Artikel

Dari Pijakan Awal Rempah Menjadi Sejarah Kemaritiman Nusantara

admin | 29 Maret 2022

Rempah memiliki aroma yang memikat bangsa-bangsa asing, memiliki cita rasa yang khas dari Kepulauan Maluku. Aroma yang menembus indra penciuman hingga ke benua biru. Rempah berguna untuk mengembangkan ekonomi global serta sebagai obat herbal dan pengawet makanan. Kejayaan rempah-rempah tak lepas dari berdirinya kerajaan pada masa itu. 

Gambaran tentang nenek moyang kita tercantum dari lirik lagu “Bangsa Penakluk” yang didendangkan oleh Iksan Skuter. Dalam lirik tersebut, disebutkan bahwa nenek moyang kita adalah orang yang tak gentar menerjang lautan dan mengalahkan ombak. Hidupnya seperti batu karang yang tegar, kokoh, dan mampu bertahan menghadapi zaman. Ia adalah bangsa penakluk yang tak mudah menyerah dan takkan pernah takluk. Ia adalah mercusuar dunia, sang penjelajah benua samudra yang tidak terkalahkan. Nenek moyang bangsa Indonesia dahulunya adalah seorang pelaut. Namun, sayang kejayaan Indonesia di laut hanya terjadi di masa Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya saja. 

Sejumlah bukti sejarah menyebutkan bahwa sejak awal milenium pertama masehi, bangsa Indonesia telah mampu mengadakan perjalanan jarak jauh melalui jalur laut dengan menyeberangi samudra raya. Ahli sejarah Robert Dick-Read dalam The Phantom Voyagers: Evidence of Indonesian Settlement in Africa in Ancient Time mencatat adanya jejak-jejak kehadiran budaya Nusantara di Madagaskar dan Afrika Selatan yang masih bisa ditelusuri hingga saat ini. Ia juga menyatakan bukti-bukti sejarah yang menunjukkan adanya jejak pengelana (phantom voyagers) dari Indonesia yang telah tiba di bumi Afrika jauh di masa lampau. Bahkan, jauh sebelum pelayaran Cheng Ho atau Columbus, para pengelana laut Nusantara diduga telah melintasi setidaknya sepertiga luasan bumi ini  (Administrator, 2019). 

Dikutip dari KBBI, kata “maritim” adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan atau berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan di laut. Kawasan perairan dapat disebut sebagai alat komunikasi pemersatu bangsa. Sejarah mencatat kerajaan pada masa itu kerap dilekatkan dengan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, hingga terdengar Sumpah Palapa yang dikemukakan oleh Gajah Mada. Kemudian, muncul Undang-Undang Malaka dan disusul Hukum Laut Amanna Gappa. Hukum laut ini merupakan naskah perjanjian dagang bebas dengan etika tertentu yang telah disepakati (Hamid, 2015).

Sebelum kedatangan bangsa Barat, nenek moyang kita dahulu ialah pelaut yang luar biasa mengubah pandangan masyarakat terhadap laut. Rata-rata orang Asia Tenggara jauh dengan laut dan berspekulasi bahwa laut itu menyeramkan, banyak mitos yang beredar jika laut merupakan hal yang paling sulit ditaklukan. Namun, silih bergantinya waktu, pandangan laut mulai berubah. Tak lagi menyeramkan, tapi menguntungkan. Dengan laut, kita mempunyai keberagaman budaya. 

Saat mengembangkan suatu jaringan dalam hubungan maritim yang lebih baik, perlu didukung oleh kemajuan teknologi kapal, keahlian navigasi, dan suatu enterprising spirit yang besar. Hal ini berkaitan dengan perdagangan dan pelayaran Indonesia pada zaman bahari yang sudah maju dan berkembang. Terbukti adanya peninggalan bahari yang menunjukkan perbedaan antara negeri-negeri "di atas angin" dan negeri "di bawah angin" yang terletak di sebelah timur. Di sinilah orang-orang Indonesia sadar akan lautan yang luas dan bisa dimanfaatkan atau dikelola dengan baik oleh masyarakat. Bentuk perubahan ini  terlihat pada pola pikir laut sebagai pemisah, menjadi laut sebagai penghubung (Lapian, 2017).

