijaga, dan dilestarikan. Termasuk batik tiga negeri dari tanah Lasem yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari kisah Jalur Rempah Nusantara.

 

***

 

Daftar Pustaka

Malagina, Agni. 2018. “Adiwastra Tiga Negeri”. National Geographic Indonesia Februari 2018. Vol. 14. Jakarta: Kompas Gramedia.

Nurhajarini, Dwi Ratna, Ernawati Purwaningsih, dan Indra Fibiona. 2015. Akulturasi Lintas Zaman di Lasem: Perspektif Sejarah dan Budaya (Kurun Niaga-Sekarang). Yogyakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta.

Pradjoko, Didik dan Bambang Budi Utomo. 2013. Atlas Pelabuhan-Pelabuhan Bersejarah di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Razif dan M. Fauzi. 2017. Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Abad V-XVI: Kepulauan Banda, Jambi, dan Pantai Utara Jawa. Jakarta: Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Riyanto, Sugeng, Agni Sesaria Mochtar, Hery Priswanto, Alifah, dan Putri Novita Taniardi. 2020. Lasem dalam Rona Sejarah Nusantara: Sebuah Kajian Arkeologis. Yogyakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan, Pusat Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Unjiya, M. Akrom. 2014. Lasem Negeri Dampoawang: Sejarah yang Terlupakan. Yogyakarta: Salma Idea. Jawapos.com. (2020, 19 September). 

Jalur Rempah, Masa Lalu untuk Masa Depan Indonesia Diusulkan ke UNESCO sebagai Warisan Dunia. Diakses pada 24 Agustus 2021, dari https://www.jawapos.com/nasional/19/09/2020/jalur-rempah-masa-lalu-untuk-masa-depan-indonesia/Jelajah.kompas.id. 

Kisah Aroma Pemikat Dunia. Diakses pada 24 Agustus, dari https://jelajah.kompas.id/jalur-rempah/baca/kisah-aroma-pemikat-dunia/

_______

Naskah ini merupakan karya 10 pemenang terbaik dalam Lomba Penulisan Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia 2021. Naskah telah melewati proses penyuntingan untuk kepentingan publikasi di laman ini.

_______

Sukini, seorang penulis dan pegiat kebudayaan.

Editor: Tiya S.

Sumber gambar: Indaningsih Juanda/Shutterstock

Bagikan:

Konten Populer

Jalur Rempah, Jalur Budaya, dan Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022

30 Mei 2022

Sastra untuk Rempah dan Nusantara

17 Januari 2022

Dorong Semangat Gotong Royong, Kemendikbudristek Gandeng Lintas Sektor Sukseskan Muhibah Budaya Jalur Rempah

11 Juni 2022

Konten Terbaru

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

26 Januari 2023

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

19 Januari 2023

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

12 Januari 2023

Konten Terkait

...

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

Royas Aulia Subagja

26 Januari 2023

...

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

Achmad Khalik Ali

19 Januari 2023

...

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

merry kurnia

12 Januari 2023