Seperti yang disampaikan oleh Dr. Restu Gunawan dalam podcast bulan Januari 2021 yang bertajuk "Jalur Rempah Bahari", rempah adalah komoditas yang dicari bangsa Eropa. Pala, cengkih, dan lada merupakan rempah bernilai tinggi. Sebutir pala bisa membeli pulau, bayangkan seberapa besar pengaruh rempah kala itu. Bangsa Eropa datang ke Nusantara karena rempah, Tiongkok menjalin kerja sama dengan Nusantara karena rempah. Saat itu, pusat kejayaan berada di rempah, ibaratnya rempah adalah emas yang memikat para petualang. 

Rempah banyak tumbuh di Kepulauan Banda sampai di pulau kecil bernama Run. Sebagai daerah satu-satunya penghasil pala, Banda banyak dikunjungi pedagang lokal hingga lintas bangsa. Hal ini sekaligus membuat Banda menjadi tempat pertemuan banyak manusia dari berbagai agama, bahasa, dan budaya yang saling bertukar. Pada abad ke-14, keberadaan pala begitu penting dan dipercaya ampuh sebagai obat dari wabah mematikan yang paling ditakuti. Tidak mengherankan jika bangsa Portugis, Spanyol, dan Belanda mengarungi samudra dengan mengerahkan pelaut terbaik untuk bisa berlabuh di Banda 

Kemunculan bangsa Barat yang ingin memperoleh rempah bersamaan dengan dibentuknya VOC pada abad 17 dan 18. Adanya Hak Oktroi tahun 1602 memberi VOC wewenang yang luas di seberang laut. Lebih tepatnya, terbentang dari Tanjung Harapan sampai Selat Magellan. Kedatangan para pedagang kolonial asing ini, dapat diartikan sebagai sebuah proses perubahan dan tampak jelas pentingnya peranan wilayah-wilayah pada masa itu. 

Nusantara bagian Timur merupakan lumbungnya rempah-rempah, seperti pala, cengkeh, dan kayu manis. Kondisi geografis inilah yang membuat jaringan transportasi laut memudahkan pendistribusian hasil komoditi unggulan. Sama halnya dengan Nusantara bagian Barat yang merupakan sumber lada dan hasil alam lainnya. Ini dapat dikatakan menjadi awal terbentuknya kolonial dari berbagai bangsa yang memerlukan tempat untuk basis usaha  dagang mereka.  Era kolonial inilah kemudian berkembang tidak hanya sebatas pada kegiatan ekonomi, tetapi juga politik sebagai basis penguasaan sumber-sumber atau jalur komersial. Hal ini ditandai dengan berdirinya benteng-benteng pertahanan di pusat-pusat pemerintahan yang terletak di daerah strategis dan dekat dengan jalur transportasi laut maupun sungai untuk memudahkan aktivitas niaganya. Ekspansi ekonomi yang pada awalnya menjadi tujuan utama datang ke Nusantara, akhirnya berkembang menjadi politik. (Harkantiningsih, 2005).

Dengan penuh kesadaran, rempah merupakan bentuk diplomasi. Hal ini merujuk pada era Sriwijaya dan Nalanda. Pada masanya, Sriwijaya dan Nalanda membangun hubungan cultural diplomacy yang saling menguntungkan. Sriwijaya melakukan diplomasi 'tangan di atas'  dengan sangat "royal" dan memberikan sebuah bangunan biara kepada Nalanda. Lewat pertukaran pelajar pula, hubungan Sriwijaya dan Nalanda terjalin sangat baik. Model cultural diplomacy yang terjadi pada era Sriwijaya tersebut akan menjadi rujukan penting diplomasi budaya jalur rempah, yaitu budaya berbasis kontribusi dengan lebih banyak memberi melalui pertukaran petani, pertukaran ilmuwan, dan penulis (Wirajuda). 

Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit juga pernah mengalami kemunduran dan keruntuhan. Awal mula kemunduran Sriwijaya ialah ekspansi perdagangan dan perkapalan langsung dari Tiongkok sehingga membuat emporium-emporium di selat tidak lagi menjadi bagian vasal Sriwijaya. Sementara itu, runtuhnya Majapahit terkait dengan dinamika ekonomi maritim awal abad ke-15. Sektor ini tidak mendapat perhatian penuh dari istana (Hamid, 2015). Ini pekerjaan rumah untuk masa sekarang agar rempah dan kemaritiman yang terikat seperti simpul menguntungkan, tidak menjadi malapetaka seperti yang terjadi di masa kolonial maupun berakhirnya kerajaan besar Nusantara.

Indonesia dijadikan sebagai poros maritim dunia dengan wilayah perairan yang sangat luas dan terdapat hasil bumi rempah yang berpengaruh dalam bumi pertiwi ini.. Kedatangan bangsa asing untuk mencari rempah dan mengakibatkan penjajahan memberikan kita pelajaran besar. Pelajaran bagaimana kita bersikap terhadap kekayaan alam kita serta potensi kemaritiman yang luar biasa besar. Budaya yang masuk bersama penjajahan serta budaya yang kita miliki, mengajarkan kita tentang toleransi dan memperkaya potensi yang dapat dimanfaatkan di masa depan.

Dengan mengangkat rempah dan membawanya ke kancah internasional supaya diakui secara global, akan membawa harapan baru untuk kemajuan Indonesia. Sejarah rempah dan kemaritiman meninggalkan jejak budaya yang berbekas pada masyarakat Indonesia, seperti terlihat dalam arsitek, kuliner, seni, dan budaya lainnya. Masa lampau dan masa sekarang saling berkaitan. Kita sebagai generasi muda harus melestarikan dan membudidayakan rempah menjadi lebih unggul dari masa lalu. Oleh karena itu, perlu adanya kesadaran akan sejarah. Masa lalu bukanlah akhir dari segalanya, tetapi menjadi awal dari sebuah peradaban.

 

 

_______

Sumber Kepustakaan

Hamid, Abdurahman. 2015. Sejarah Maritim Indonesia.  Yogyakarta: Penerbit Ombak

Lapian, Adrian B. 2017. Pelayaran dan Perniagaan Nusantara. Depok: Komunitas Bambu

Milton Giles. 2015. Pulau Run: Magnet Rempah-rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan. Jakarta : PT Pustaka Alvabet

Ahmadi, Doni. 2021. Butuh Resep Minuman Rempah Saat Pandemi? Yuk, Simak!. Diakses tanggal 15 September 2021 pukul 12.45 WIB dari https://jalurrempah.kemdikbud.go.id/artikel/butuh-resep-minuman-rempah-saat-pandemi-yuk-simak

Harkantiningsih, Naniek. 2014. Pengaruh Kolonial di Nusantara. Diakses tanggal 15 September 2021 pukul 14.13 WIB dari https://jurnalarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/kalpataru/article/view/51/27

Gaastra,F,S. Organisasi VOC. Diakses tanggal 15 September 2021 pukul 15.00 WIB dari https://sejarahnusantara.anri.go.id/media/userdefined/pdf/brillvocinventaris_gaastraid.pdf

_______

Naskah ini merupakan karya pemenang pilihan dalam Lomba Penulisan Bumi Rempah Nusantara untuk Dunia 2021 kategori Pelajar. Naskah telah melewati proses penyuntingan untuk kepentingan publikasi di laman ini. Judul asli naskah ini adalah “Dari Pijakan Awal Rempah Menjadi History Jejak Kemaritiman”.

_______

Penulis:  Elok Mahardika A.S., SMA Negeri 1 Kutasari 

Editor: Tiya S.

Sumber gambar: Linschoten, J. H. van (1596). Itinerario,Voyage ofte Schipvaert naer Oost ofte Portugaels Indien (Amsterdam: Cornelis Claesz) dalam Pameran Jalur Rempah

Bagikan:

Konten Populer

Laskar Rempah Mengenal Cengkeh sebagai Tanaman Budidaya dan Budaya

16 Juni 2022

Dorong Semangat Gotong Royong, Kemendikbudristek Gandeng Lintas Sektor Sukseskan Muhibah Budaya Jalur Rempah

11 Juni 2022

Online Marketplace Masa Lalu: Kisah Bandar di Sunda Kelapa dan Banten

7 Januari 2021

Konten Terbaru

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

26 Januari 2023

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

19 Januari 2023

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

12 Januari 2023

Konten Terkait

...

“Jampi” Jawa, Warisan Leluhur Keraton Solo

Achmad Khalik Ali

19 Januari 2023

...

Akulturasi Keroncong di Kampung Musik Desa Selat Nasik

Royas Aulia Subagja

26 Januari 2023

...

Kabar Rempah dari Pantai Barat Sumatra: Tautan Masyarakat Pesisir, Pedalaman, dan Bangsa Asing

merry kurnia

12 Januari 2023